- DIY mencatat 67 kasus bunuh diri sepanjang 2025, menandakan tantangan serius kesehatan mental di wilayah tersebut.
- Sebelum bunuh diri, banyak individu menunjukkan perilaku melukai diri sendiri akibat rasa sakit psikologis yang mendalam.
- UGM berkolaborasi dengan Indonesian Hypnosis Centre untuk memperkuat legitimasi ilmiah hipnoterapi sebagai intervensi pelengkap.
Dalam konteks inilah hipnoterapi mulai diperkuat sebagai pendekatan ilmiah yang dapat melengkapi layanan kesehatan mental yang ada.
Upaya memperkuat legitimasi hipnoterapi secara ilmiah melalui kolaborasi antara UGM dan Indonesian Hypnosis Centre melalui Pelatihan Sertifikasi Transpersonal Clinical Hypnotherapy di Kampus UGM Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk menegaskan hipnosis bukan sekadar pertunjukan hiburan, tetapi merupakan disiplin ilmu yang memiliki dasar ilmiah dan standar kompetensi profesional.
Kolaborasi ini dibangun melalui tiga pilar utama. Pertama, penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tersertifikasi melalui program Transpersonal Clinical Hypnotherapy yang memadukan teori psikologi dengan teknik klinis. Kedua, pendampingan riset doktoral bagi mahasiswa S3 Ilmu Psikologi UGM untuk meneliti efektivitas hipnosis secara ilmiah.
"Selain itu pengabdian masyarakat melalui program sosial," jelasnya.
Sementara itu Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Kwartarini Wahyu Yuniarti, menyatakan praktik hipnoterapi berkembang berdasarkan bukti ilmiah. Integrasi antara metodologi riset akademik dengan pengalaman praktis para hipnoterapis dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan ilmu psikologi sekaligus praktik klinis di masyarakat.
"Ada anggapan hipnoterapi semacam gendam padahal bukan, ada bukti ilmiah untuk mengatasi masalah kesehatan mental," tandasnya.
Ketua Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM, Edilburga Wulan Saptandari, menambahkan, dengan semakin kuatnya basis akademik dan riset, hipnoterapi diharapkan dapat berkembang sebagai pendekatan pelengkap dalam layanan kesehatan mental.
Di tengah meningkatnya kasus bunuh diri dan tekanan psikologis di masyarakat, kehadiran metode intervensi yang beragam dinilai penting untuk memperluas akses bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Baca Juga: WFA Pasca Lebaran 2026 Diberlakukan, 36 Ribu Pemudik Masuk ke Jogja
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Sembilan SPPG di DIY Terancam Ditutup Permanen, Satu SPPG Langganan Keracunan Ditutup
-
Tak Punya Anggaran, Sektor Kebudayaan Jogja Ikut Tergerus, TBY Pangkas Event dan Kurator
-
Jogja Fashion Week 2026: Panggung Kreativitas dan Regenerasi Desainer Muda
-
Bentangkan Merah Putih 1.000 Meter, Serukan Rakyat Masih Bersatu di Tengah Persoalan Bangsa
-
Hari UMKM Nasional, BRI Peduli Perkuat UMKM Desa Brilian melalui Pendampingan Berkelanjutan