Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 18 September 2026 | 08:31 WIB
Ilustrasi satpam sekolah melakukan pelecehan seksual terhadap murid. [Suara.com/Syahda]
Baca 10 detik
  • Seorang satpam di SMAN 1 Sentolo Kulon Progo diduga melakukan pelecehan dengan merangkul siswa pada September 2026.
  • Dinas Pendidikan DIY menurunkan tim untuk menyelidiki kasus dugaan pelecehan serta potensi intimidasi pembuatan video klarifikasi siswa.
  • Pihak vendor telah memberhentikan sementara oknum satpam tersebut sambil menunggu hasil pemeriksaan resmi dari dinas terkait.

Dinas tengah memeriksa apakah benar siswa diminta atau ditekan untuk membuat video klarifikasi.

Jika dugaan intimidasi tersebut terbukti, Disdikpora DIY menyatakan akan menempuh mekanisme sesuai aturan. Bahkan apabila tindakan tersebut dilakukan oleh guru, kepala sekolah, maupun pihak lain di lingkungan sekolah, terdapat mekanisme pembinaan dan sanksi yang dapat diterapkan.

"Apakah memang diminta diintimidasi untuk membuat video klarifikasi atau tidak, itu nanti yang kami simpulkan," katanya.

Suci menegaskan siswa yang melaporkan dugaan tindakan tidak semestinya justru harus mendapatkan perlindungan. Untuk itu Disdikpora DIY juga akan memanggil kepala sekolah dan pihak-pihak terkait untuk mendapatkan keterangan secara langsung. 

Pemeriksaan tersebut diperlukan sebelum dinas mengambil kesimpulan mengenai ada atau tidaknya intimidasi maupun pelanggaran lainnya.

"Mestinya kita harus melindungi orang-orang yang memang sudah melaporkan hal-hal yang tidak sesuai," ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan laporan awal sekolah, kondisi siswa yang menjadi korban disebut relatif tidak mengalami tekanan berat atau trauma. Namun Disdikpora DIY menegaskan kondisi tersebut tidak berarti dugaan pelecehan dapat ditoleransi.

Disdikpora DIY memastikan pendalaman kasus terus dilakukan. Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar untuk menentukan langkah lebih lanjut terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.

"Kalau lihat dari laporan sekolahnya memang sedikit hanya perbuatan-perbuatan yang berbau pelecehan. Itu kan tetap tidak bisa kita toleransi," imbuhnya.

Baca Juga: Menjemput Rezeki dari Balik Layar Gadget hingga Ujung Canting, Kisah Difabel Bertahan Hidup di Jogja

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More