Terdampak Covid-19, Cerita Samhidayah Banting Setir Jadi Penjual Masker

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Muhammad Ilham Baktora
Terdampak Covid-19, Cerita Samhidayah Banting Setir Jadi Penjual Masker
Pedagang masker asal Yogyakarta, Samhidayah (jaket hitam) saat menata masker di Jalan Imogiri Barat, Desa Sumberagung, Jetis, Bantul, Minggu (2/8/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Memutar otak untuk tetap bertahan hidup, Sam tak langsung memutuskan berjualan masker.

SuaraJogja.id - Pandemi Covid-19 masih menjadi ujian bagi sebagian masyarakat. Tak hanya pekerja, tetapi pengusaha pun menjadi warga yang terdampak dari penyebaran virus yang mulanya muncul di China ini.

Hal itu dirasakan Samhidayah, pria asal Bantul yang sebelumnya memiliki usaha sepatu harus memutar otak untuk tetap membuat kompor dapurnya tetap mengebul. Pria 34 tahun ini memilih mengalihkan usahanya menjadi penjual masker.

“Kondisi seperti ini memang sudah menjadi ujian dari Tuhan. Sekarang yang hanya bisa saya lakukan tetap berusaha dengan kemampuan, termasuk modal yang ada,” ungkap Samhidayah, ditemui SuaraJogja.id di pinggir jalan Imogiri Barat, Desa Sumberagung, Jetis, Bantul, Minggu (2/8/2020).

Pedagang masker asal Yogyakarta, Samhidayah (jaket hitam), menata masker di Jalan Imogiri Barat, Desa Sumberagung, Jetis, Bantul, Minggu (2/8/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)
Pedagang masker asal Yogyakarta, Samhidayah (jaket hitam), menata masker di Jalan Imogiri Barat, Desa Sumberagung, Jetis, Bantul, Minggu (2/8/2020). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Laki-laki yang akrab disapa Sam ini menjelaskan bahwa sebelum beralih usaha, dirinya kerap mengikuti ekspo hingga kegiatan konser untuk menjajakan sepatu. Tak hanya itu, tas dan sebagian kaus dia jual saat terdapat kegiatan besar di Yogyakarta.

“Sepatu saya pasok dari tengkulak yang lain. Biasanya diambil dari Jawa Barat. Saya memiliki 10 pegawai dan biasanya dari kegiatan tersebut bisa meraup belasan hingga puluhan juta, tapi setelah pemerintah meniadakan dan membatasi kegiatan kerumunan, semuanya berubah. Bayaran pegawai kurang dan mereka terpaksa saya liburkan,” ungkap dia.

Memutar otak untuk tetap bertahan hidup, Sam tak langsung memutuskan berjualan masker. Dirinya sempat akan membuka usaha kuliner. Namun, niat itu diurungkan. Pasalnya, dirinya tak memiliki lahan dan butuh biaya yang lumayan besar.

“Usaha kuliner itu modalnya cukup besar bagi saya. Memang bisa jualan di pinggir jalan. Namun, berjualan makanan itu terbatas dengan masa kedaluwarsanya. Akhirnya saya mencari usaha lain yang tidak perlu memikirkan barang kedaluwarsa,” terang ayah dua anak ini.

Setelah membuat rencana matang dan prediksi untuk tetap membuka usaha, Sam akhirnya memutuskan menjual masker kain.

“Sebenarnya penjual masker ini sudah banyak, tinggal bagaimana kita melihat lokasi berjualan, termasuk sasaran yang akan dijadikan pembeli. Saya sendiri memilih di pinggir jalan karena banyak orang yang kerap melintas dan bersepeda di Jalan Imogiri, sehingga ketika mereka melintas, bisa melihat barang yang saya jual ini,” katanya.

Mendapat lokasi yang cukup strategis, Sam mengaku dalam sehari berjualan dapat meraup Rp100-150 ribu per hari. Dirinya berjualan setiap hari pukul 08.00-15.00 WIB.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS