Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Senin, 20 April 2026 | 09:29 WIB
Warga Kaligintung, Temon, Kulon Progo, Daliman yang akan berangkat ke tanah suci. [Suara.com/Hiskia]
Baca 10 detik
  • Daliman, buruh tani asal Kulon Progo, akan berangkat haji pada 21 April 2026 setelah menabung selama belasan tahun.
  • Ia memanfaatkan dana talangan bank pada 2012 serta disiplin merantau sebagai operator alat berat untuk melunasi biaya awal.
  • Keberhasilan pelunasan biaya haji tercapai melalui hasil beternak sapi dan bekerja sebagai buruh tani dengan sistem bagi hasil.

SuaraJogja.id - Daliman seorang buruh tani asal Dusun Sidatan, Kaligintung, Kapanewon Temon, Kulon Progo akan segera berangkat ke Tanah Suci pada 21 April 2026 esok.

Keberangkatan ini merupakan bukan secara instan bisa tercapai, melainkan buah dari kesabaran panjang dan kerja keras yang ia lakukan selama bertahun-tahun. 

Apalagi Dalimand dengan dibantu sang istri Sumiyati mampu mengumpulkan biaya di tengah keterbatasan ekonomi dan ketiadaan kepemilikan lahan pertanian.

Daliman menceritakan bahwa niatnya untuk berhaji muncul secara tidak sengaja. Belasan tahun lalu, ia sedang mengurus permohonan Surat Izin Mengemudi (SIM). 

Percakapan ringan dengan petugas penguji kala itu justru membawanya pada tekad untuk mendaftar haji meski kondisi ekonominya saat itu masih sangat terbatas.

"Saya kan waktu itu mau cari SIM C. Setelah itu ngomong-ngomong sama yang ngetes saya itu ternyata dia tuh ngarahkan untuk (berangkat) haji itu," kata Daliman, Minggu (19/4/2026).

Untuk memulai langkahnya, Daliman memanfaatkan fasilitas dana talangan dari perbankan nasional guna membayar setoran awal sebesar Rp25 juta pada sekitar tahun 2012. 

Ilustrasi Haji 2026. (Suara.com)

Saat itu, ia sempat bekerja merantau di Kalimantan Selatan sebagai operator alat berat. Selama empat tahun di perantauan, ia disiplin menyisihkan penghasilan untuk mencicil tanggungan tersebut hingga lunas.

"Setoran awal itu, setelah itu saya angsur. 4 tahun mungkin ada. Itu saya dulu kan kerja di luar Jawa. Di luar Jawa itu sampai lunas terus saya pulang," ucapnya.

Baca Juga: Awas! Balita Paling Rentan, Dinkes Kota Jogja Catat 110 Kasus Pneumonia Awal 2026

Sekembalinya ke Kulon Progo pada tahun 2017, Daliman kemudian memulai kembali semua dari nol. Dia yang tidak memiliki lahan sendiri hanya mengandalkan tenaga sebagai buruh tani untuk menggarap sawah milik orang lain dengan sistem bagi hasil. 

Namun, keterbatasan itu tidak memadamkan semangatnya untuk mengumpulkan biaya pelunasan haji.

"Saya pulang ke rumah ya keadanya nol lah sudah pulang kan. Di rumah ya itu saya tanami, ini milik orang semua. Sawah-sawah itu milik orang semua memang saya enggak punya sawah," ujarnya.

Tiga tahun lalu, ia lantas memutar otak dengan membeli dua ekor anak sapi seharga Rp11 juta sebagai tabungan cadangan. Sapi-sapi itu ia pelihara dengan telaten di sela kesibukannya bertani.

Strategi ini rupanya menjadi kunci utama baginya untuk menutup sisa kekurangan biaya pelunasan haji tahun ini.

"Saya belikan sapi kecil itu kan Rp 11 juta itu 2 (ekor). Ini insyaallah nanti sampai pelunasan saya sempat jual. Kalau 2 itu laku Rp25 juta sudah lumayan nanti tambahannya kan gak banyak. Ternyata betul itu 2 itu laku Rp24 juta," ungkapnya.

Load More