Disinggung mengenai penanganannya terhadap pandemi Covid-19, Wahyudi menyebut sejak awal pemerintah mengumumkan adanya kasus pasien positif covid-19, ia lantas membentuk Satgas Penanganan Covid-19 atau yang akrab disebut tim Panggung Tanggap Covid-19 (PTC-19).
Saat terjadi kasus tiga orang positif pertama di desanya, Wahyudi lantas melakukan lockdown di dua Kawasan RT tersebut. Hal tersebut dilakukan tidak semata-mata untuk menurunkan resiko penularan, namun, juga untuk mencegah terjadinya kesenjangan sosial diantara masyarakat setempat. Pasalnya tiga orang pertama yang terpapar covid-19 di Panggungharjo merupakan seorang Nasrani. Wahyudi berfikir, jika mereka dibiarkan hanya isolasi sendiri, orang-orang itu akan menyandang dua status sebagai masyarakat yang termarjinalkan. Yakni sebagai non muslim sekaligus penderita covid-19 pertama di desa tersebut.
“Ketika dia itu covid, dia akan menyandang dua minoritas. Minoritas sebagai non-muslim dan minoritas penyandang covid. Sehingga kemungkinan untuk bergeser isu itu kan tinggi,” ujar Wahyudi.
Untuk mencegah terjadinya stigma yang melenceng, Wahyudi lantas melakukan karantina dua RT dalam kawasan tersebut. Dengan kebijakan itu, ia berharap masyarakat bisa saling merasakan beban satu sama lain. Meskipun dengan memberlakukan kebijakan itu, ada banyak hal yang juga harus ia penuhi. Salah satunya adalah kebutuhan pokok penduduk yang menjalani karantina selama 14 hari tersebut.
Baca Juga:Respon Isu Tsunami 20 Meter, BPBD Bantul Gelar Simulasi Penanganan Bencana
Platform dukung dan lapor
Sejak awal pandemi, PTC 19 sudah membentuk platform dukung dan lapor untuk penanganan covid-19. Melalui kanal dukung, penduduk bisa memberikan bantuan maupun dukungan untuk penanganan covid. Dari program dukungan itu juga Wahyudi akhirnya bisa memenuhi kebutuhan warga yang menjalani karantina.
PTC 19 sudah mulai bekerja dua minggu sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya kasus covid-19 pertama di Indonesia. Berbekal informasi dari berbagai pihak, Wahyudi mencoba mengambil langkah yang setidaknya bisa mencegah terjadinya penyebaran virus corona di wilayahnya.
Pada platform lapor, ia mengajak warga untuk secara aktif melaporkan kondisi kesehatannya. Dari situ, penduduk bisa dikategorikan sebagai tidak rentan, cukup rentan, rentan, dan sangat rentan. Setelah dikategorikan, masyarakat akan mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhannya.
“Yang kita lakukan intervensi pertama memang dampak sosial, karena ada perubahan perilaku yang tentunya itu mensyaratkan pranata sosial baru,” terangnya.
Baca Juga:Kaget, Pengendara Sepeda Motor Tabrak Kakek Naik Sepeda di Bantul
Awalnya, Wahyudi menginisiasi untuk dilakukan dekontaminasi secara demonstrative untuk menggedor kesadaran masyarakat, bahwa mereka tengah berada di situasi krisis. Selanjutnya, ia mendorong masyarakat untuk melakukan pranata sosial baru untuk mengatur aktifitas-aktifitas yang bisa dilakukan seperti biasa dalam situasi pandemi.