- Warga Yogyakarta menghadapi kesulitan ekonomi akibat UMR rendah, ancaman PHK, dan prediksi guncangan struktural global 2026.
- Pekerja SKT seperti Zudiyati merasakan dampak penurunan produksi, perubahan fokus kualitas, dan hilangnya pendapatan lembur.
- Ketidakpastian kerja dialami pekerja lain seperti Yosua, yang sulit mencari pekerjaan layak setelah mengalami PHK akhir 2025.
SuaraJogja.id - Awal tahun terasa berat bagi banyak warga Yogyakarta. Di tengah guncangan perekonomian di tingkat nasional, Upah Minimum Regional (UMR) yang masih saja rendah hingga ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), mereka berusaha bertahan hidup.
Meski berat, Zudiyati, salah seorang karyawan Sigaret Kretek Tangan (SKT) mengaku tak ada pilihan lain selain tetap bekerja demi menopang penghasilan keluarga. Apalagi isu PHK massal pada 2026 terus mengemuka. Industri rokok disebut-sebut merupakan sektor yang rentan terkena PHK.
Belum lagi di tingkat global, World Economic Forum (WEF) menempatkan Indonesia dalam daftar 27 negara yang berpotensi mengalami guncangan struktural ekonomi dan sosial dalam tiga tahun ke depan. Guncangan ini diperkirakan berdampak langsung pada dunia kerja, terutama sektor-sektor padat karya.
Tuntutan buruh dan pekerja di Yogyakarta untuk mendapatkan kehidupan layak dan kenaikan UMP atau UMR tak pernah berbuah manis. Masih saja banyak buruh dan pekerja di kota ini yang dibayar tak layak dan minim tunjangan.
"Aku udah kerja di sini dari 2013, jadi ya udah sekitar 12 tahunan lah, tapi masih juga belum cukup beli keperluan rumah," papar Zudiyati di Yogyakarta, Kamis (22/1/2026).
Perempuan 39 tahun ini menyebut, dia sebenarnya sudah akrab dengan naik-turun produksi. Namun situasi ekonomi setahun terakhir ia rasakan berbeda.
"Kerasa banget bedanya sekarang sama dulu, mau stres tapi ya gimana lagi, nanti ndak bisa makan," ujarnya.
Dulu target produksi menjadi tolok ukur utama. Saat itu, kerja panjang hingga sore bukan beban, justru peluang.
Uang lembur menjadi penyangga ekonomi rumah tangga. Namun kini suasananya berubah karena roduksi menurun, order tak stabil dan tekanan kerja bergeser dari kuantitas ke kualitas.
Baca Juga: Target PAD Pariwisata Bantul 2026: Realistis di Tengah Gempuran Gunungkidul dan Protes Retribusi
Menurut Zudiyati, penyebabnya berlapis. Selain karena persaingan industri rokok semakin ketat, rokok ilegal makin marak. Di sisi lain kondisi ekonomi membuat harga rokok kian mahal.
Konsumen pun beralih ke produk yang lebih murah. Dampaknya pabrik tempat ia bekerja harus menyesuaikan strategi.
"Sekarang tuh bukan lagi kejar jumlah, tapi kualitas. Harus perfect, harus disiplin banget," ungkapnya.
Perubahan itu menciptakan tekanan baru di lantai produksi. Di industri rokok, bukan hanya PHK yang kasat mata, namun juga seleksi alam. Banyak pekerja baru tak sanggup bertahan dengan disiplin ketat dan target presisi.
"Sehari bisa 15 orang masuk, tapi yang keluar juga banyak. Bukan PHK resmi, tapi resign sendiri karena nggak kuat," ungkapnya.
Ia sendiri masih bertahan. Sistem upah borongan dengan target harian 3.500 batang tetap berjalan, namun tanpa lembur, penghasilannya jadi terasa pas-pasan. Jam kerja yang kini berakhir lebih awal membuat ruang gerak ekonomi menyempit.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 5 Rekomendasi HP RAM 8GB Rp1 Juta Terbaik yang Bisa Jadi Andalan di 2026
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
Pilihan
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Izin Tambang Emas Martabe Dicabut, Agincourt Resources Belum Terima Surat Resmi dari Pemerintah
Terkini
-
Ekonomi Tak Jelas, Gaji Rendah, Warga Jogja Berjuang untuk Hidup
-
Alur Lengkap Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman yang Libatkan Eks Bupati Sri Purnomo
-
Kotak Berisi Kain Putih Mirip Pocong Gegerkan Warga Kulon Progo, Polisi Pastikan Bukan Bayi
-
Isi Chat WA Dibongkar di Sidang Korupsi Dana Hibah Sleman! Raudi Akmal Ajak Ketemu Sosok Ini
-
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unisa Yogyakarta Bedah Program MBG Lewat Pameran Seni