- Program Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) dijalankan tahun 2026 untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam pendidikan anak di sekolah.
- Implementasi program di MAN 1 Yogyakarta menghadapi kendala karena latar belakang keluarga siswa yang sangat beragam.
- Berbagai kondisi sosial seperti status yatim dan tuntutan ekonomi pekerja harian menjadi tantangan dalam penerapan kebijakan tersebut.
Meski demikian, ayah berusia 46 tahun tersebut tetap memilih hadir.
Menurutnya, keterlibatan ayah dalam pendidikan anak memang penting, selama sekolah memberikan jadwal yang cukup sehingga para pekerja masih bisa mengatur waktu bekerja.
Satu Program, Beragam Realitas
Program GEMAR lahir dengan tujuan memperkuat peran ayah dalam tumbuh kembang anak. Sejumlah penelitian menunjukkan keterlibatan ayah berkontribusi terhadap perkembangan emosional, kepercayaan diri, hingga prestasi akademik anak.
Namun kisah Eni dan Maryadi menunjukkan bahwa implementasi sebuah kebijakan tidak selalu diterima dalam kondisi keluarga yang sama.
Ada anak yang kehilangan ayah karena meninggal dunia. Ada ayah yang harus memilih antara hadir di sekolah atau memperoleh penghasilan hari itu. Ada pula keluarga perantau yang orang tuanya bekerja di luar kota sehingga kehadiran fisik bukan perkara mudah.
Perbedaan kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kebijakan yang baik sering kali membutuhkan ruang adaptasi agar tetap mampu mengakomodasi realitas sosial yang beragam.
Program yang mendorong keterlibatan ayah tetap membawa pesan positif. Namun bagi sebagian keluarga, kehadiran sosok ayah bukan lagi sesuatu yang bisa diwujudkan, melainkan hanya bisa dikenang.
Di situlah tantangan sesungguhnya: bagaimana menghadirkan semangat keterlibatan orang tua tanpa membuat keluarga dengan kondisi khusus merasa semakin berbeda.
Baca Juga: Beban Generasi Sandwich Kian Berat: BKKBN Turun Tangan Bekali Konselor Keluarga
Berita Terkait
-
Beban Generasi Sandwich Kian Berat: BKKBN Turun Tangan Bekali Konselor Keluarga
-
Dari Keluarga untuk Indonesia Maju, Harganas 2025 Bawa Peran Baru di Jogja untuk Warga
-
Kolaborasi Jadi Kunci, DIY Berjuang Tekan Stunting Hingga 14 Persen di 2024
-
BKKBN DIY Ajak Pemangku Kepentingan Berperan Aktif Turunkan Stunting
-
Profil Hasto Wardoyo, Dari Bupati Hingga Kepala BKKBN Menuju Kursi Wali Kota Jogja
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
DIY Mulai Kering Kerontang, Bantuan Pusat Menunggu Status Darurat
-
Jelang HUT RI ke-81, Peternak DIY Gerah: Harga Telur Anjlok, Pakan Meroket
-
Film Dan Bandung Sapa Penonton Yogyakarta: Angkat Kisah Cinta, Persahabatan, dan Keluarga
-
Cherrypop 2026 Siap Guncang Prambanan, Puluhan Musisi Lintas Generasi Meriahkan Repelita Musik
-
42 Kasus Kebakaran Tercatat hingga Juli 2026 di Kota Jogja, Warga Diminta Tak Bakar Sampah