Antisipasi Pohon Tumbang, DLH Sleman Izinkan Warga Pangkas Tanaman

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Muhammad Ilham Baktora
Antisipasi Pohon Tumbang, DLH Sleman Izinkan Warga Pangkas Tanaman
Pohon tumbang di Kabupaten Sleman saat terjadi hujan lebat dan angin kencang, Rabu (11/12/2019). - (Twitter/@r_adi1312/@dimasciken)

Mengantisipasi kejadian serupa, Kepala DLH Sleman Dwi Anta Sudibya membolehkan masyarakat memangkas pohon secara mandiri dengan beberapa syarat.

SuaraJogja.id - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman memperbolehkan masyarakat memangkas pohon yang dirasa membahayakan lingkungan. Pohon dapat dipangkas dengan menyisakan tinggi lima hingga tujuh meter.

Kepala DLH Sleman Dwi Anta Sudibya mengungkapkan hal tersebut pascainsiden pohon tumbang di Jalan Wates, yang menimpa Endi Yogananta (26) dan istrinya, Israni Silvia Sujarman (25), yang tengah hamil, hingga bayi 8 bulan dalam kandungannya meninggal. Mengantisipasi kejadian serupa, Dwi Anta membolehkan masyarakat memangkas pohon secara mandiri dengan beberapa syarat.

"Sebenarnya masyarakat tidak boleh memotong pohon [utuh]. Namun, hanya boleh memangkas secara mandiri pohon yang ada di lingkungannya ketika dirasa membahayakan lingkungan, apalagi warga lain, tapi pemangkasan dilakukan dengan menyisakan tinggi pohon lima hingga tujuh meter," terang Dwi Anta saat dihubungi SuaraJogja.id, Senin (10/2/2020).

Dwi Anta membeberkan, memang belum ada aturan yang menyebutkan bahwa masyarakat bisa melakukan pemangkasan tersebut.

"Memang belum ada aturan tersebut, tapi ini menjadi kebijakan, sehingga diperbolehkan," jelasnya.

Ia menerangkan, selain memangkas pohon, warga diperkenankan mengurangi jumlah dahan pohon yang mengganggu. Ketika petugas telah dihubungi, tetapi belum ada tindakan, warga bisa menangani secara pribadi.

"Kami memiliki keterbatasan [personel] untuk menjangkau seluruh pohon yang ada di Kabupaten Sleman. Sepanjang lebih kurang 950 kilometer jalanan yang tertanam pohon harus kami pantau, dan belum semua terjangkau," tuturnya.

Selain petugas DLH melakukan pengecekan, pihaknya juga meminta warga melaporkan jika ada pohon yang berpotensi roboh.

Di sisi lain, tambahan dua alat pemangkas pohon milik DLH diprediksi menambah mudah kinerja petugas. Pasalnya, selama ini DLH baru memiliki satu alat untuk difungsikan ketika ada aduan masyarakat soal pohon roboh.

"Satu alat lainnya digunakan saat kami melakukan pengecekan. sehingga satu alat bisa stand by untuk menangani peristiwa dari laporan atau aduan masyarakat," ungkap Dwi Anta.

Diberitakan SuaraJogja.id sebelumnya, sebatang pohon sonokeling berdiameter 60 sentimeter dengan tinggi 10 meter ambruk di Jalan Wates KM 4, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (5/2/2020). Sepasang suami-istri Endi Yogananta (26) dan Israni Silvia Sujarman (25), yang juga menjadi korban dalam kejadian ini, terpaksa kehilangan bayinya yang tengah berusia 8 bulan di dalam kandungan.

Mengetahui Silvi hamil besar, pihak rumah sakit, kata Endi, langsung melakukan persalinan dengan jalan operasi sesar. Namun sayang, bayi Endi dan Silvi, yang telah diberi nama Pradipta Kenzo Yoshvia, didiagnosis mendapat benturan di bagian kepala. Di hari itu juga Kenzo kemudian dimakamkan, sementara Silvi menjalani perawatan intensif karena mengalami luka-luka yang cukup parah.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS