- SMP dan SMA Gotong Royong di Yogyakarta memulai tahun ajaran baru pada Senin, 13 Juli 2026, dengan keterbatasan fasilitas.
- Sekolah ini menyediakan akses pendidikan bagi siswa kurang mampu, putus sekolah, serta penyandang disabilitas yang sering ditolak sekolah lain.
- Para guru berkomitmen tetap mengajar meski sekolah menghadapi kendala finansial demi memastikan seluruh anak mendapatkan hak pendidikan layak.
Meski hanya berempat di kelas VIII, Hugo tetap bersemangat belajar. Pelajaran menggambar menjadi mata pelajaran favoritnya.
Di balik kisah para siswa itu, Kepala SMP Gotong Royong, Ame Lita Br Tarigan Sibero melihat tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar sedikitnya jumlah murid. Tahun ajaran baru ini, kelas VII hanya diisi tiga siswa. Kelas VIII mendapat tambahan satu siswa pindahan, sementara kelas IX menerima lima siswa pindahan.
"Jumlah tersebut jauh dari ideal bagi sebuah sekolah sebenarnya, tapi kami memilih bertahan dan tidak meninggalkan anak-anak yang ingin bersekolah," paparnya.
Apalagi Lita, ukuran keberhasilan sekolah bukanlah banyaknya peserta didik. Ia justru melihat masih banyak anak yang membutuhkan tempat untuk tetap bisa bersekolah.
"Masih banyak anak-anak di sekitar kami yang putus sekolah karena persoalan ekonomi. Selama sekolah ini masih mampu membantu, kami tidak akan menyerah," katanya.
Mayoritas siswa di sekolah tersebut berasal dari keluarga kurang mampu. Banyak yang mengandalkan Program Indonesia Pintar (PIP) sebagai penopang biaya pendidikan.
Bahkan para guru tetap bertahan mengajar meski sekolah tidak mampu memberikan honor secara rutin. Meski dari 13 guru, sebanyak 12 guru sudah mendapatkan sertifikasi, mereka tetap harus berjuang keras memenuhi segala kebutuhan sekolah anak siswanya.
"Kami bertahan karena ingin membantu anak-anak. Sebagian guru mendapat tunjangan profesi dari pemerintah sehingga itu menjadi penyemangat kami untuk tetap mengajar," ungkapnya.
Lita mengaku, sekolah selama ini harus mencari donatur atau menggunakan gajinya untuk memenuhi kebutuhan sekolah seperti membeli alat tulis, memperbaiki fasilitas sekolah yang rusak hingga keperluan mandi anak-anak. Bahkan memberikan uang jajan.
Baca Juga: 8.000 Orang Lepas Status WNI dalam Lima Tahun, Indonesia Terancam Kehilangan SDM Berkualitas
"Ada siswa kami yang menggunakan satu sikat gigi bersamaan dengan saudaranya, akhirnya kami belikan sabun, pasta gigi dan sikat gigi. Ada pula anak yang tiap istirahat tidak pernah keluar kelas, ternyata tidak pernah dapat uang saku. Kami meski dengan keterbatasan memberikan uang jajan Rp2.000 agar dia bisa jajan sesekali," jelasnya.
Lita menyebut, sekolah itu memang menjadi tempat yang menerima siswa yang sering kali ditolak di tempat lain. Untuk jenjang SMP, sekolah bahkan memiliki guru pendamping khusus yang telah bersertifikat guna mendampingi siswa berkebutuhan khusus.
Menurutnya, banyak lulusan berkebutuhan khusus yang akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan di SMP, melanjutkan ke SMA Gotong Royong, hingga memiliki kepercayaan diri menjalani kehidupan setelah lulus.
"Saya hanya ingin anak-anak punya kesempatan kerja lebih luas kalau mereka bisa lulus SMA," akunya.
Lita menambahkan, selama MPLS kali ini, sekolah mengikuti panduan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (kemendikdasmen) dengan memperkenalkan lingkungan sekolah, tata tertib.
Sekolah juga mengajarkan pendidikan karakter, hidup sehat, anti-perundungan, hingga pembiasaan bangun pagi, sarapan, berolahraga, belajar, dan tidur tepat waktu.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
Terkini
-
Sekolah Dilarang Paksa Siswa Pakai Seragam Baru, MPLS Tak Boleh jadi Ajang Perundungan
-
Musim Kemarau di Jogja Makin Ekstrem, Pakar Minta Warga Terapkan Konservasi Air
-
Ketika Sekolah Lain Berebut Murid, SMP Gotong Royong Memilih Merangkul Anak yang Hampir Terlupakan
-
Militerisasi Kehidupan Sipil Tak Menyejahterakan Rakyat, Hanya Menyenangkan Pemimpin
-
Dosen Farmasi UMY Dinonaktifkan Buntut Dugaan Pelecehan, Kampus Telusuri Korban Lain