Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 23 Januari 2026 | 21:17 WIB
Ilustrasi Istana Garuda di IKN. [Ist]
Baca 10 detik
  • UGM, OIKN, dan Kagama berkolaborasi melatih 39 pegawai OIKN menjadi ahli Smart Forest City.
  • Pelatihan intensif November–Desember 2025 fokus pada ilmu masa depan, bukan birokrasi konvensional.
  • Peserta dibekali perspektif humanis dan analisis data preskriptif untuk mendukung pembangunan IKN berkelanjutan.

SuaraJogja.id - Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) kini tak lagi hanya berbicara tentang progres infrastruktur fisik. Melalui kolaborasi strategis antara Universitas Gadjah Mada (UGM), Otorita IKN (OIKN), dan Kagama, fokus pembangunan mulai bergeser pada penguatan "otak" di balik operasional kota masa depan tersebut. Sebanyak 39 pegawai OIKN baru saja dinyatakan lulus sebagai ahli Smart Forest City setelah menempuh pelatihan intensif.

Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Nusantara sedang dipersiapkan sebagai kota yang cerdas secara teknologi, namun tetap berpijak pada nilai-nilai kelestarian alam dan kemanusiaan.

Pelatihan yang digelar melalui platform UGM Online sejak November hingga Desember 2025 ini menuntut dedikasi tinggi. Para peserta yang berasal dari unit strategis, seperti Deputi Transformasi Hijau dan Digital, tidak diberikan materi birokrasi konvensional, melainkan disiplin ilmu masa depan.

“Data laporan pelaksanaan menunjukkan tingkat penyelesaian rata-rata melampaui 80 persen, sebuah angka yang merefleksikan dedikasi tinggi para birokrat IKN untuk menyerap ilmu baru,” ujar Daniel Oscar Baskoro, Ketua Bidang 2 PP Kagama Bidang Data dan Digital, dikutip dari laman resmi UGM pada Jumat (23/1/2025).

Daniel menekankan bahwa kurikulum dirancang khusus agar selaras dengan DNA Nusantara. Menariknya, kursus Arsitektur Hijau menjadi favorit utama, disusul oleh modul Antropologi Ekologi yang membekali peserta dengan perspektif humanis.

“Mengikuti modul ini membekali para pembuat kebijakan dengan perspektif humanis untuk memastikan pembangunan fisik IKN tetap menghormati harmoni sosial dan lingkungan setempat,” terangnya.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, menegaskan bahwa kehadiran UGM dalam proyek ini adalah bentuk nyata keterlibatan akademisi dalam mengawal kebijakan pemerintah.

Dukungan UGM bahkan diperkuat dengan adanya Hutan Pendidikan Wanagama Nusantara seluas 621 hektare di kawasan IKN sebagai pusat riset.

“Hal ini diperkuat dengan keberadaan Hutan Pendidikan Wanagama Nusantara seluas 621 hektare di kawasan IKN, yang berfungsi sebagai laboratorium hidup bagi riset keberlanjutan,” tuturnya.

Baca Juga: Menjaga Api Kerakyatan di Tengah Pengetatan Fiskal, Alumni UGM Konsolidasi untuk Indonesia Emas

Prof. Ova merasa bangga atas kegigihan para staf OIKN dalam menguasai bidang baru, mulai dari big data hingga pendekatan sosial. Keberhasilan ini dianggap sebagai pembuktian bahwa IKN dibangun dengan fondasi gagasan yang kokoh.

“Kita semua bangga melihat para staf OIKN begitu gigih mempelajari disiplin ilmu baru, dari big data hingga antropologi ekologi. Ini adalah modal utama untuk menjadikan Nusantara sebagai jendela Indonesia bagi dunia tropis,” ucap Ova.

Di sisi teknis, pelatihan ini juga menyasar pada perombakan cara kerja birokrasi. Direktur Direktorat Kajian Inovasi Akademik (DKIA) UGM, Dr. Hatma Suryoatmojo, menyebutkan bahwa para ahli baru ini didorong untuk meninggalkan cara-cara lama yang hanya berbasis intuisi.

“Peserta dalam kesempatan ini dilatih untuk menggunakan analisis data preskriptif dalam pengambilan keputusan, meninggalkan cara-cara lama yang berbasis intuisi semata,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Biro SDM dan Humas OIKN, Moh. Zamroni. Baginya, teknologi sehebat apa pun tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan aparatur yang memiliki pola pikir tangkas (agile).

“Program ini memastikan SDM kami memiliki pola pikir yang tangkas (agile), adaptif, dan berwawasan lingkungan. Ini adalah modal krusial bagi tata kelola IKN di masa depan,” tutup Zamroni.

Load More