- Saksi Bupati Sleman terpilih Harda Kiswaya menolak keras dana hibah dikaitkan kepentingan politik Pilkada Sleman.
- Harda meyakini Kustini Sri Purnomo pasti menang Pilkada karena reputasi baik Sri Purnomo.
- Keyakinan kemenangan tersebut mendasari penolakan Harda atas pencairan dana hibah sebelum Pilkada.
SuaraJogja.id - Dalam persidangan perkara hibah pariwisata, saksi Harda Kiswaya yang saat ini menjabat sebagai Bupati Sleman periode 2024-2029 secara tegas menyatakan bahwa
program hibah tidak pernah dirancang maupun dikaitkan dengan kepentingan Pilkada Sleman.
Keterangan ini sekaligus membantah anggapan bahwa dana hibah digunakan sebagai alat politik.
Hal itu terungkap saat penasihat hukum Sri Purnomo, Soepriyadi, menggali keterangan saksi terkait dugaan adanya kebijakan pimpinan daerah untuk memanfaatkan hibah demi pemenangan Kustini Sri Purnomo.
“Ada tidak dari awal Pemkab Sleman, khususnya pimpinan daerah, wisdom-nya adalah dana hibah ini kita akomodir dan kita serap untuk kepentingan Pilkada dan pemenangan Ibu Kustini?” tanya Soepriyadi di persidangan.
Menjawab pertanyaan tersebut, Harda justru mengungkap bahwa sejak awal ia meyakini Kustini Sri Purnomo akan memenangkan Pilkada tanpa perlu dikaitkan dengan program hibah apa pun.
“Jadi waktu itu saya matur sama beliau (Sri Purnomo ‘Bapak ampun Pak, ribet. Bu Kustini pasti menang,’ saya bilang begitu,” ujar Harda.
Soepriyadi kemudian menegaskan kembali pernyataan itu.
“Oh sudah pasti menang, Pak, ya?” tanyanya.
Harda menegaskan keyakinannya itu murni didasarkan pada reputasi Sri Purnomo di mata masyarakat, bukan karena faktor politik praktis.
“Bapak itu baik di mata masyarakat. ” tegas Harda.
Lebih lanjut, Harda mengungkap bahwa keyakinan tersebut menjadi dasar sikapnya menolak pencairan dana hibah sebelum Pilkada digelar.
Penolakan itu bukan karena pertimbangan politik, melainkan karena ia yakin kemenangan Kustini Sri Purnomo sudah di tangan berkat prestasi Sri Purnomo selama memimpin Sleman.
“Apakah itu jadi alasan sehingga Bapak menolak pencairan sebelum Pilkada?” tanya Soepriyadi.
“Iya, karena sudah tahu Ibu Kustini menang tanpa ada hibah karena prestasi Bapak,” jawab Harda.
Keterangan saksi ini memperkuat posisi Sri Purnomo bahwa program hibah merupakan kebijakan pemerintahan daerah yang dijalankan secara administratif, bukan instrumen pemenangan politik.
Pernyataan Harda juga menegaskan bahwa keberhasilan Kustini Sri Purnomo dalam Pilkada didorong oleh kinerja dan keteladanan Sri Purnomo, bukan oleh distribusi dana hibah.
Berita Terkait
Terpopuler
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- Ini 3 Pilihan Terbaik HP Snapdragon Termurah dengan Layar AMOLED
- Lagu Runaway Menggema di SUGBK, Jadi Penutup Konser Kanye West di Jakarta
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
JPW Desak Ketegasan Polda DIY Tindak Parkir Liar Selama Operasi Patuh Progo 2026
-
Demo di Jogja Kembali Ricuh, Sri Sultan Sentil Aksi Rusak Fasilitas Publik
-
Tarif BPJS Tak Naik, Tapi Biaya Operasional Bengkak, Rumah Sakit Swasta Ini Pilih Bertahan Hidup
-
Polda DIY Incar Balap Liar hingga Knalpot Brong di Operasi Patuh Progo 2026, Catat Aturannya!
-
Sarkemfest 2026 Tak Sekadar Pesta, UMKM Lokal Didorong Ketiban Berkah Wisata Malioboro