- Dinas Kesehatan DIY mencatat kenaikan kasus campak menjadi 112 hingga awal April 2026 akibat mobilitas tinggi masyarakat.
- Pemerintah memastikan kondisi tetap terkendali karena tingginya cakupan vaksinasi MR sehingga tidak ada korban jiwa di DIY.
- Dinkes melakukan percepatan imunisasi bagi anak usia 9 hingga 59 bulan untuk memperkuat kekebalan kelompok secara menyeluruh.
SuaraJogja.id - Sejumlah daerah saat ini mulai menerapkan siaga Kejadian Luar Biasa (KLB) campak seiring terjadinya lonjakan kasus. Bahkan kasus tersebut sudah mengakibatkan korban jiwa, terutama anak-anak.
Di DIY, penyakit infeksi saluran pernapasan yang menular tersebut juga masih menjadi ancaman. Hingga awal April 2026, jumlah kasus campak di wilayah ini tercatat mencapai 112 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan (dinkes) DIY, Gregorius Anung Trihadi di Yogyakarta, Jumat (17/4/2026) menyatakan angka kasus campak di DIY mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelum Lebaran yang berada di kisaran 94–96 kasus. Namun kenaikan tersebut dinilai masih relatif terkendali.
"Per 6 April kemarin sekitar 112 kasus. Sebelumnya itu sekitar 94 atau 96 kasus, jadi kenaikannya sebenarnya tidak terlalu tinggi," jelasnya.
Menurut Anung, campak merupakan penyakit menular yang selalu dipantau secara ketat. Sebab berpotensi menimbulkan wabah.
Karenanya Dinkes melakukan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Sistem ini dievaluasi secara berkala setiap minggu.
"Sistem ini dapat mendeteksi lebih dini peningkatan kasus penyakit menular sehingga penanganan bisa dilakukan dengan cepat," ungkapnya.
Anung menyebut, campak dapat menular dengan sangat cepat, terutama melalui percikan droplet dari batuk atau pilek. Mobilitas masyarakat yang tinggi disinyalir bisa berpotensi meningkatkan risiko penularan.
Contohnya pergerakan masyarakat saat masa liburan panjang maupun Lebaran lalu. Mobilitas yang tinggi tersebut dimungkinkan menjadi salah satu faktor yang dapat memicu penyebaran penyakit menular.
Baca Juga: Air Mata Haru di Balik Antrean Syawalan Sultan: Perjuangan Siswa Difabel Demi Salaman Raja Jogja
Apalagi pada masa liburan, banyak masyarakat dari berbagai daerah datang ke Yogyakarta, termasuk dari wilayah yang memiliki kasus campak cukup tinggi.
"Setiap penyakit yang berpotensi wabah, ketika terjadi pergerakan penduduk yang masif tentu punya risiko penularan," ungkapnya.
Namun, lanjut Anung, Dinkes memastikan kondisi saat ini masih terkendali. Salah satu faktor penting yang menekan dampak penyakit ini adalah tingginya cakupan vaksinasi di masyarakat di DIY.
Cakupan imunisasi Measles Rubella (MR) di DIY juga tercatat sangat tinggi. Untuk vaksinasi MR dosis pertama mencapai lebih dari 98 persen.
Sedangkan dosis kedua mencapai sekitar 96 persen. Tingginya cakupan imunisasi ini membuat sebagian besar kasus campak yang muncul hanya memerlukan perawatan ringan.
"Yang paling penting, tidak ada kasus campak yang menyebabkan kematian di DIY. Sebagian besar hanya membutuhkan perawatan ringan, rawat jalan, dan hanya beberapa yang perlu rawat inap," ungkapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Dorong Ekonomi, Volume Transaksi Merchant BRI Raih Rp67,9 Triliun
-
Siswa Non Muslim di Jogja Diperlakukan Diskriminatif Saat Pelajaran Agama, Tak Punya Ruangan Tetap
-
Perry Warjiyo Mundur dari Bank Indonesia, Ekonom Sebut Tekanan Rupiah Bakal Membesar
-
Sidang Praperadilan Memanas, Hakim Pertanyakan Dasar Kejari Tetapkan Raudi Akmal Tersangka
-
Ucapan 'Londo Ireng' Prabowo Dinilai Ancam Demokrasi, Jurnalis: Kami Bukan Musuh Negara