- Revitalisasi Alun-alun Puro Pakualaman di Yogyakarta mengalami penundaan penyelesaian akibat pemotongan anggaran Dana Keistimewaan tahun 2026.
- Pihak Kadipaten Pakualaman menargetkan proyek ruang terbuka tersebut akan selesai pada tahun ini untuk memperkuat fungsi sosial masyarakat.
- Alun-alun akan difungsikan sebagai pusat aktivitas sosial, kesenian rakyat, serta penggerak ekonomi bagi pelaku UMKM setempat.
SuaraJogja.id - Upaya revitalisasi Alun-alun Puro Pakualaman yang semula ditargetkan rampung pada tahun lalu terpaksa mengalami penundaan. Keterbatasan anggaran akibat berbagai efisiensi atau pemotongan belanja dari pemerintah pusat membuat proyek penataan ruang publik tersebut belum dapat diselesaikan sesuai rencana.
"Sebenarnya rencana kami pada tahun lalu sudah akan selesai. Tetapi kita paham banyak sekali pemotongan anggaran sehingga tidak dapat diselesaikan pada tahun tersebut. Kita berusaha mengejar pada tahun ini dan insyaallah dapat selesai," papar putra mahkota Kadipaten Pakualaman, BPH Kusumo Bimantoro dalam persiapan peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman yang ke-214 di Yogyakarta, Kamis (18/6/2026).
Menurut Ketua Umum Hadeging Puro Pakualaman tersebut, kebijakan efisiensi anggaran membuat pengerjaannya harus diundur. Apalagi saat ini ada pengurangan Dana Transfer Daerah (TKD) yang berdampak pada pengurangan Dana Keistimewaan (danais) 2026 hingga Rp200 Miliar hingga jadi Rp1 Triliun.
Dengan adanya efisiensi, penghematan terpaksa dilakukan. Namun alun-alun Pakualaman yang nantinya bisa menjadi ruang terbuka jika sudah selesai direvitalisasi.
Alun-alun akan difungsikan sebagai ruang sosial yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan masyarakat. Sebab di tengah kondisi ekonomi nasional saat ini, Puro Pakualaman berupaya memperkuat fungsi sosial kawasan tersebut.
"Bukan sekadar menjadi ruang terbuka, tetapi juga menjadi tempat berkumpul dan mempererat solidaritas warga," ujarnya.
Hal itu sesuai dengan konsep kerajaan Mataram terdapat empat unsur penting, yakni keraton, pasar, masjid, dan alun-alun. Jika keraton menjadi pusat pemerintahan dan budaya, pasar berfungsi sebagai penggerak ekonomi, masjid sebagai pusat spiritual, maka alun-alun merupakan ruang sosial yang mempertemukan masyarakat.
Karena itu keberadaan Alun-alun Pakualaman diharapkan dapat menjadi wadah berbagai aktivitas yang melibatkan masyarakat secara langsung. Sejumlah kegiatan sosial hingga kesenian rakyat telah disiapkan untuk memanfaatkan ruang publik tersebut.
"Alun-alun ini kita kedepankan sebagai fungsi sosial. Masyarakat bisa menggunakan, bisa berpartisipasi, dan menjadi pusat aktivitas bersama," katanya.
Baca Juga: Piala Paku Alam 2026 Bangkitkan Tradisi Pacuan Kuda dengan Balutan Karnaval dan Hiburan Keluarga
Berbagai agenda juga telah dirancang dalam peringatan Hadeging kali ini. Diantaranya Pasar Sewandanan dengan tema "Menyemai Citarasa Klasik, Memanen Geliat Ekonomi Otentik" di Alun-Alun Sewandanan yang dimeriahkan dengan kegiatan festival jathilan, kelas membatik, dan pertunjukan seni.
Berkolaborasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Dinas Koperasi dan UKM, SiBakul Jogja, dan Dinas Kebudayaan DIY, Pasar Sewandanan hadir sebagai ruang apresiasi dan penggerak ekonomi bagi pelaku UMKM.
"Bahkan setiap 35 hari sekali akan digelar Pasar Sonten yang disertai penampilan kesenian rakyat sebagai upaya menghidupkan kembali ruang publik," jelasnya.
Di tengah situasi ekonomi yang carut-marut ini, Kusumo mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan semangat gotong royong. Menurutnya, tekanan ekonomi saat ini tidak hanya dirasakan masyarakat kecil, tetapi hampir seluruh lapisan masyarakat.
"Memang aktivitas ekonomi di Indonesia saat ini agak carut-marut. Ketidaknyamanan itu dirasakan semua masyarakat, tidak hanya kelompok tertentu," ujarnya.
Dia menilai semangat saling membantu menjadi modal penting agar masyarakat mampu menghadapi berbagai kesulitan yang muncul akibat kondisi ekonomi. Diharapkan semangat kebersamaan yang diwariskan para pendahulu Pakualaman tidak hanya menjadi slogan peringatan hari jadi, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Berita Terkait
Terpopuler
- 25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI
- Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk
- Ayahnya Dicopot dari Menkeu, Anak Purbaya Singgung Bawahan Korup: Pensiun Aja dari Politik
Pilihan
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
Terkini
-
Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
-
Ironi Pariwisata Jogja, Kampus Sepi Peminat, Industri Justru Kekurangan SDM Kompeten
-
Anak Balita Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual di Sleman
-
Semangat Aksara dalam Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026
-
Dibintangi Oki Rengga, SMARTFREN Kenalkan Jaringan Unlimited 5G di Web Series Penghuni Rumah Warisan