Prediksi Akhir Pandemi Corona Mundur, Pakar UGM Sebut Mudik Jadi Penyebab

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Prediksi Akhir Pandemi Corona Mundur, Pakar UGM Sebut Mudik Jadi Penyebab
Ilustrasi virus corona. [Pixabay]/emmagrau]

Pada akhir Maret 2020, berdasarkan data pemerintah sebelumnya sampai 26 Maret 2020, Dedi dan tim telah merilis prediksi sementara akhir pandemi, yaitu pada akhir Mei 2020.

SuaraJogja.id - Sempat disebut Mei 2020, prediksi akhir pandemi corona di Indonesia mundur menjadi akhir Juli 2020. Prediksi tersebut disertai perkiraan proyeksi total penderita positif Covid-19, yang berada di angka 31 ribuan kasus.

Pernyataan ini disampaikan Guru Besar Statistika Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dedi Rosadi dalam rilis terbaru pada Sabtu (25/4/2020). Bersama dengan pakar lainnya, yakni alumnus FMIPA UGM Heribertus Joko dan alumnus PPRA Lemhanas Fidelis I Diponegoro, Dedi membuat permodelan probabilistik dengan dasar data nyata atau probabilistik data-driven model (PDDM), dengan asumsi waktu puncak tunggal.

Rilis beserta prediksi terbaru tersebut mengacu pada data publikasi pemerintah hingga 23 April 2020. Dari data itu diperkirakan, puncak pandemi terjadi pada Mei 2020 dan mereda di akhir Juli 2020.

Pada akhir Maret 2020 lalu, berdasarkan data pemerintah sebelumnya sampai 26 Maret 2020, Dedi dan tim telah merilis prediksi sementara akhir pandemi, yaitu pada akhir Mei 2020 dengan total penderita positif Covid-19 mencapai 6.174 kasus. Prediksi menggunakan model PPDM tersebut bersifat sementara dan diperbaharui berkala sesuai data yang ada untuk prediksi jangka panjang.

Menurut keterangan Dedi, akurasi model dengan parameterisasi dan hasil simulasi prediksi tersebut masih perlu dievaluasi dalam setidaknya dua minggu ke depan. Evaluasi ini diperlukan untuk melihat, apakah terjadi tren penurunan yang konsisten atau justru menjadi tren naik. Namun, akurasi prediksi akan makin baik jika puncak pandemi telah terlewati.

"Hasil prediksi yang diberikan di atas baru memotret data nasional sebagai satu entitas dan melakukan sejumlah simplifikasi," jelasnya, dikutip dari rilis Humas UGM.

Dedi menyebutkan, gambaran prediksi dalam rilis darinya belum disesuaikan dengan potensi penyebaran virus berdasarkan faktor kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Selain itu, pihaknya belum memodelkan efek pengaruh pengendalian dari pemerintah, seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Namun secara umum, ia menegaskan, harus dipahami bahwa kesesuaian realitas masa depan dengan hasil simulasi model matematis (termasuk model PDDM) bergantung pada banyak faktor yang kompleks.  Secara matematis, katanya, makin jauh dari titik pengamatan terakhir, ketidakpastian prediksi masa depan akan makin besar. Sebab, banyak faktor yang terus berubah di masa yang akan datang.

Dirinya memaparkan, setidaknya ada tiga hal penting yang harus diwaspadai dalam beberapa waktu ke depan yang berpotensi mengubah timeline menjadi lebih cepat atau lebih lambat dari yang diprediksikan serta memengaruhi prediksi jumlah kasus.

Yang pertama adalah kondisi dan usaha untuk mengbah kecepatan penularan, bahkan memutus total rantai penularan penyakit. Upaya ini perlu dilakukan melalui pengendalian yang efektif terhadap episentrum-episentrum penyebaran virus yang telah ada, khususnya kelompok provinsi-provinsi zona merah.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS