Haedar Nashir Guru Besar UMY, Usul Deradikalisasi Jadi Moderasi

Haedar menambahkan, radikalisme selama ini lebih cenderung dimaknai dalam hal kehidupan beragama, khususnya Islam.

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Kamis, 12 Desember 2019 | 14:05 WIB
Haedar Nashir Guru Besar UMY, Usul Deradikalisasi Jadi Moderasi
Haedar Nashir dikukuhkan sebagai guru besar UMY, Kamis (12/12/2019). - (SUARA kontributor/Putu)

SuaraJogja.id - Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dikukuhkan sebagai guru besar (gubes) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (12/12/2019). Menjadi gubes ke-14, Haedar dalam pidato ilmiahnya mengusulkan adanya perubahan berupa deradikalisasi sebagai upaya mengatasi radikalisme di Indonesia menjadi moderasi.

Perubahan itu diusulkan karena sebenarnya Indonesia sudah menjadi negara moderat sejak ratusan tahun. Gotong royong, kerahamahtaman, kebaikan, serta nilai-nilai Pancasila yang menjadi pedoman hidup bangsa ini menjadi ciri kemoderatan bangsa.

"Pancasila sebagai ideologi [bangsa Indonesia] juga adalah ideologi moderat, ideologi tengah dari semua ideologi ekstrem. Karenanya sudah waktunya deradikalisasi maknanya diganti moderasi," ungkapnya.

Sebab, kata Haedar, bila "deradikalisasi" tetap saja dipertahankan, maka nanti justru akan menjadi kontraproduktif. Sebab upaya deradikalisasi terus saja menimbulkan kontroversi.

Baca Juga:Ratusan Massa Pendukung Kartu Sehat Bekasi Desak Ketua DPRD Mundur

"Derap moderasi sudah bertumbuh di banyak tempat. Dengan moderasi kita bisa menghadapi berbagai macam bentuk radikalisme yang mengarah pada ekstremisme dan kekerasan dengan cara-cara yang lebih objektif dan melibatkan seluruh kekuatan warga di seluruh aspek kehidupan kebangsaan seperti politik, ekonomi, budaya, dan keagamaan ," tandasnya.

Haedar menambahkan, radikalisme selama ini lebih cenderung dimaknai dalam hal kehidupan beragama, khususnya Islam. Hal itu menjadikan bias karena bertentangan dengan objektivitas kebenaran dan posisi Pancasila sebagai tolok ukur bernegara.

Pada saat yang sama, pandangan itu menjadikan Islam dan umat Islam terdakwa dalam stigma radikalisme, sehingga mengabaikan radikalisme lainnya yang tidak kalah berbahaya atau bermasalah bagi kepentingan bangsa dan negara.

Karenanya, melalui perubahan deradikalisasi menjadi moderasi ke-Indonesia-an, maka diharapkan rumah dan lingkungan soiologis Indonesia bisa lebih menumbuh kembangkan energi positif bagi masa depan bangsa dan generasi emas Indonesia.

"Sebab jika setiap hari isu radikalisme terus digulirkan, tanpa mengurangi usaha menangkal segala penyakit radikalisme, maka bumi Indonesia akan sesak napas oleh polusi radikalisme," imbuhnya.

Baca Juga:Cantiknya Caroline Wozniacki, Atlet Tenis yang Putuskan Gantung Raket

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak