- Warga Dusun Kemesu di Gunungkidul mengalami krisis air bersih sejak April 2026 setelah musim hujan berakhir.
- Sebagian besar warga petani terpaksa menjual ternak ayam mereka untuk membeli pasokan air tangki seharga Rp120.000.
- Kawasan perbukitan kapur tanpa sumber air tersebut selalu mengharuskan warga membeli air setiap musim kemarau tiba.
SuaraJogja.id - Kemarau kembali memaksa warga Dusun Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Gunungkidul, menguras tabungan hidup. Ketika persediaan air hujan di tandon habis, sebagian warga memilih menjual ternak untuk membeli air bersih.
Pada tahun ini, kondisi krisis air mulai dirasakan warga sejak April 2026, atau tepatnya setelah musim hujan berakhir. Tandon pribadi yang selama musim penghujan menampung air hanya mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga sekitar satu bulan.
"Untuk tahun 2026 itu sekitar bulan April ya. Bulan April atau mungkin sudah sudah selesai di musim hujan, itu kami mempunyai tandon-tandon pribadi yang untuk memasukkan air hujan ke dalam tandon tersebut akan tetapi tandon tersebut hanya mampu memberikan pasokan mungkin satu bulan saja," kata seorang warga Kemesu, Sutopo (46) saat dihubungi, Selasa (28/7/2026).
Setelah cadangan air habis, warga mulai bergantung pada pasokan air tangki. Disampaikan Sutopo, satu tangki air dijual seharga Rp120.000 dan rata-rata hanya cukup memenuhi kebutuhan satu keluarga selama sekitar dua minggu.
Itu sudah termasuk untuk mandi, mencuci, memasak, hingga memberi minum ternak.
"Ya, kurang lebih sekitar dua minggu untuk keperluan air semuanya, dari mandi, mencuci, kemudian memasak, kemudian memberikan air minum untuk ternak begitu," ucapnya.
Bagi warga yang mayoritas bekerja sebagai petani, kata Sutopo, biaya membeli air menjadi beban berat. Ketika tidak ada hasil panen dan penghasilan terbatas, ternak yang semula dipelihara sebagai tabungan terpaksa dikurangi untuk mendapatkan air.
"Karena memang kami bukan semacam ekonomi yang baik, dalam arti hanya mayoritas petani, memang ternak kami dijual ya murni untuk membeli air begitu," ungkapnya.
Sutopo bilang warga lebih banyak menjual sejumlah ayam kampung yang dimiliki ketimbang kambing dan sapi yang dianggap sebagai simpanan jangka panjang.
Baca Juga: Yogyakarta Jadi Magnet Turis Asing, 126 Ribu WNA Gunakan Kereta Sepanjang Semester I 2026
Namun, pengurangan ternak tetap menjadi pilihan yang terus berulang setiap musim kemarau. Terutama bagi keluarga yang tidak memiliki anggota keluarga dengan penghasilan dari luar daerah.
"Ya, rata-rata itu yang dijual ayam. Jadi kalau kambing itu kami merasa sangat, eman-eman, karena ya memang itu tabungan untuk jangka panjang," tandasnya.
Sutopo sendiri telah menjual dua hingga tiga ekor ayam kampung pada tahun ini. Dengan harga sekitar Rp40.000 hingga Rp50.000 per ekor, hasil penjualan ayam tersebut digunakan untuk menutup sebagian biaya pembelian satu tangki air.
"Saya jual ternak ayam itu yang ayam kampung yang kami pelihara gitu saya jual ada dua, kemudian sebagian gaji saya sebagai saya bekerja di kebersihan, gaji saya saya belikan untuk air," ujarnya.
Krisis air bukan persoalan baru bagi warga Kemesu. Sejak menetap di wilayah itu pada 2012, Sutopo mengaku setiap musim kemarau warga harus membeli air. Hal itu setelah kawasan mereka tidak memiliki sumber air tanah, sungai, maupun sumber air lain yang dapat dimanfaatkan.
"Semenjak 2012 itu sampai sekarang hari ini ya terus setiap musim kemarau ya memang kami harus membeli (air)," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Puluhan Tangki Tiap Musim Kemarau Tak Selesaikan Masalah, Warga Kemesu Minta Pencarian Sumber Air
-
Ramai Wisatawan Dipalak Saat Foto di Plang Malioboro, UPT Tertibkan Fotografer
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Kekeringan di Gunungkidul, Warga Kemesu Terpaksa Jual Ternak Demi Beli Air
-
Chemistry Keisya Levronka dan Paul Aro Warnai Film 'Dan Bandung', Bakal Berperan Jadi Siapa?