Awalnya Biasa Saja, Tengah Ramadan Jemaah Masjid An Nurumi Kangen Tadarus

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Muhammad Ilham Baktora
Awalnya Biasa Saja, Tengah Ramadan Jemaah Masjid An Nurumi Kangen Tadarus
Suasana Masjid An Nurumi di Jalan Solo-Yogyakarta, Desa Candisari, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Kamis (14/5/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

"Sudah pertengahan puasa, rasa untuk meramaikan masjid ini muncul. Kami berharap wabah ini segera hilang untuk kembali memakmurkan masjid," katanya.

SuaraJogja.id - Bulan Ramadan 2020 hadir dengan suasana berbeda. Mewabahnya Covid-19, yang disebabkan  virus corona, memaksa sejumlah takmir masjid meniadakan kegiatan di masjid yang berpotensi menciptakan kerumunan, baik tarawih hingga tadarus di masjid.

Hal itu membuat beberapa anggota jemaah merasa hampa saat mendatangi masjid-masjid, seperti yang dirasakan Purwadi, anggota jemaah masjid An Nurumi di Desa Candisari, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman.

"Tidak ada lagi kegiatan tadarus, jadi dilakukan di rumah masing-masing, tapi tetap kami mengikuti aturan pemerintah untuk meniadakan kegiatan Ramadan selama wabah Covid-19 ini," jelas Purwadi, ditemui SuaraJogja.id di sela berbuka puasa, Kamis (14/5/2020).

Ketua Takmir Masjid An Nurumi tahun 2006 ini menuturkan, rasa rindu aktivitas saat berbuka puasa muncul setelah pertengahan puasa tahun ini. Padahal awalnya ia merasa biasa saja saat aturan itu diberlakukan.

"[Kangen] iya itu pasti, biasanya jam 16.00 WIB, pengurus dan takmir masjid sudah menyiapkan menu berbuka untuk puluhan orang yang datang. Tidak hanya warga, selain mereka, musafir juga datang karena posisi masjid berada di pinggir Jalan Solo-Yogyakarta. Sekarang sepi sekali," tuturnya.

Pria yang sebelumya berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Kalasan ini berharap pandemi corona segera berakhir.

"Sudah pertengahan puasa, rasa untuk meramaikan masjid ini muncul. Kami berharap wabah ini segera hilang untuk kembali memakmurkan masjid," ungkap dia.

Anggota jemaah sekaligus mantan Ketua Takmir Masjid An Nurumi diwawancarai di Masjid An Nurusmi, Candisari, Kalasan, Sleman, Kamis (14/5/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)
Anggota jemaah sekaligus mantan Ketua Takmir Masjid An Nurumi diwawancarai di Masjid An Nurusmi, Candisari, Kalasan, Sleman, Kamis (14/5/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Salah seorang anggota jemaah yang juga warga Candisari, Rudi Aryani (35), merasa bahwa ibadah selama Ramadan 2020 ini kurang begitu afdal. Ibadah di rumah, kata dia, tidak terasa khusyuk seperti di masjid pada umumnya.

"Saat tarawih di rumah misalnya, ada anak yang ribut, sehingga harus ditenangkan. Jadi rasanya kurang afdal saja. Jika di masjid kan karena bersama-sama saya rasa doa dan ibadahnya lebih khusyuk," katanya.

Masjid An Nurumi, tempat ibadah seluas 700 meter ini, kata Rudi, menjadi tempat musafir untuk menepi. Lokasi yang dekat dengan perbatasan Klaten, Jawa Tengah dan Sleman, DIY sengaja dipilih pengendara untuk menunaikan salat lima waktu atau sekadar beristirahat dalam perjalanannya.

"Karena lokasi dekat dengan jalan raya, tak jarang pengendara menepi untuk beribadah. Jadi kami mempersilakan juga bagi musafir yang ingin beristirahat," katanya.

Ketua Takmir Masjid An Nurumi Hari Supono menerangkan bahwa masjid ini merupakan milik perseorangan. Orang tersebut bernama Ratna Juwita Umi Asih Rejeki, tetapi lebih dikenal sebagai Umi Nursalim.

Suasana Masjid An Nurumi di Jalan Solo-Yogyakarta, Desa Candisari, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Kamis (14/5/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)
Suasana Masjid An Nurumi di Jalan Solo-Yogyakarta, Desa Candisari, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Kamis (14/5/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

"Masjid ini diurus oleh perseorangan. Dia juga membuka PAUD yang berada di belakang masjid. Pembangunan masjid dilakukan tahun 2005 dan diresmikan tahun 2007 oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X," katanya.

Masjid yang memiliki menara unik berwarna-warni itu disebut-sebut mirip dengan bangunan seperti di Moskow, Rusia, yakni Benteng Kremlin, sehingga banyak yang menyebutnya sebagai Masjid Kremlin.

"Awalnya memang Ibu Umi tengah berjalan-jalan ke Rusia dan takjub dengan salah satu bangunan di sana. Akhirnya dia mendokumentasikan bentuk bangunan. Karena di tanah air ia bertekad membuat masjid, akhirnya ia padukan dengan bangunan yang pernah dia lihat di Rusia," katanya.

Masjid yang memiliki sembilan menara berwarna-warni itu juga mengandung filosofi. Hari menerangkan bahwa sembilan menara merepresentasikan Wali Songo.

"Jadi ada sembilan menara di mana dalam kepercayaan di Jawa ada Wali Songo yang membawa agama Islam di Jawa. Selain itu delapan menara dibuat melingkar dan terdapat satu menara paling besar berada di tengah. Artinya ada satu tujuan yang ingin dibawa dari masjid ini menuju Allah Ta'ala," jelas dia.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS