Tanggap Darurat Diperpanjang, Tukang Becak Wates Setia Menanti Penumpang

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Hiskia Andika Weadcaksana
Tanggap Darurat Diperpanjang, Tukang Becak Wates Setia Menanti Penumpang
Tukang becak di Wates, Kulon Progo masih terus menanti penumpang, Selasa (30/6/2020). - (SuaraJogja.id/Hiskia Andika)

Pardi menyayangkan perpanjangan masa tanggap darurat di DIY ini.

SuaraJogja.id - Tidak bisa dipungkiri bahwa dampak pandemi Covid-19 terhadap pekerja di sektor informal sangatlah besar. Para pekerja yang hidup dari menjual jasanya ini, termasuk tukang becak, harus bertahan sekuat mungkin dari kondisi yang ada.

Situasi ini harus dirasakan pula oleh Heru (45), seorang tukang becak yang setiap hari beroperasi di Jl Sutijab No 71, Dipan, Wates, Kabupaten Kulon Progo, atau tepatnya di pertigaan sebelum Terminal Bus Wates. Mengayuh becak adalah pekerjaan yang ia jalankan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya.

"Beda kalau sebelum dan sesudah ada corona ini, sekarang sepi banget," ujar Heru saat ditemui SuaraJogja.id, Selasa (30/6/2020).

Heru menuturkan bahwa penghasilannya menurun drastis semenjak ada pandemi Covid-19. Bekerja serabutan menjadi opsi lain yang bisa ia kerjakan demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

Jika sebelum ada pandemi penghasilan Heru rata-rata bisa mencapai Rp50.000-80.000 sehari, tetapi setelah pandemi menyerang, penghasilan yang didapat menjadi tak pasti.

"Bahkan saya hampir satu bulan ini narik becak cuma dua kali dan cuma dapat Rp15.000 sebulan itu," ungkapnya.

Lebih lagi, hingga saat ini belum ada lagi penumpang yang meminta diantarkan dengan becaknya itu. Dengan kondisi saat ini, bukan tidak mungkin dalam sehari ia harus pulang dengan tangan kosong.

Heru juga mengaku tidak mendapat bantuan seperti BLT atau yang lainnya. Pernah ia mendapat bantuan sembako saat sebelum Lebaran lalu, tapi hingga saat ini tidak ada lagi.

Kondisi serupa juga dirasakan oleh rekannya, Pardi (68), yang juga tidak mendapat pengunjung dalam beberapa hari terakhir. Ia mengaku tidak berpindah ke tempat yang lebih ramai karena memang sejak awal pihaknya sudah berada di situ.

"Memang hanya di sini saja, tidak enak dan canggung juga kalau mau pindah tempat," ujar Pardi.

Pardi juga tidak memungkiri bahwa semenjak ada pandemi Covid-19 ini jumlah pelanggan becak yang datang kepadanya makin menurun, bahkan anjlok hingga kadang tak ada satu pun.

"Sepi dan bisa dibilang memprihatinkan kondisi sekarang ini," imbuhnya.

Pardi menyayangkan perpanjangan masa tanggap darurat di DIY ini. Ia sebenarnya sudah berharap betul dengan wacana new normal oleh pemerintah.

Namun, memang baik Heru dan Pardi hanya akan tetap mengikuti aturan yang ada sembari terus berjuang mengais pundi-pundi rezeki yang ada. Pada akhirnya mereka memiliki harapan yang sama agar semua kondisi masyarakat bisa kembali normal dan bisa mendapat penumpang dengan hasil yang cukup lagi.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS