- Kalis Mardiasih menyoroti dampak trauma antargenerasi pada anak korban perceraian yang angka kasusnya meningkat signifikan di Indonesia.
- Banyak anak memikul beban emosional berat akibat perceraian orang tua yang sering dianggap aib oleh masyarakat luas.
- Penting bagi masyarakat untuk terbuka membahas trauma keluarga agar luka masa lalu tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Ruang Aman
Kalis juga menyoroti perbedaan cara pandang antara generasi orang tua dan anak-anak masa kini yang sering kali memicu jarak emosional dalam keluarga.
Perbedaan cara memandang pekerjaan, status sosial, pendidikan, hingga cara meraih mimpi dapat menciptakan ketegangan yang tidak selalu terlihat dari luar.
Bahkan, menurutnya, tidak sedikit orang yang akhirnya menemukan rasa aman di luar lingkungan keluarga inti.
"Kita satu darah, dibesarkan bersama-sama, tetapi kadang justru menjadi tidak dekat karena menemukan ruang aman baru di luar keluarga," katanya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan keluarga yang terlihat baik-baik saja dari luar belum tentu terbebas dari persoalan emosional yang mendalam.
Luka Tak Harus Diwariskan
Sementara itu, Editor Siramedia, Puput Alvia, berharap semakin banyak orang yang berani membicarakan pengalaman masa lalu mereka sebagai bagian dari proses pemulihan.
Menurutnya, kesadaran terhadap trauma keluarga penting agar luka yang sama tidak terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Baca Juga: Tempat Hiburan di Jogja Ludes Terbakar, Owner Soroti Pemadaman Listrik Berulang
"Harapannya, mereka yang merasa relate bisa memahami bahwa pengalaman itu tidak boleh dituangkan kepada generasi yang lebih muda," ujarnya.
Kalis menegaskan bahwa penyembuhan bukan berarti menghapus masa lalu, melainkan memahami pengalaman yang pernah terjadi agar tidak terus memengaruhi kehidupan di masa depan.
Di tengah meningkatnya angka perceraian, perhatian terhadap kesehatan mental anak dan trauma keluarga menjadi isu penting yang perlu mendapat ruang lebih besar dalam diskusi publik. Sebab, tidak semua luka terlihat, dan tidak semua anak korban perceraian mampu menyuarakan apa yang mereka rasakan.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Tag
Berita Terkait
-
Tempat Hiburan di Jogja Ludes Terbakar, Owner Soroti Pemadaman Listrik Berulang
-
Seniman ARTJOG Lapor ke LBH, Soroti Dugaan Represi di Ruang Seni Yogyakarta
-
Menghadapi Krisis Iklim dari Desa: Sinergi KAGAMA dan UGM Lewat KKN-PPM 2026
-
Dorong Inovasi PAI dan Kualitas Pendidikan, UNY Bekali Guru dengan Project Based Learning
-
PAI UNY Dorong Guru PAI SMA Jogja Terapkan Kesetaraan Gender Berbasis Islam
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
4.664 Kasus Perceraian di DIY, Trauma Anak Jadi Luka yang Jarang Dibahas
-
Tempat Hiburan di Jogja Ludes Terbakar, Owner Soroti Pemadaman Listrik Berulang
-
Seniman ARTJOG Lapor ke LBH, Soroti Dugaan Represi di Ruang Seni Yogyakarta
-
Menghadapi Krisis Iklim dari Desa: Sinergi KAGAMA dan UGM Lewat KKN-PPM 2026
-
Dorong Inovasi PAI dan Kualitas Pendidikan, UNY Bekali Guru dengan Project Based Learning