Wakos Reza Gautama
Sabtu, 25 April 2026 | 13:54 WIB
TKP Daycare Alesha yang dipasang garis polisi, Sabtu (25/4/2026). [suara.com/Yvestaputu]
Baca 10 detik
  • Dugaan kekerasan terhadap anak terjadi di Daycare Little Aresha, Sorosutan, Yogyakarta, yang terungkap melalui media sosial.
  • Orang tua melaporkan anak mereka mengalami lebam, cakaran, dan dikurung di kamar mandi oleh pengasuh daycare tersebut.
  • Polresta Yogyakarta saat ini sedang melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap kasus kekerasan yang menimpa anak-anak di lokasi tersebut.

SuaraJogja.id - Kasus kekerasan terhadap anak terjadi di sebuah tempat penitipan anak, Daycare Little Aresha di Sorosutan, Kota Yogyakarta.

Sejumlah orang tua mulai angkat suara setelah muncul laporan anak-anak mereka yang mengalami lebam, bekas cakaran hingga dugaan perlakuan tidak layak dari pengasuh.

Kasus ini mencuat setelah informasi mengenai kondisi di dalam daycare tersebut ramai beredar di media sosial (sosmed).

Sejumlah orang tua kemudian mendatangi lokasi dan mempertanyakan keselamatan anak-anak mereka yang selama ini dititipkan di tempat tersebut, Sabtu (25/4/2026).

Namun mereka tidak bisa menemui pengelola. Daycare tertutup dan dipasang garis polisi. Tidak ada aktivitas apapun di rumah tersebut.

Salah satu orang tua siswa, Kartika mengaku, anaknya yang masih berusia tiga tahun sempat mengalami lebam di bagian lutut. Awalnya ia mengira luka tersebut disebabkan karena anaknya jatuh saat bermain.

"Yang kemarin saja, sekitar seminggu lalu ada lebam. Saya pikir lebam karena jatuh. Bayangan saya mungkin terdorong temannya. Lebamnya di lutut kanan, tapi sekarang sudah hilang," jelasnya.

Ia mengatakan anaknya sudah hampir setengah tahun dititipkan di daycare tersebut karena speech delay. Selama ini ia tidak menaruh kecurigaan karena pihak daycare rutin mengirimkan laporan aktivitas harian anak kepada orang tua.

"Setiap hari ada laporan kegiatan anak. Jadi saya pikir anak saya baik-baik saja, tidak ada pikiran negatif," jelasnya.

Baca Juga: Peringatan 20 Tahun Gempa Jogja: Menyiapkan Generasi Muda Menghadapi Ancaman Bencana Alam

Namun sejak awal sebenarnya warga Imogiri ini sempat ragu karena di dalam daycare tidak tersedia kamera pengawas (CCTV) yang bisa diakses oleh orang tua.

"Waktu pertama memasukkan anak ke sini saya agak ragu karena tidak ada CCTV. Kalau di daycare lain ada CCTV dan orang tua bisa memantau lewat web, tapi biayanya memang lebih mahal," jelasnya.

Kesaksian lain datang dari seorang nenek korban bernama Sri Buseri (63), warga Kotagede. Ia mengatakan cucunya yang berusia empat tahun sempat mengaku dikunci di kamar mandi oleh pengasuh. Cucunya telah dititipkan di daycare tersebut selama sekitar satu tahun dengan biaya sekitar Rp1,5 juta per bulan.

Sri, nenek korban, memaparkan kondisi cucunya yang dititipkan di Daycare Little Aresha, Sabtu (25/4/2026). [suara.com/Yvestaputu]

"Begitu kemarin ada penggerebekan itu, cucu saya langsung dibawa pulang sama anak saya," ungkapnya.

Sri juga sempat merekam video saat menjemput cucunya di gerbang daycare. Saat itu ia melihat kondisi pipi cucunya memerah. Saat ditanya, cucu Sri juga membenarkan cerita tersebut.

"Cucu saya waktu saya jemput pipinya merah begini. Terus dia bilang katanya dimasukkan ke kamar mandi, dikunci di kamar mandi. Aku main nggak boleh, nggak boleh main. Terus aku dikunci di kamar mandi," ungkapnya.

Sri mengaku sangat marah mengetahui dugaan perlakuan tersebut terhadap cucunya. Meski demikian, ia menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus tersebut kepada pihak kepolisian.

"Saya kesel sekali, Pak. Masa anak cucu saya diperlakukan begitu. Saya pasrah saja sama polisi," ujarnya.

Orang tua lain, Aldewa (30), warga Pujokusuman, awalnya tidak menyadari ada masalah. Ia dan istrinya memilih daycare tersebut karena keduanya bekerja dengan jadwal yang tidak menentu.

"Rumah saya dekat Pujokusuman, saya dan istri sama-sama kerja. Tidak ada yang menjaga anak, jadi kami cari alternatif daycare," katanya.

Menurut dia, tempat tersebut dipilih karena dinilai cukup terjangkau. Selain itu memiliki ulasan yang cukup baik di media sosial.

"Harganya sekitar Rp1,5 juta sebulan. Saya pikir juga amanah karena di media sosial komentarnya bagus-bagus,” ujarnya.

Namun Aldewa mengaku heran setelah belakangan kasus dugaan kekerasan itu ramai diperbincangkan. Ia mulai mengingat kembali perubahan perilaku anaknya yang sering menangis ketika akan berangkat ke daycare.

"Sudah setengah tahun lebih anak saya di sini. Kalau pagi mau sekolah selalu nangis. Saya pikir biasa saja, takut sama orang tua," ungkapnya.

Meski begitu, setiap tiba di daycare anaknya selalu disambut oleh pengasuh dengan ramah. Tangisan anaknya tersebut langsung berhenti.

"Begitu sampai di sana disambut miss-nya, ramah sekali. Anak saya langsung diam," jelasnya.

Informasi yang beredar menyebut dugaan kekerasan di daycare tersebut pertama kali terungkap setelah adanya rekaman yang diunggah oleh seseorang yang diduga pernah bekerja di tempat tersebut.

"Katanya ada pegawai baru yang tidak tahan melihat kejadian itu lalu melaporkan," kata Aldewa.

Ia berharap kasus ini dapat diusut secara tuntas oleh aparat penegak hukum agar tidak ada lagi anak-anak yang menjadi korban.

"Saya yakin tidak semuanya jahat. Mungkin ada satu dua yang baik tapi tidak berani bicara," ujarnya.

Aldewa berharap ada penyelidikan menyeluruh terhadap aktivitas di dalam daycare tersebut, termasuk memastikan siapa saja pihak yang bertanggung jawab atas dugaan kekerasan terhadap anak-anak. Saat ini Polresta Yogyakarta tengah melakukan penyelidikan kasus ini.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More