- Bupati Sleman Harda Kiswaya bersaksi di PN Yogyakarta terkait dugaan korupsi dana hibah pariwisata 2020 pada Jumat (23/1/2026).
- Harda membantah bertemu saksi Raudi Akmal dan almarhum Kunto Riyadi membahas dana hibah pariwisata tersebut.
- Majelis hakim mengkonfrontasi kesaksian Harda dengan bukti digital percakapan WhatsApp terkait proposal dana hibah.
SuaraJogja.id - Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi dana hibah pariwisata Kabupaten Sleman dengan kembali memanas.
Bupati Sleman Harda Kiswaya dihadirkan sebagai saksi dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pengadilan Negeri Yogyakarta, Jumat (23/1/2026)
Harda memenuhi panggilan jaksa penuntut umum dalam perkara yang menjerat mantan Bupati Sleman, Sri Purnomo, sebagai terdakwa.
Pemeriksaan Harda dilakukan dalam atas kapasitasnya sebagai Sekda Sleman saat itu dan sekaligus ketua tim pelaksana penyaluran dana hibah pariwisata tahun 2020 lalu.
Sidang perkara ini dipimpin oleh ketua majelis Melinda Aritonang. Kemudian hakim anggota Gabriel Siallagan, dan Elias Hamonangan.
Dalam persidangan tersebut, majelis hakim mencecar Harda terkait keterangan saksi sebelumnya, Raudi Akmal, yang menyebut adanya pertemuan khusus di kantor Pemkab Sleman. Harda secara tegas membantah pernah melakukan pertemuan untuk membahas dana hibah tersebut.
Sebelumnya Raudi Akmal yang merupakan putra dari terdakwa yang juga sebagai anggota DPRD Kabupaten Sleman telah dihadirkan sebagai saksi di persidangan pada, Senin (19/1/2026) kemarin.
Hakim Gabriel memulai konfrontasi dengan mengutip kesaksian Raudi Akmal di sidang sebelumnya.
Diketahui Raudi mengaku pernah bertemu Harda dan mendiang Kunto Riyadi selaku Kepala Bappeda Sleman kala itu di ruang Smart Room. Adapun Harda disebut oleh Raudi telah menyampaikan informasi mengenai adanya dana hibah pariwisata.
Baca Juga: Hakim Cecar Raudi Akmal soal Pengaruh Anak Bupati di Kasus Dugaan Korupsi Pariwisata Sleman
"Dalam konteks hibah ini, apakah Raudi Akmal pernah bicara atau bapak pernah menyampaikan kepada Raudi Akmal bahwa akan ada hibah pariwisata?" tanya hakim.
Mendengar pertanyaan tersebut, Harda langsung menampik. Ia menegaskan bahwa pertemuan segitiga yang disebutkan oleh anak terdakwa itu tidak pernah terjadi.
"Tidak pernah Yang Mulia," jawab Harda singkat.
Bantahan ini membuat hakim mengingatkan bahwa karena salah satu saksi kunci, yakni Kunto, telah meninggal dunia, maka keterangan ini menjadi pertaruhan kebenaran di bawah sumpah antara Harda dan Raudi.
Majelis hakim tidak berhenti di situ dan terus mendalami soal ada tidaknya pertemuan dua pihak tersebut.
"Apa memang betul ada pertemuan antara Raudi Akmal, saudara sebagai sekda, dan almarhum Kunto di ruang Smart Room?" tanya hakim.
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Ekuitas BRI Mencapai Rp330,9 Triliun di Tengah Pembagian Dividen
-
Peringatan 20 Tahun Gempa Jogja: Menyiapkan Generasi Muda Menghadapi Ancaman Bencana Alam
-
Diseret ke Isu Lain, Kuasa Hukum Sri Purnomo: Tanpa Bukti di Sidang, Itu Bukan Fakta Hukum
-
Polresta Sleman Selidiki Teror Order Fiktif Ambulans dan Damkar, Nomor Pelaku Terdeteksi di Sumut
-
Ada Bahasa Isyarat di Balik Harumnya Tembakau, Kisah Perjuangan Difabel Menembus Dinding Stigma