Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Cerita Agung Pebisnis Kayu, Bangkit Usai Rugi Rp1 M Ditipu Rekan Sendiri

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana Kamis, 15 Oktober 2020 | 17:44 WIB

Cerita Agung Pebisnis Kayu, Bangkit Usai Rugi Rp1 M Ditipu Rekan Sendiri
Agung Setiawan, pelaku usaha di Bantul yang bangkit setelah alami penipuan - (SuaraJogja.id/Julianto)

Ia terpuruk karena ditipu rekan sendiri sebesar Rp1 miliar.

SuaraJogja.id - Pandemi Covid-19 memang menghantam semua lini kehidupan, termasuk sektor usaha. Banyak pelaku usaha yang tak mampu menjalankan bisnis mereka akibat kondisi ekonomi yang stagnan, bahkan mengalami penurunan cukup drastis. Daya beli masyarakat pun berkurang karena harus meminimalisasi aktivitas di luar rumah.

Agung Setiawan, pria berumur 42 yang tinggal di belakang Pasar Niten, Jalan Bantul Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul ini pun merasakan hal yang serupa. Usahanya mengolah limbah kayu menjadi barang bernilai jual tinggi merasakan dampak terpuruknya perekonomian dunia.

Produk-produk kreatifnya seperti woodpanel (panel kayu) dan woodcarving (pahatan kayu) yang biasanya menembus pasar Eropa ataupun Asia tak bisa ia pasarkan. Sejak Februari 2020 lalu, usaha yang dirintisnya pada Mei 2018 lalu benar-benar mati suri.

Pesanan dari Spanyol dan Belanda untuk dua produknya tersebut langsung terhenti. Barang-barang yang sudah terlanjur ia buat akhirnya tidak bisa dikirim karena situasi dunia yang masih sangat ketat. Beberapa negara masih memberlakukan lockdown sehingga ekonomi pun tidak bisa berjalan.

Demikian juga produk kotak perhiasan pesanan dari buyer Jepang yang telah ia buat pun juga urung dikirim. Pihak buyer masih belum bersedia menerima kiriman barang dari luar negeri. Akibatnya, barang-barang yang terlanjur ia buat harus disimpan terlebih dahulu di gudang hingga memungkinkan dikirim kembali.

"Selama Februari hingga Juni 2020, usaha saya Semaput (pingsan)," ujarnya Kamis (15/10/2020) ketika ditemui di tempat produksinya.

Selama 5 bulan, ia harus mengencangkan ikat pinggangnya untuk menghemat pengeluaran. Meski demikian, ia sendiri tidak tega untuk membiarkan begitu saja karyawan-karyawannya yang telah membantu dirinya menjadi seperti sekarang ini.

Sebenarnya karyawan tetap hanya ada 4 orang karena belasan lainnya statusnya hanya kontrak ketika ada pekerjaan. Untuk 4 orang yang berstatus karyawan tetap, Agung tetap meminta mereka masuk kerja meskipun bergiliran 3 hari dalam sepekan. Namun untuk karyawan berstatus kontrak maka mereka memang 'dirumahkan' semuanya.

"Kalau karyawan masuk 3 hari bayarnya pun tidak penuh," paparnya.

Hal tersebut berlangsung hingga bulan Juni 2020 tersebut. Selama 5 bulan tersebut ia terus memutar otak agar mampu bertahan dan mendapatkan buyer kembali. Ia pun lantas kembali membuat website yang baru agar pangsa pasarnya lebih luas lagi.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait