Jokowi Mau Buka Lahan Baru, Dosen UGM Minta Pertimbangkan Hal Ini

"Apalagi kalau jarak lahan tersebut terlalu jauh dari pemukiman, wes gak masuk kui pak. Mending cara lain aja," kata Agus.

M Nurhadi
Rabu, 29 April 2020 | 17:21 WIB
Jokowi Mau Buka Lahan Baru, Dosen UGM Minta Pertimbangkan Hal Ini
(Twitter/@picoez)

SuaraJogja.id - Belum lama ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar membuka lahan persawahan baru demi mencegah ancaman krisis pangan yang terjadi akibat wabah virus corona.

Mengomentari hal tersebut, dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Agus Affianto atau yang dikenal dengan sebutan mprop picoez melalui akun twitternya menanggapi hal tersebut. 

"Yang terhormat presiden Republik Indonesia, Insinyur Joko widodo. Saya barusan membaca, ada rencana membuka lahan gambut untuk mengatasi krisis pangan, sekitar 900 ribu hektar," ujarnya membuka video dalam unggahannya tersebut.

Agus melalui akun twitternya @picoez juga membandingkan kebijakan ini dengan kebijakan yang pernah diambil pada tahun 2016 lalu. Ia juga menanyakan kepada Jokowi tentang adanya pengkajian mendalam dari sisi baik ekonomi, sosial dan lingkungan terkait pembukaan lahan tersebut.

Baca Juga:15 Pelanggar PSBB Pekanbaru Divonis Didenda Rp800 ribu hingga Rp 3 Juta

"Jadi saya mengingatkan dari tahun 2016-an lalu, bapak mencanangkan program restorasi gambut untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan sekaligus perbaikan sumber penghidupan masyarakat. Kemudian, belajar dari program dari orde baru, yakni lahan 1 juta hektar yang lokasinya di kalimantan tengah, sekitar taman nasional Sebangau yang gagal. Bapak rencananya akan membuka lahan baru, apakah sudah dikaji secara ekonomi, lingkungan dan sosialnya," ujarnya.

Ia juga mengatakan, agar Jokowi kembali menimbang ulang untung rugi secara ekonomi. Karena menurutnya, belum tentu pembukaan lahan persawahan itu menguntungkan negara.

"Secara ekonomi saya katakan, bisa dilakukan. Tapi untung atau tidak? Belum tentu. Kenapa gitu? Mungkin malah banyak buntungnya (rugi). Karena yang dihadapi adalah alam, jadi gambut kalau terendam sifatnya asam kalau dikeringkan sifatnya basa," ungkap Agus.

Lebih jauh, ia menyebut baik bersifat asam atau basa,keduanya tidak cukup baik bagi tanaman. Terlebih kalau dikeringkan dengan kanalisasi, karena bisa menyebabkan daerah yang akan dibuka lahannya tersebut menjadi rentan kebakaran di musim kemarau. 

"Kandungan air di tanah gambut itu adalah cadangan air tawar terbesar di dunia. Sifatnya spoon, begitu dibuka dengan kanalisasi, pada tahun pertama ada kemungkinan tanahnya turun 50 sampai 100 cm. Dan kemudian karena airnya tersedot keluar semua, maka besar kemungkinan tinggi tanah akan terus menurun," ujarnya.

Baca Juga:KAI Rugi Puluhan Miliar Gara-gara Corona

Ia juga menyebut, dari sisi sosial, apabila jarak lahan tersebut terlalu jauh dari pemukiman, maka diperkirakan justru bisa menjadi faktor yang menyulitkan pembukaan lahan.

"wes gak masuk kui pak. Mending cara lain aja," kata Agus.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak