Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

1 dari 13 Pasien Positif Covid-19 di Bantul Meninggal Tanpa Penyakit Bawaan

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Hiskia Andika Weadcaksana Kamis, 17 September 2020 | 14:52 WIB

1 dari 13 Pasien Positif Covid-19 di Bantul Meninggal Tanpa Penyakit Bawaan
[Unsplash/Markus Spiske]

"Kalau dinamakan tidak komorbid berarti tidak punya penyakit bawaan sebelumnya. Ya murni penyebab kematiannya karena Covid-19."

SuaraJogja.id - Satu dari 13 pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Bantul dinyatakan meninggal dunia tanpa penyakit bawaan atau komorbid. Adanya temuan ini menjadi perhatian khusus bagi masyarakat Bantul.

Kabar ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Budi Raharjo saat ditemui awak media, Kamis (17/9/2020). Ia mengatakan bahwa dari data yang tercatat, pasien bersangkutan sempat mengalami gejala sesuai dengan pasien yang terpapar Covid-19 dan dibawa ke rumah sakit untuk dirawat.

"Kalau dinamakan tidak komorbid berarti tidak punya penyakit bawaan sebelumnya. Ya murni penyebab kematiannya karena Covid-19," kata Agus.

Meski begitu, Agus tidak menyampaikan secara detail terkait data pasien yang meninggal akibat Covid-19 tersebut. Hal yang dapat dipastikan oleh pihaknya adalah bahwa dari hasil pemeriksaan medis di rumah sakit, pasien tersebut dideteksi tidak memiliki penyakit bawaan apa pun.

Menurutnya, ini menjadi peringatan kepada masyarakat bahwa Covid-19 bukan adalah hal remeh yang patut disepelekan. Meski begitu Agus tak memungkiri, rata-rata pasien terkonfirmasi positif Covid-19 memang merupakan Orang Tanpa Gejala (OTG) yang dapat sembuh dalam beberapa hari atau minggu saja.

"Kalau ada yang bilang Covid-19 itu tidak menyebabkan kematian, kenyataannya di Bantul ada yang meninggal tanpa penyakit bawaan," tegasnya.

Agus juga menuturkan, saat ini menurut penelitian terbaru, terdapat temuan bahwa virus corona sudah mengalami mutasi. Terjadinya mutasi virus corona tersebut disampaikan Agus sebagai bentuk pertahanan diri virus agar tetap hidup.

Lebih lanjut Agus mengungkapkan, mutasi virus tersebut membuat kemungkinan penularannya menjadi 10 kali lipat lebih besar dari sebelumnya, ditambah lagi mutasi virus juga sudah ditemukan di lima provinsi di Indonesia, dan salah satunya di DIY.

"Pertanyaannya adalah, manusia yang lebih sempurna apakah harus kalah dengan virus itu? Kalau virus saja berubah untuk mempertahankan hidup, ya kita juga harus lebih pintar dari virus. Kita berubah salah satunya dengan adaptasi kebiasaan baru," pungkasnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait