Budi Arista Romadhoni
Senin, 13 Juli 2026 | 14:19 WIB
Suasana MPLS di SMP Gotong Royong, Kota Yogyakarta, Senin (13/7/2026). (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Baca 10 detik
  • SMP dan SMA Gotong Royong di Yogyakarta memulai tahun ajaran baru pada Senin, 13 Juli 2026, dengan keterbatasan fasilitas.
  • Sekolah ini menyediakan akses pendidikan bagi siswa kurang mampu, putus sekolah, serta penyandang disabilitas yang sering ditolak sekolah lain.
  • Para guru berkomitmen tetap mengajar meski sekolah menghadapi kendala finansial demi memastikan seluruh anak mendapatkan hak pendidikan layak.

Meski hanya berempat di kelas VIII, Hugo tetap bersemangat belajar. Pelajaran menggambar menjadi mata pelajaran favoritnya.

Di balik kisah para siswa itu, Kepala SMP Gotong Royong, Ame Lita Br Tarigan Sibero melihat tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar sedikitnya jumlah murid. Tahun ajaran baru ini, kelas VII hanya diisi tiga siswa. Kelas VIII mendapat tambahan satu siswa pindahan, sementara kelas IX menerima lima siswa pindahan. 

"Jumlah tersebut jauh dari ideal bagi sebuah sekolah sebenarnya, tapi kami memilih bertahan dan tidak meninggalkan anak-anak yang ingin bersekolah," paparnya.

Apalagi Lita, ukuran keberhasilan sekolah bukanlah banyaknya peserta didik. Ia justru melihat masih banyak anak yang membutuhkan tempat untuk tetap bisa bersekolah.

"Masih banyak anak-anak di sekitar kami yang putus sekolah karena persoalan ekonomi. Selama sekolah ini masih mampu membantu, kami tidak akan menyerah," katanya.

Mayoritas siswa di sekolah tersebut berasal dari keluarga kurang mampu. Banyak yang mengandalkan Program Indonesia Pintar (PIP) sebagai penopang biaya pendidikan. 

Bahkan para guru tetap bertahan mengajar meski sekolah tidak mampu memberikan honor secara rutin. Meski dari 13 guru, sebanyak 12 guru sudah mendapatkan sertifikasi, mereka tetap harus berjuang keras memenuhi segala kebutuhan sekolah anak siswanya.

"Kami bertahan karena ingin membantu anak-anak. Sebagian guru mendapat tunjangan profesi dari pemerintah sehingga itu menjadi penyemangat kami untuk tetap mengajar," ungkapnya.

Lita mengaku, sekolah selama ini harus mencari donatur atau menggunakan gajinya untuk memenuhi kebutuhan sekolah seperti membeli alat tulis, memperbaiki fasilitas sekolah yang rusak hingga keperluan mandi anak-anak. Bahkan memberikan uang jajan.

Baca Juga: 8.000 Orang Lepas Status WNI dalam Lima Tahun, Indonesia Terancam Kehilangan SDM Berkualitas

"Ada siswa kami yang menggunakan satu sikat gigi bersamaan dengan saudaranya, akhirnya kami belikan sabun, pasta gigi dan sikat gigi. Ada pula anak yang tiap istirahat tidak pernah keluar kelas, ternyata tidak pernah dapat uang saku. Kami meski dengan keterbatasan memberikan uang jajan Rp2.000 agar dia bisa jajan sesekali," jelasnya.

Lita menyebut, sekolah itu memang menjadi tempat yang menerima siswa yang sering kali ditolak di tempat lain. Untuk jenjang SMP, sekolah bahkan memiliki guru pendamping khusus yang telah bersertifikat guna mendampingi siswa berkebutuhan khusus.

Menurutnya, banyak lulusan berkebutuhan khusus yang akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan di SMP, melanjutkan ke SMA Gotong Royong, hingga memiliki kepercayaan diri menjalani kehidupan setelah lulus.

"Saya hanya ingin anak-anak punya kesempatan kerja lebih luas kalau mereka bisa lulus SMA," akunya.

Lita menambahkan, selama MPLS kali ini, sekolah mengikuti panduan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (kemendikdasmen) dengan memperkenalkan lingkungan sekolah, tata tertib.

Siswa antri masuk ke kelas di SMP Gotong Royong, Kota Yogyakarta, Senin (13/7/2026). (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)

Sekolah juga mengajarkan pendidikan karakter, hidup sehat, anti-perundungan, hingga pembiasaan bangun pagi, sarapan, berolahraga, belajar, dan tidur tepat waktu.

Load More