Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:35 WIB
Ilustrasi pemberian Bansos (dok. istimewa)
Baca 10 detik
  • Pakar Ekonomi UMY Susilo Nur Aji menyatakan desil kesejahteraan DTSEN di Yogyakarta pada Sabtu (22/8/2026) bukanlah vonis mutlak ekonomi.
  • Perubahan ekonomi rumah tangga seperti kehilangan pekerjaan dapat terjadi sangat cepat sehingga data desil berisiko menjadi tidak akurat.
  • Pemerintah perlu memperbarui data dan memperhatikan aspek kerentanan serta daya beli agar kebijakan sosial tidak salah sasaran.

Dalam pemeringkatan kesejahteraan, masyarakat dikelompokkan ke dalam 10 desil. Desil 1 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan terendah, sedangkan desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan tertinggi.

Susilo menegaskan keberadaan desil tetap penting sebagai alat pemetaan. Namun, angka tersebut seharusnya menjadi pintu awal untuk menyaring kondisi masyarakat, bukan menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan nasib sebuah keluarga.

Dengan pendekatan tersebut, pemutakhiran data menjadi kunci agar kebijakan sosial tidak tertinggal dari perubahan kondisi masyarakat.

Sebab, keluarga yang hari ini terlihat mampu belum tentu masih berada dalam kondisi yang sama beberapa bulan kemudian. Begitu pula keluarga yang hari ini berada dalam kelompok rentan bisa mengalami perubahan setelah mendapatkan pekerjaan atau sumber pendapatan baru.

Karena itu, Susilo kembali menegaskan, “Desil adalah alat bantu penyaringan, bukan vonis.

Load More