Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 21 Agustus 2026 | 07:38 WIB
Aplikasi Cek Bansos yang bisa dilihat untuk mengetahui penerimaan bantuan. [Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi]
Baca 10 detik
  • Kepala Dinas Sosial DIY Suyarno menyatakan status desil bansos warga berubah cepat secara tiba-tiba sejak Kamis (20/8/2026).
  • Perubahan desil dari BPS pusat tersebut bersumber dari banyak data baru yang menggabungkan BKKBN hingga sensus ekonomi.
  • Kenaikan desil di atas kelompok empat menyebabkan penyaluran bansos warga tertunda karena tidak sesuai kondisi riil lapangan.

SuaraJogja.id - Warga penerima bantuan sosial (bansos) di DIY kini menghadapi persoalan baru. Status desil yang menjadi salah satu dasar penentuan penerima bansos disebut dapat berubah secara tiba-tiba, bahkan melonjak hingga desil 7, 8, 9, atau 10.

"Perubahan ini bisa membuat penerima bansos jadi berkurang," ujar Kepala Dinas Sosial (dinsos) DIY, Suyarno di Yogyakarta, Kamis (20/8/2026).

Menurut Suyarno, perubahan data tersebut dilakukan Badan Pusat Statistim (BPS) pusat. Berbeda dari sebelumnya, perubahan desil saat ini terjadi lebih cepat dari mekanisme pemutakhiran yang semestinya dilakukan secara berkala. Kondisi ini membuat Dinas Sosial DIY harus melakukan pemadanan data berulang kali. 

"Kalau perubahan desil dan penetapan desil itu yang bisa melakukan ada di BPS pusat. Ketika ada perubahan itu sebetulnya ada regulasi mengamanatkan tiga bulanan, kenyataannya ternyata lebih cepat," jelasnya.

Perubahan yang terus saja terjadi, menurutnya akibat sumber data yang digunakan BPS untuk menentukan desil semakin banyak. Selain data sebelumnya, kini terdapat data dari BKKBN hingga hasil sensus ekonomi yang turut dipadankan.

Penggabungan berbagai sumber data tersebut justru dapat memunculkan persoalan ketika hasil pemadanan tidak menggambarkan kondisi riil keluarga di lapangan. 

"Desilnya rata-rata memang berubahnya naik," katanya.

Ia mencontohkan, keluarga yang sebelumnya berada dalam kelompok desil rendah dapat tiba-tiba berada di desil yang jauh lebih tinggi. Padahal, kondisi ekonomi dan pendapatan keluarga tersebut belum tentu berubah secara signifikan.

Masalahnya, kenaikan desil bukan sekadar perubahan angka dalam sistem. Dampaknya bisa langsung terasa di dapur keluarga penerima bansos.

Baca Juga: 13 Terdakwa Little Aresha Akhirnya Disidang, Orang Tua Korban Desak 4 Pelaku Lain Diproses Hukum

Padahal mengacu pada ketentuan yang disampaikan Dinsos DIY, sejumlah program bansos hanya diperuntukkan bagi keluarga pada desil 1 sampai 4. Ketika sistem mencatat keluarga tersebut berada di luar kelompok itu, bantuan dapat terhenti.

"Ketika keluar dari desil 1 sampai 4, bisa ada 7, 8, 9. Otomatis enggak bisa menerima bansos, padahal realnya harusnya masih bisa menerima bansos karena kondisi keluarga, pendapatan dan yang lainnya memang layak masuk di desil 1 sampai 4," tandasnya.

Dinsos DIY pun berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, pemda harus mengikuti data yang telah ditetapkan. Di sisi lain, mereka menemukan kondisi di lapangan yang belum tentu sesuai dengan hasil pemeringkatan dalam sistem.

Setiap bulan, data penerima jaminan sosial dipadankan dengan data Kementerian Sosial. Jika desil penerima tiba-tiba naik di luar kelompok 1–4, Dinsos harus melakukan penundaan penyaluran sambil menunggu perbaikan data.

"Ketika desilnya naik tidak di 1 sampai 4, pasti kami pending dulu. Kita lihat perbaikan desilnya," ujarnya.

Persoalan semakin rumit karena perubahan desil disebut bisa terjadi dalam waktu sangat cepat. Bahkan, dalam hitungan hari status desil seseorang memungkinkan berubah kembali.

Load More