- Mantan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyatakan suhu global 2024 mencapai 1,55 derajat Celsius, melampaui ambang batas Perjanjian Paris.
- Krisis iklim global kini memicu cuaca ekstrem, badai tidak lazim di Indonesia, serta ancaman kenaikan suhu jangka panjang.
- Dampak krisis iklim mencakup kekeringan, kenaikan muka air laut, hingga gangguan sektor pangan dan kesehatan masyarakat dunia.
SuaraJogja.id - Suhu udara yang semakin panas saat ini, termasuk di Yogyakarta bukan tanpa alasan. Fenomena ini terjadi akibat ancaman krisis iklim yang mulai terjadi.
"Data dasar yang digunakan adalah suhu global pada periode 1850 sampai 1900. Kalau dibandingkan dengan kondisi sekarang, suhu permukaan bumi terus mengalami kenaikan dan puncaknya terjadi pada tahun 2024 mencapai 1,55 derajat Celsius," papar mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam seminar sinergi UGM-Kagama "20 Tahun Gempa Yogyakarta 2006 dan Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa" di UGM, Yogyakarta, Sabtu (30/6/2026).
Menurut Rita-sapaan Dwikorita, angka tersebut melampaui target Perjanjian Paris yang menetapkan batas aman kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1,5 derajat Celsius dan tidak lebih dari 2 derajat Celcius untuk menghindari dampak perubahan iklim yang lebih parah.
Saat dunia menyepakati pembatasan kenaikan suhu global tersebut, banyak pihak memperkirakan ambang batas tersebut baru akan tercapai menjelang akhir abad ini. Namun kenyataannya, angka itu justru telah terlampaui pada 2024 lalu.
Kondisi tersebut menjadi peringatan serius krisis iklim yang selama ini dianggap ancaman masa depan sesungguhnya sudah berlangsung saat ini. Dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara di kawasan subtropis, tetapi juga semakin nyata di Indonesia.
"Cuaca ekstrem, hujan berintensitas tinggi, musim yang sulit diprediksi hingga kemunculan badai yang bergerak di luar pola normal dampak akibat krisis iklim," tandasnya.
Rita menyebut, sejumlah ilmuwan bahkan mulai menggunakan istilah global boiling atau bumi mendidih untuk menggambarkan kondisi pemanasan global yang semakin ekstrem saat ini.
Meski pada 2025 terjadi sedikit penurunan suhu global menjadi sekitar 1,45 hingga 1,5 derajat Celsius, kondisi itu tidak bisa dianggap sebagai tanda membaiknya iklim dunia.
Yang lebih mengkhawatirkan, berbagai model iklim menunjukkan dunia masih berada pada jalur yang berbahaya. Persoalan itu terjadi apabila upaya pengurangan emisi gas rumah kaca gagal dilakukan secara signifikan.
Baca Juga: Dugaan Korupsi Tiga Mantan Pengurus BUKP Tempel Sleman, Negara Rugi Rp2,1 Miliar
"Berdasarkan proyeksi yang dikutip dari analisis BMKG, dalam skenario terburuk kenaikan suhu global pada tahun 2100 dapat mencapai 3 hingga 3,5 derajat Celsius," ungkapnya.
Kenaikan tersebut jauh melampaui target internasional dan berpotensi memicu dampak yang lebih luas. Diantaranya terjadi gelombang panas ekstrem, kenaikan muka air laut, kekeringan berkepanjangan hingga meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi.
"Kita perlu memahami bahwa ini bukan ramalan, tetapi skenario. Skenario itu terjadi jika manusia gagal mengendalikan laju kenaikan suhu global," katanya.
Menurutnya, kondisi bumi saat ini sebenarnya sudah menunjukkan berbagai gejala yang berkaitan dengan perubahan iklim. Salah satu fenomena yang menjadi perhatian adalah munculnya badai tropis yang bergerak tidak sesuai pola normal di kawasan Indonesia dan sekitarnya.
Ia mencontohkan kejadian badai yang berdampak pada Aceh, Sumatera Utara hingga wilayah Selat Malaka. Fenomena tersebut dinilai tidak lazim karena sistem badai mampu bertahan lebih lama dan bergerak melintasi wilayah yang selama ini dianggap sebagai penghalang alami.
Secara teori, badai tropis biasanya akan mengalami pelemahan ketika mendekati wilayah tertentu akibat pengaruh rotasi bumi dan efek gaya Coriolis. Namun dalam beberapa kejadian terakhir, pola tersebut tidak sepenuhnya terjadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Tegas! UAD Berhentikan Mahasiswa Pelaku Kekerasan Seksual di Lokasi KKN
-
Dugaan Warga Sleman Jadi Korban Mafia Tanah, Kantor Pertanahan Ungkap Temuan Ini
-
Unisa Yogyakarta Raih Penghargaan JBBA 2026 di Klaster Pendidikan
-
Seru, Dapatkan Harga Istimewa Hyundai Creta Lewat Program Triple Zero & Trade-In Benefit
-
Pesan Sri Sultan HB X di JBBA 2026, Bisnis Dibangun dengan Hati dan Kepercayaan