- Isu reshuffle Kabinet Indonesia Maju di bawah Presiden Prabowo Subianto menguat, dikabarkan melibatkan tujuh menteri.
- Pakar politik Zuly Qodir menekankan reshuffle harus berbasis kinerja nyata, bukan kedekatan politik atau relasi keluarga.
- Reshuffle idealnya memperbaiki kementerian bermasalah agar kabinet solid, menghindari persepsi hanya langkah kosmetik atau nepotisme.
SuaraJogja.id - Isu reshuffle Kabinet Indonesia Maju di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali menguat dan ramai diperbincangkan publik. Sebanyak tujuh menteri diisukan akan diganti.
Diantaranya Menko PMK Pratikno, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Kepala KSP Muhammad Qodari, Menkomdigi Meutya Hafid, Menteri HAM Natalius Pigai, serta Menteri Pariwisata Widiyanti Putri.
Pakar politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir ikut angkat bicara terkait wacana perombakan kabinet tersebut.
Zuly menyebut, resuffle harus dilakukan secara profesional dan berbasis kinerja, alih-alih kedekatan politik maupun relasi keluarga. Sebab meski reshuffle merupakan hak prerogatif presiden, momentum ini seharusnya dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi serius terhadap menteri-menteri yang selama ini menuai kritik tajam dari publik.
"Kalau reshuffle dilakukan, mestinya yang diprioritaskan adalah menteri-menteri yang rapor kinerjanya merah atau minimal kuning. Yang banyak dikritik publik, itu indikator paling nyata," ujar Zuly ditemui usai groundbreaking Laboratorium Teknik Terpadu UMY di Yogyakarta, Jumat (30/1/2026).
Menurutnya, kritik yang terus berulang terhadap kementerian tertentu menunjukkan adanya persoalan struktural maupun kepemimpinan yang tidak bisa diabaikan. Jika reshuffle justru tidak menyentuh sektor-sektor bermasalah, maka dikhawatirkan publik berpotensi melihatnya sebagai langkah kosmetik.
"Kalau reshuffle tapi justru menambah masalah, atau hanya mengganti figur yang relatif tidak bermasalah, itu akan jadi kontraproduktif. Harapannya, reshuffle membuat kabinet semakin solid dan profesional," tandasnya.
Reshuffle idealnya diarahkan untuk memperbaiki kinerja kementerian secara menyeluruh. Zuly mengibaratkan evaluasi kabinet seperti rapor sekolah.
"Yang merah harus diperbaiki, yang kuning ditingkatkan supaya hijau. Tujuannya jelas, agar kinerja pemerintahan semakin baik dan kritik publik bisa ditekan," ujarnya.
Baca Juga: 'Aksi Kami Kem-Arie': Mahasiswa Ilmu Sejarah UNY Turun Tangan Bela Rekan yang Dikriminalisasi
Dicontohkan Zuly, Bahlil yang selama menjabat kerap menjadi sorotan dan menuai kritik dari berbagai kalangan. Namun belakangan, Bahlil justru diangkat sebagai Kepala Dewan Energi Nasional yang diklaim.
"Pak Bahlil memang banyak dikritik, tapi sekarang posisinya strategis. Dia harusnya bisa memanfaatkan jabatan itu untuk memperbaiki tata kelola energi nasional, terutama menuju transisi energi hijau," ungkapnya.
Selain Bahlil, spekulasi terkait kementerian-kementerian lain yang kerap disorot, mulai dari sektor energi, komunikasi publik, hingga kementerian yang dinilai kurang responsif terhadap kritik masyarakat bisa jadi pertimbangan Prabowo untuk melakukan resuffle. Namun Zuly kembali mengingatkan agar penilaian tetap berbasis data dan capaian kerja, bukan sekadar opini atau sentimen politik.
Apalagi isu reshuffle kali ini juga diiringi perbincangan sensitif mengenai kemungkinan masuknya keluarga Presiden Prabowo ke dalam kabinet. Zuly menilai, isu tersebut wajar memunculkan pertanyaan publik terkait profesionalisme dan potensi konflik kepentingan.
Jika penunjukan dilakukan tanpa dasar profesionalisme yang kuat, maka hal itu berpotensi memunculkan persepsi nepotisme. Bahkan dan membuka ruang tumbuhnya praktik KKN baru.
"Masuknya keluarga presiden ke kabinet pasti dipertanyakan. Kalau profesional, punya pengalaman, dan rekam jejak yang jelas, publik mungkin masih bisa menerima, kalau tidak profesional, itu tidak tepat. Bisa menumbuhkan KKN dan memperbesar kritik terhadap pemerintahan. Ini yang harus dihindari," ungkapnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Putri Hijau/Yos Sudarso Medan Ditutup 31 Januari hingga 6 Februari, Arus Lalin Dialihkan
- 5 Bedak Wardah High Coverage untuk Flek Hitam Membandel Usia 55 Tahun
- Reshuffle Kabinet: Sugiono Jadi Menko PMK Gantikan 'Orang Jokowi', Keponakan Prabowo Jadi Menlu?
- 3 Pilihan HP Infinix 5G dengan Performa Tinggi dan Layar AMOLED
Pilihan
-
Siapa yang Meminta Iman Rachman Mundur dari Dirut BEI?
-
Skandal Sepak Bola China: Eks Everton dan 72 Pemain Dijatuhi Sanksi Seumur Hidup
-
Iman Rachman Mundur, Penggantinya Sedang Dalam Proses Persetujuan OJK
-
Purbaya: Mundurnya Dirut BEI Sentimen Positif, Saatnya Investor 'Serok' Saham
-
5 Fakta Menarik Cheveyo Balentien: Pemain Jawa-Kalimantan yang Cetak Gol untuk AC Milan
Terkini
-
Isu Reshuffle Kabinet Kian Menguat, Akademisi Nilai Menteri Sarat Kritik Layak Jadi Evaluasi
-
Tampil Gaya dengan Budget Rp80 Jutaan: 3 Mobil Bekas 'Aura Masa Kini' yang Wajib Dilirik!
-
Virus Nipah Belum Masuk Indonesia, Kemenkes Sebut Screening di Bandara Tetap Dilakukan
-
Harga Emas Meroket, Pakar Ekonomi UMY Ungkap Tiga Faktor Utama
-
Terjepit Ekonomi, Pasutri Asal Semarang Nekat Curi Puluhan Baterai Motor Listrik