facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Masker Kain Tradisional, Pelindung Wajah Sekaligus Souvenir Bernilai Seni

Vania Rossa Kamis, 17 September 2020 | 20:53 WIB

Masker Kain Tradisional, Pelindung Wajah Sekaligus Souvenir Bernilai Seni
Kampanye Pakai Masker Kain Tradisional. (Instagram/@kitamudakreatif)

Tak sekadar melindungi, masker kain tradisional juga bisa menjadi alternatif souvenir bernilai seni tinggi.

SuaraJogja.id - Masker kain menjadi pilihan untuk melindungi diri di masa pandemi ini. Dan para wirausahawan Indonesia terus berkreasi dengan masker kain buatan dalam negeri. Sebanyak 50 wirausahawan muda yang berasal dari Denpasar, Tabanan, Kota Tua Jakarta, Klaten, Yogyakarta, Borobudur, Lombok, dan Toba, turut serta dalam kampanye “Pakai Masker Kain Tradisional”. Ini merupakan kampanye membuat masker menggunakan kain tradisional Indonesia, termasuk ulos, batik, tenun endek, dan tenun Lombok.

Langkah para wirausaha muda ini tak lepas dari peran UNESCO Jakarta yang sejak Maret 2020 memfasilitasi serangkaian pelatihan bisnis secara virtual, untuk mendampingi sekitar 400 wirausaha muda dari Jawa Tengah, Yogjakarta, Kota Tua Jakarta, Toba, dan Bali untuk mengatasi masa-masa sulit di tengah pandemi.

Salah satu kegiatan yang digagas adalah kegiatan “Kampanye Pakai Masker Kain Tradisional” yang secara khusus diprakarsai guna mendukung wirausaha muda yang bekerja di sektor tenun tradisional dan fesyen untuk memberikan mereka alternatif peluang pendapatan.

Kampanye yang diluncurkan UNESCO Jakarta sejak Juli 2020 ini memberikan pemahaman mengenai sejarah dan signifikansi budaya kain tradisional, serta pelatihan secara langsung tentang mengembangkan cerita produk dan menjahit masker berkualitas.

Masker Kain Tradisional. (Instagram/@kitamudakreatif)
Masker Kain Tradisional. (Instagram/@kitamudakreatif)

Antara Agustus dan September, kampanye ini kemudian memberikan penugasan pada para peserta untuk mendesain dan membuat masker mereka sendiri, kemudian membuat foto dan pesan yang menarik untuk diunggah di media sosial.

Baca Juga: Perusahaan Israel Ini Buat Masker Kain Anti-Covid-19, sedang Diuji di China

Digelar oleh UNESCO Jakarta dan Citi Indonesia, kampanye ini merupakan bagian dari proyek “Creative Youth at Indonesian Heritage Sites” yang didukung oleh Citi Foundation.

Tujuan dari proyek tersebut membangun kapasitas 400 wirausaha muda yang tinggal di dan sekitar empat daerah tujuan wisata utama Indonesia, yaitu Borobudur Prambanan, Kawasan Danau Toba, Bali, dan Kotatua Jakarta.

Proyek ini bermaksud membangun keterkaitan antara situs warisan budaya dan mata pencaharian penduduk sekitar, dengan menyediakan pelatihan-pelatihan bagi para wirausaha muda untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan bisnisnya seraya terus melestarikan dan mempromosikan nilai-nilai budaya situs tersebut.

“Segera setelah larangan pergerakan publik dan mengumpulkan massa diumumkan di Indonesia, UNESCO Jakarta segera mengubah bentuk kegiatan workshop dari pertemuan langsung di ruang kelas menjadi daring, memanfaatkan platform media sosial. Ini memungkinkan kami terus terhubung dengan para wirausaha muda kami dengan lebih sering. Kampanye Pakai Masker Kain Tradisional ini adalah salah satu dari hasil pelatihan-pelatihan daring kami,” kata Prof. Shahbaz Khan, Direktur dan Perwakilan UNESCO Jakarta dalam Live Streaming acara Gelar Karya Masker Kain Tradisional, Rabu  (16/9/2020).

Lutfi Koriah Yunani, seorang wirausaha muda dari Bayat, Klaten, Jawa Tengah, mengatakan bahwa kampanye ini memberi ia inspirasi untuk membuat masker inovatif mengombinasikan motif batik truntum dengan tema Hari Kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Tak Boleh Asal, Ini Cara Mencuci Masker Kain Agar Bersih dari Virus Corona

"Saya membuat masker ini bersama-sama dengan para pembatik di desa saya untuk membantu mereka selama masa krisis ini. Apalagi setelah masker tersebut diunggah di Instagram @kitamudakreatif, saya mendapatkan banyak tanggapan dan pesanan. Sampai akhir Agustus 2020, kami sudah tiga kali memproduksi masker tersebut, untuk merespons pesanan-pesanan baru yang masuk," kata Lutfi yang juga mengaku bahwa pendapatan bisnisnya menjadi meningkat sehingga ia mampu membantu ibu-ibu pembatik di desanya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait