Aliran Drainase Sebabkan Rumah di Jlagran Amblas, Longsor Terjadi 3 Kali

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Muhammad Ilham Baktora
Aliran Drainase Sebabkan Rumah di Jlagran Amblas, Longsor Terjadi 3 Kali
Sejumlah tim gabungan Potensi Bencana nampak membersihkan puing-puing rumah akibat talut longsor di Kampung Jlagran RT 2/RW 8, Kelurahan Pringgokusuman, Kecamatan Gedongtengen, Yogyakarta, Kamis (12/3/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Retakan yang terjadi di sekitar talut sudah terlihat sejak setahun lalu.

SuaraJogja.id - Hujan deras yang terjadi pada Rabu (11/3/2020) sore serta dugaan aliran drainase yang rusak menyebabkan satu rumah warga Jlagran RT 2 RW 8, Kelurahan Pringgokusuman, Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta longsor. Dalam peristiwa yang terjadi sekitar pukul 14.15 WIB itu, terjadi longsoran sebanyak tiga kali.

Pemilik rumah, Yohanes Didik Want Umboro (47), mengungkapakan bahwa peristiwa terjadi saat dirinya berada dalam rumah selepas pulang kerja.

"Saya tinggal hanya bertiga, yakni satu anak serta istri. Longsoran sendiri terjadi bertahap. Pertama pada saat hujan deras pukul 14.15 WIB, posisi tanah di belakang rumah amblas. Selanjutnya pukul 15.00 WIB terjadi longsor kecil. Sekitar pukul 16.30 WIB baru terjadi longsor besar hingga merobohkan kamar tidur, kamar mandi, serta dapur," kata Umboro kepada SuaraJogja.id, Kamis (12/3/2020).

Umboro menjelaskan saat peristiwa terjadi, dirinya sempat berlari keluar untuk menyelamatkan diri. Namun karena longsoran pertama tidak membuat dampak yang besar, ia berusaha menyelamatkan barang-barang yang ada di timur rumahnya.

"Satu sepeda dan kasur tempat tidur terperosok akibat longsoran itu. Selanjutnya, saya menghubungi RT dan diteruskan kepada RW. Setelah itu baru datang BPBD Kota untuk membantu," terang dia.

Umboro melanjutkan, sebelumnya retakan yang terjadi di sekitar talut sudah terlihat sejak setahun lalu. Pria yang sudah 30 tahun tinggal di pinggir sungai tersebut juga telah melaporkan kepada pihak berwenang untuk penanganannya.

"Sudah saya laporkan terkait retaknya talut tersebut. Namun dari pemerintah belum ada tanggapan, dan kami hanya bisa menunggu. Karena tidak ada tanggapan apa pun. akhirnya longsor," katanya.

Longsornya talut di bawah rumah Umboro memaksa dia dan kelaurga untuk mengungsi sementara ke rumah saudara. Namun, Umboro mengaku hingga Rabu malam pascakejadian, ia masih menempati rumahnya untuk beristirahat.

"Usai terjadi longsor, saya sendiri masih tidur di rumah. Keadaannya memang membahayakan. Hanya saja keluarga saya pindahkan, sementara saya berjaga di lokasi," terang dia.

Camat Gedongtengen Tauhid menduga, aliran air drainase yang ada di dekat rumah Umboro rusak. Pasalnya, beberapa aliran air merembes dari retakan talut yang ada.

"Saya sudah berkoordinasi dengan BPBD. Memang dugaannya dipicu dari rembesan air yang menggerus tanah hingga longsor. Namun hujan deras kemarin [Rabu] juga bisa menjadi faktor terjadinya longsor. Kejadian ini tidak ada korban jiwa," katanya.

Hingga kini, sejumlah personel TNI-Polri, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kota Yogyakarta, Kampung Tangguh Bencana (KTB) serta potensi kebencanaan lain berusaha membersihkan puing-puing rumah yang mengganggu. Lokasi longsoran yang dekat dengan jembatan penyeberangan juga sempat menyebabkan macet di jalan. Petugas kepolisian pun sempat menutup jalur dari barat ke timur agar proses pembersihan puing tak terganggu.

Sebelumnya diberitakan, sebuah rumah warga Jlagran amblas karena talut yang berada tepat di bagian bawah rumahnya longsor. Longsoran terjadi sepanjang 20 meter dengan tinggi 10 meter.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS