Tasmalinda
Kamis, 25 Juni 2026 | 21:06 WIB
program ayah mengambil rapor di salah satu sekolah di Yogyakarta
Baca 10 detik
  • Program Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) dijalankan tahun 2026 untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam pendidikan anak di sekolah.
  • Implementasi program di MAN 1 Yogyakarta menghadapi kendala karena latar belakang keluarga siswa yang sangat beragam.
  • Berbagai kondisi sosial seperti status yatim dan tuntutan ekonomi pekerja harian menjadi tantangan dalam penerapan kebijakan tersebut.

Meski demikian, ayah berusia 46 tahun tersebut tetap memilih hadir.

Menurutnya, keterlibatan ayah dalam pendidikan anak memang penting, selama sekolah memberikan jadwal yang cukup sehingga para pekerja masih bisa mengatur waktu bekerja.

Satu Program, Beragam Realitas

Program GEMAR lahir dengan tujuan memperkuat peran ayah dalam tumbuh kembang anak. Sejumlah penelitian menunjukkan keterlibatan ayah berkontribusi terhadap perkembangan emosional, kepercayaan diri, hingga prestasi akademik anak.

Namun kisah Eni dan Maryadi menunjukkan bahwa implementasi sebuah kebijakan tidak selalu diterima dalam kondisi keluarga yang sama.

Ada anak yang kehilangan ayah karena meninggal dunia. Ada ayah yang harus memilih antara hadir di sekolah atau memperoleh penghasilan hari itu. Ada pula keluarga perantau yang orang tuanya bekerja di luar kota sehingga kehadiran fisik bukan perkara mudah.

Perbedaan kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kebijakan yang baik sering kali membutuhkan ruang adaptasi agar tetap mampu mengakomodasi realitas sosial yang beragam.

Program yang mendorong keterlibatan ayah tetap membawa pesan positif. Namun bagi sebagian keluarga, kehadiran sosok ayah bukan lagi sesuatu yang bisa diwujudkan, melainkan hanya bisa dikenang.

Di situlah tantangan sesungguhnya: bagaimana menghadirkan semangat keterlibatan orang tua tanpa membuat keluarga dengan kondisi khusus merasa semakin berbeda.

Baca Juga: Beban Generasi Sandwich Kian Berat: BKKBN Turun Tangan Bekali Konselor Keluarga

Load More