Briptu Ima,Srikandi Indonesia di PBB yang Hobi Menangis

Chandra Iswinarno
Briptu Ima,Srikandi Indonesia di PBB yang Hobi Menangis
Briptu Ima, pasukan perdamaian PBB asal Yogyakarta. (Instagram/@hikmanursyaa)

Ima pernah terdaftar di Fakultas Ilmu Pariwisata di UGM pada 2011 lalu.

Suara.com - Mata Dwi Sulastri berkaca-kaca ketika menyebut Ima atau Briptu Hikma Nur Syafa, satu dari 14 srikandi di Indonesia yang menjadi bagian dari tim Misi Kemanusian Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Bangui, Afrika Tengah.

Sambil mengusap air matanya, wanita 55 tahun itu mengaku sangat bangga dengan putri bungsunya yang kini namanya viral di jagad lini masa itu. 

Bilamana tidak, Ima yang semasa kecilnya manja dan suka sekali menangis ternyata bisa terpilih di mewakili Indonesia untuk menjaga perdamaian antarnegara di negara yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Proses panjang Ima untuk menjadi polwan pun penuh dengan drama.

"Kebanggaan saya bisa disampaikan dengan kata-kata melihat Ima sampai ke Afrika membawa nama baik negara," papar Dwi saat ditemui di rumahnya yang beralamat di RT 05 Tarudan Wetan, Bangunharjo, Sewon, Bantul pada Selasa (13/8/2019).

Briptu Ima, pasukan perdamaian PBB asal Yogyakarta. (Instagram/@hikmanursyaa)
Briptu Ima, pasukan perdamaian PBB asal Yogyakarta. (Instagram/@hikmanursyaa)

Dwi yang diamini suaminya, Nur Hyang Sukmono Wahyudi (56) bercerita, sejak lahir Ima suka sekali menangis. Saat mandi tiba, dia akan menangis bila didahului kakak semata wayangnya, Briptu Rengganis. Saat diantar ayahnya untuk sekolah, gurunya juga sering menelpon rumah karena Ima tidak berhenti menangis di SD Muhammadiyah Karangkajen Yogyakarta.

Ima juga tidak pernah punya cita-cita menjadi polisi. Ketertarikan gadis kelahiran 1 Agustus 1994 itu justru di bidang pariwisata. Untuk mendukung mimpinya keluar negeri, Ima ikut kompetisi Putra/Putri Bantul dan berhasil meraih juara 3 saat di SMAN 1 Sewon.

Bahkan, Ima pernah terdaftar di Fakultas Ilmu Pariwisata di UGM pada 2011 lalu. Namun baru satu tahun berkuliah, Ima keluar dari UGM untuk ikut seleksi polwan.

"Saya baru tahu saat dia ikut seleksi (polwan) ke Jakarta karena sebelumnya benar-benar tidak mau jadi polisi," paparnya.

Keluarga Briptu Hikma Nur Syafa di Sewon Bantul DIY. [Suara.com/Putu Ayu P]
Keluarga Briptu Hikma Nur Syafa di Sewon Bantul DIY. [Suara.com/Putu Ayu P]

Karenanya, saat gadis yang menguasai Bahasa Inggris dan Prancis itu berhasil pada titik kesuksesan sekarang ini, dia sangat bangga dan bersyukur.

Guru seni di SD Monggang, Bantul itu mengaku seringkali kangen dengan putri tersayangnya tersebut. Apalagi Ima berada di negara dunia ketiga yang jauh dari fasilitas memadai dan kadang terjadi konflik bersenjata.

"Tapi saya berserah pada Allah untuk menjaga keselamatan Ima. Saya yakin dia bisa menjaga diri," paparnya.

Rengganis menambahkan, proses Ima menjadi polisi sedikit banyak karena desakannya. Diantaranya karena desakan ekonomi keluarga.

"Awalnya tidak mau saya minta daftar polwan, kami sempat berantem. Alasan dia tidak bisa keluar negeri," papar polwan yang bertugas di Polda DIY itu.

Briptu Ima, pasukan perdamaian PBB asal Yogyakarta. (Instagram/@hikmanursyaa)
Briptu Ima, pasukan perdamaian PBB asal Yogyakarta. (Instagram/@hikmanursyaa)

Namun akhirnya Ima menerima sarannya untuk seleksi. Selama tujuh bulan, Ima mengikuti seleksi administrasi, kesehatan dan ketrampilan lainnya.

Lolos jadi polwan, Ima ditempatkan di Polres Gunung Kidul pada 2013. Kemudian pada 2016 dia dipindah di Satlantas Bantul.

Ingin lebih banyak berkarya untuk Indonesia, Ima pun ikut seleksi maju ke seleksi Misi Kemanusiaan PBB. Selama 1,5 tahun Ima digembleng berbagai keterampilan. 

Selain menguasai senjata, dia juga harus berlatih kemampuan yang beragam. Hingga akhirnya, dia lolos bersama 130-an polisi lainnya.

"Ima berangkat satu bulan ini. Kami sangat bangga dia bisa berbakti untuk negara," katanya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS