Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Komunitas Sioux: Penyelamat Ular dari Stigma Jahat

Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana Minggu, 18 Oktober 2020 | 13:10 WIB

Komunitas Sioux: Penyelamat Ular dari Stigma Jahat
Komunitas Sioux saat memberikan edukasi mengenai penanganan terhadap ular. [Dok. Komunitas Sioux]

Komunitas Sioux fokus untuk beri edukasi ke masyarakat mengenai stigma ular yang selama ini dianggap berbahaya.

SuaraJogja.id - Apa yang terlintas dalam pikiran masyarakat awam ketika melihat seekor ular masuk ke rumahnya? Kemungkinan besar mereka akan mengira ular tersebut berbahaya dan jika tidak segera diambil tindakan dapat berakibat fatal bagi setiap orang yang ada di rumah tersebut.

Tindakan dari setiap orang tidak akan selalu sama dalam menghadapi ular yang masuk ke rumah mereka. Namun tidak jarang ditemui beberapa orang yang dengan secara sadar membunuh hewan melata tersebut karena dianggap terlalu berbahaya jika dibiarkan hidup.

Di sinilah Sioux kemudian berperan. Komunitas pecinta ular yang kini telah menjadi yayasan ini hadir di tengah masyarakat bukan untuk semata-mata menyelamatkan ular yang masuk ke rumah warga tapi memberikan edukasi terkait dengan ular itu sendiri.

Ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia, Aji Rachmat Purwanto, sedikit berbagi cerita kepada SuaraJogja.id tentang awal mula ia dan tiga orang rekannya memutuskan untuk menekuni bidang edukasi ular di Indonesia ini hingga misi besar yang diemban oleh Sioux di tengah masyarakat.

Aji menjelaskan sebelum Sioux terbentuk, ia bersama delapan temannya salah satunya Heru Gundul yang merupakan pembawa acara kenamaan dari program 'Jejak Si Gundul' lebih dulu membuat sebuah komunitas yang juga tak jauh dengan ular yakni komunitas pramuka pecinta reptil di Yogyakarta bernama Natrix Scout di tahun 1998.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, komunitas tersebut akhirnya harus ditutup.

Tidak lama setelah itu, tepatnya pada 23 November 2003 di Jakarta hadirlah Sioux, yang kata Aji, merupakan kelanjutan dari Natrix. Pasalnya maksud berdirinya Sioux sendiri adalah sebagai penerus misi dari Natrix namun dengan skala yang lebih besar, jika sebelumnya hanya di Jogja kali ini Sioux merambah seluruh Indonesia.

"Sioux sendiri nama salah satu suku Indian di Amerika. Dalam bahasa Indian, Sioux artinya ular," kata Aji saat ditemui SuaraJogja.id di Shelter Yayasan Sioux Ular Indonesia, Kretek, Bantul, beberapa waktu lalu.

Rintis Komunitas bersama Heru Jejak si Gundul

Aji mengatakan ide awalnya memang lebih banyak kepada edukasi yang akan dilakukan kepada masyarakat. Fokusnya bukan ke lembaga konservasi, komunitas reptil atau malah pecinta ular apalagi bisnis jual beli.

"Kita lebih fokus mengubah paradigma negatif masyarakat tentang ular. Jadi kita adakan pelatihan-pelatihan tentang ular, lalu edukasi, penelitian sampai akhirnya berkembang sampai ke rescue. Tahun 2012 kita menjadi sebuah yayasan yang kebetulan saya menjadi ketua. Sedangkan teman-teman pendiri lainnya berbagi tugas ada yang menjadi dewan pengawas dan pembina sampai sekarang," ujarnya.

Aji sendiri mulai tertarik dengan ular sekitar periode tahun 1996-1997 setelah belajar bersama Mas Gundul 'Jejak Si Gundul'. Ia melihat bagaimana Mas Gundul dapat dengan mudah berinteraksi dengan ular cobra yang notabene sangat berbisa.

"Akhirnya setelah saya tanya-tanya ternyata ada hal menarik yang saya dapat bahwa tidak semua ular itu berbahaya. Lalu kita putuskan untuk buat komunitas untuk edukasi tentang ular, tadinya hanya menyasar kelompok-kelompok pramuka saja," ucapnya.

Pengalaman Aji yang sudah bertahun-tahun mendalami tentang ular dibuktikan dengan beberapa kesempatan yang ia dapatkan untuk berkeliling Indonesia dari Aceh hingga Papua guna memberikan edukasi masyarakat terkait dengan ular. Selain itu Aji juga pernah diminta untuk mengisi beberapa program televisi terkait dengan petualang dan ular.

Dari situ Aji dan teman-teman lainnya yakin bahwa misi utama Sioux adalah untuk edukasi bukan sekadar rescue atau penyelematan saja. Menurutnya, justru malah rescue ini bagian kecil dari tindakan nyata di lapangan namun misi besarnya adalah mengubah paradigma negatif masyarakat tentang ular itu sendiri.

Komunitas Sioux saat memberikan edukasi mengenai penanganan terhadap ular. [Dok. Komunitas Sioux]
Komunitas Sioux saat memberikan edukasi mengenai penanganan terhadap ular. [Dok. Komunitas Sioux]

Edukasi itu juga dituangkan dalam bentuk buku yang merupakan rangkuman dari materi-materi pelatihan Sioux selama ini. Tidak hanya berhenti pada edukasi, pelatihan-pelatihan profesional terkait cara menghadapi ular kepada orang-orang yang bekerja di tambang, kebun sawit hingga perusahaan-perusahaan juga dilakukan oleh Sioux.

Terkait dengan rescue dan beberapa ular yang terdapat di Shelter Sioux, Aji menuturkan bahwa konsepnya tetap bukan untuk memelihara melainkan hanya sebagai tempat transit saja. Sedangkan untuk rescue, ia sendiri mengaku lebih kepada kepuasan batin masing-masing.

Kepuasan itu didapatkan saat ada masyarakat yang kebetulan meminta tolong untuk menangkapkan ular yang dianggap menggangu dan Sioux berhasil melakukannya. Namun tak jarang juga saat pihaknya datang ular sudah hilang dan tidak tertangkap.

"Akhirnya kita berikan edukasi kepada masyarakat. Menurut kami 70 persen proses rescue itu sebetulnya edukasi dan 30 persen sisanya bonus kalau memang ularnya tertangkap," ujarnya.

Relawan di 12 Provinsi

Dikatakan Aji, Sioux tidak menganut sistem keanggotaan melainkan relawan. Artinya Sioux tidak terlalu mengikat seperti sistem anggota hingga memiliki nomor anggota dan segala macam. Sioux bisa dikatakan lebih fleksibel dengan setiap relawannya.

Saat ini kata Aji, sudah ada sekitar 700an relawan yang tersebar di 12 provinsi, mulai dari Sumatera Selatan, Lampung, Semua Jawa, Kalimantan Timur dan Tengah, Bali, NTT, serta NTB. Sementara untuk Sioux Jogja sendiri tercatat ada sekitar 115 relawan di seluruh kabupaten.

"Kita bergerak di masing-masing daerah itu untuk misi yang sama yakni edukasi tentang ular kepada masyarakat," imbuhnya.

Aji menyampaikan bahwa Sioux sendiri tidak memiliki agenda kegiatan rutin setiap minggu atau setiap bulannya. Hanya ada acara-acara tertentu yang memang akan diselenggarakan dalam beberapa waktu tertentu. Semisal terkait rencana acara besar yang bakal diselenggarakan sebagai peringatan 17 tahun berdirinya Sioux pada November mendatang.

Dijelaskan Aji, terkait dengan pertemuan atau latihan para relawan lebih kepada upgrading muscle untuk tetap mengasah kemampuan menangani ular. Namun dikatakan Aji, saat ini rekan-rekan Sioux di Jakarta sedang disibukkan dengan sweeping di perumahan-perumahan warga.

Sweeping itu bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat di sana disamping juga membuat treatment penanganan dan pendataan terkait dengan ular apa saja yang sering muncul di area tersebut. Selain itu juga ada pelatihan-pelatihan untuk perusahaan dan recruitment relawan.

"Kalau di Jogja juga sama, kita lebih banyak masuk ke komunitas relawan untuk memberikan pelatihan dan edukasi ke masyarakat. Mulai dari Damkar, Satpol-PP, dan lainnya. Selama pandemi Covid-19 tetap masih jalan, justru karena munculnya ular tidak memperhitungkan pandemi jadi kapanpun ada ular masuk ke rumah, kami tetap ada permintaan," ungkapnya.

Terkait dengan permintaan rescue ular dari masyarakat, Aji menuturkan sehari paling tidak ada 10-15 panggilan di seluruh Indonesia dengan mayoritas berasal dari wilayah Jakarta. Merespon hal tersebut Aji, sudah membuat sebuah grup bernama Indonesia Snake Rescue yang terdiri dari beberapa komunitas dan pemadam kebakaran.

Grup tersebut berguna untuk memudahkan komunikasi di tiap daerah. Nantinya jika memang ada panggilan terkait rescue pihaknya akan membagikan panggilan tersebut kepada grup untuk selanjutnya ditindaklanjuti oleh relawan yang berada tidak jauh dari lokasi. Diungkapkan Aji, untuk kasus di Jogja sendiri akhir-akhir ini masih marak dengan ular yang ditemukan masuk ke rumah warga dan penanganan gigitan ular.

"Akhir-akhir ini yang paling banyak kita rescue atau masuk rumah adalah ular piton. Kalau cobra kebanyakan justru sudah dibunuh tapi ada beberapa yang kita temui masih hidup langsung kita bawa. Terakhir ada di belakang Monjali, ada juga cobra masuk rumah," tuturnya.

Sebagai sebuah komunitas yang berkembang menjadi yayasan, Sioux sendiri dapat terus beroperasional dengan mengembangkan program dari hasil menjual pelatihan-pelatihan yang memang sudah bersertifikat. Aji menungkapkan, baru Sioux yang bisa mengeluarkan sertifikat snake handling di Indonesia.

"Itu yang kita jual ke perusahaan, lalu perusahaan bayar dengan biaya yang sudah standar perusahaan. Dari situ kita hidup, ngumpulin kas dan segala macem," ucapnya.

Ular Bukan Musuh Manusia

Kehadiran Sioux, menurut Aji, sebagai upaya untuk mendudukkan posisi bahwa ular adalah tetangga dekat yang berada di tengah masyarakat. Ular yang masuk rumah sudah seharusnya tidak dianggap sebagai suatu hal yang luar biasa lagi.

Justru ular malah harus tetap terus ada di sekitar kita untuk menjaga ekosistem yang masih berjalan. Keberadaan ular di sekitar masyarakat itu sebagai respon atas tersedianya makanan ular tersebut semisal kodok dan tikus.

"Ular masuk rumah bukan tanpa alasan tapi ada sesuatu yang dicari. Ular itu sebenarnya tersesat, karena memang dia tidak bisa membedakan ini tempat misalnya gudang, halaman atau rumah. Insting yang dia miliki itu hanya untuk mencari makan dan berlindung," paparnya.

Masuknya ular ke rumah itu bukan untuk membuat sarang seperti halnya tikus. Pasalnya pada dasarnya ular akan selalu berpindah-pindah tempat atau nomaden.

Namun ketika ditemukan suatu kasus telur ular yang berada di dalam rumah, bukan berarti ular tersebut bersarang tapi hanya menitipkan telurnya sementara di tempat itu. Sesudah bertelur pun ular akan segera pergi, hanya akan menjaga telurnya paling lama satu atau dua minggu.

"Nah materi edukasi seperti ini yang masih banyak dipahami secara salah oleh masyarakat. Jadi perlu kita beri informasi yang benar," ucapnya.

Menurut Aji, ular adalah satwa liar yang habitatnya paling dekat dengan manusia tidak seperti musang atau bahkan kijang yang berada di tengah hutan alami. Tidak dipungkiri ular memang akan selalu berada di sekitar masyarakat, apalagi pada rumah yang berdekatan dengan sungai, selokan atau sawah.

Pembangunan gedung-gedung yang cukup masif di kota-kota besar, tidak terkecuali Jogja juga akan berpengaruh dengan habibat ular itu sendiri. Apalagi sungai yang merupakan jalan raya semua satwa dibentuk dan dibangun sedemikian rupa dengan beton-beton di sisinya.

Hal itu tidak jarang membuat ular tidak lagi punya tempat nyaman untuk bersembunyi. Kemudian ditambah dengan satwa-satwa pendukung sepadan sungai yang menghilang atau bahkan bergeser masuk ke rumah. Mau tidak mau ular akan mengikuti kemana makanannya pergi untuk tetap bisa bertahan hidup.

Komunitas Sioux saat memberikan edukasi mengenai penanganan terhadap ular. [Dok. Komunitas Sioux]
Komunitas Sioux saat memberikan edukasi mengenai penanganan terhadap ular. [Dok. Komunitas Sioux]

"Jadi memang pengaruh pembangunan akan sangat berasa buat si ular. Bisa dikatakan kita yang membangun rumah dihabitat ular bukan ular yang mendekati rumah kita. Dari situ mereka terusik hingga akhirnya bergeser masuk pemukiman. Pemahaman itu kadang masih salah, dianggap bahwa ular yang mengganggu kita padahal kita yang mengganggu mereka," tuturnya.

Salah satu cara awal untuk memutus atau mengantisipasi masuknya ular ke rumah, menurut Aji adalah dengan memutus rantai makan sang ular yang juga ada di lingkungan rumah. Sebisa mungkin masyarakat harus bisa membersihkan lingkungan rumahnya sendiri dari berbagai hewan yang menjadi santapan oleh ular-ular di luar sana.

Kendati demikian Aji tak memungkiri akan tetap ada ular yang masuk ke pemukiman warga. Lalu apa yang harus dilakukan jika saat itu terjadi?

Aji menyampikan bahwa jika memang berani untuk langsung menghadapi ular tersebut secara mandiri dalam artian menangkap ular itu dengan teknik yang benar, masyarakat dipersilakan untuk melakukannya sendiri. Namun kalau memang hal tersebut tidak memungkinkan, maka masyarakat bisa langsung menghubungi pihaknya.

Disebutkan Aji, Indonesia sendiri memiliki 348 spesies ular yang tersebar di seluruh wilayah. Bahkan ia sendiri sampai saat ini baru memegang sekitar 200an spesies saja. Jadi Aji tidak memungkiri masih ada banyak ular yang belum ditemukan secara fisik hanya sebatas sketsa foto saja.

Dari ratusan spesies ular yang terdapat di Indonesia, beberapa di antaranya memiliki bisa yang mematikan jika sampai masuk ke dalam tubuh manusia. Namun tak jarang juga masyarakat masih menganggap semua ular itu berbisa dan harus seketika dibunuh ketika sudah sampai masuk ke rumah.

Aggapan itu harus mulai dihilangkan karena memang pada kenyataannya tidak semua ular memiliki bisa. Aji menjelaskan tidak ada cara mudah untuk membedakan antara ular yang berbisa dan tidak berbisa.

Pasalnya semua ular memiliki ciri khasnya masing-masing dan satu sama lain hampir mirip dan susah dibedakan. Sebagai contoh Cobra yang memiliki warna hitam pada tubuhnya, tidak sedikit juga ular berwarna hitam yang padahal tidak berbisa seperti Cobra.

Salah satu yang mungkin bisa dilihat secara sekilas adalah dari pergerakan ular itu sendiri. Ciri khas ular tidak berbisa adalah gerakannya yang lincah, sedangkan ular berbisa tinggi gerakannya akan cenderung lebih tenang karena mereka punya rasa percaya diri yang kuat dari bisanya.

Namun ciri khas ini tetap ada perkecualiannya untuk Cobra. Hal itu dikarenakan Cobra yang memiliki kadar bisa yang tinggi tapi tetap bergerak secara lincah.

"Tidak ada cara mudah, harus dihafalkan. Kalau saran kami, saat ketemu ular kita anggap saja itu berbisa. Jangan dipegang apalagi dihandling dengan tangan. Foto saja lalu kirim ke kita, nanti akan kita bantu untuk identifikasi. Kalau mau dihafalkan, cukup hafalkan untuk ular yang berbisa tinggi saja," jelasnya.

Aji menyebut di Jogja sendiri saja ada sekitar 15 spesies ular yang berbisa tinggi sedangkan lainnya tidak berbisa. Ular yang berbisa tinggi itu di antaranya ular laut yang ada di sekitar pantai Gunung Kidul, Cobra, King Cobra, Welang, Weling, Cabai Besar, Cabai Kecil, Ular Tanah, Picung, Viper, Ular bangkai laut biasa juga dikenal dengan sebutan viper Hijau, Bandotan pohon atau Trimeresurus puniceus.

Sementara untuk ular berbisa yang paling sering masuk rumah di perkotaan adalah Cobra. Jika di desa ada ular Welang dan Weling yang masih cukup banyak.

Aji menyarankan, kepada masyarakat pada umumnya setiap kali bertemu ular di dalam rumah tidak perlu panik atau malah langsung berusaha ditangkap. Lebih baik diamati dulu lalu segera panggil orang yang sudah terlatih.

Menurutnya, menangkap ular memang harus dilakukan oleh orang yang terlatih. Kalau tidak akan berisiko bagi orang yang berusaha menangkap dan kepada sang ular sendiri.

"Kalau tidak panggil kami, bisa panggil Damkar terdekat karena mereka sudah terlatih untuk penanganan ular. Mereka ada unit khusus untuk penanganan ular," sebutnya.

Aji menyampaikan bahwa pada bulan November dan Desember adalah masa penetasan telur-telur Cobra. Siklus itu memang terjadi setiap tahun. Bagi kebanyakan induk bulan Juli-Agustus kemarin mereka kawin, bulan September bertelur, dan mulai pada Oktober, November, Desember, mulai masa penetasan.

"Kadang orang salah kalau ketemu anak-anak Cobra diminta untuk mencari induknya. Padahal induknya sudah hilang tidak tahu kemana karena memang tidak mengerami hanya bertelur saja," tambahnya.

Kembalikan Ular ke Habitat Aslinya

Setelah menyelamatkan ular yang masuk ke rumah warga, Yayasan Sioux Ular Indonesia tidak akan memelihara ular tersebut terus menerus atau bahkan menjualnya. Pengembalian ular ke habitatnya yang jauh dari pemukiman masyarakat menjadi hal yang rutin dilakukan.

Aji mengatakan biasanya Sioux di daerah Jogja akan melepaskan ular-ular hasil penyelamatan tersebut di sepanjang Sungai Opak dan Sungai Oyo. Ditambah lagi dengan beberapa cagar alam yang memang tidak berdekatan dari aktivitas warga.

"Jadi dari kota pindahkan ke tepi sungai besar karena ular nyaman di tepi sungai. Makanannya masih banyak. Tempat sembunyi dan air juga masih tersedia banyak," terangnya.

Namun sebelum dilepaskan lagi, ular-ular tersebut akan disimpan dan dirawat terlebih dahulu. Hal itu disebabkan oleh ada beberapa kasus yang ditemukan bahwa ular tersebut dalam kondisi luka-luka saat penyelamatan.

Selain untuk menyembuhkan luka-luka yang ada pada ular, Sioux juga menjadikan ular-ular tersebut sebagai inventaris. Nantinya dari ular yang telah diselamatkam tadi akan dimanfaatkan untuk kepentingan edukasi pembelajaran kepada masyarakat.

"Sebelum dilepas akan dikeep dulu kita tes makan, kalau tidak stres akan kita lepas. Keep tergantung bisa seminggu atau bahkan dua bulan. Nah dari ular rescue yang kita keep ini yang kita manfaatkan untuk edukasi pembelajaran. Jadi kita tidak pernah jual beli. Kalau ada tangkapan baru misalnya cobra, nanti cobra yang lebih dulu ditangkap akan dilepas," ungkapnya.

Terkait dengan populasi ular di Jogja sendiri, kata Aji, secara sekilas masih terhitung aman. Meski tidak pernah menghitung secara persis populasi ular yang ada, hal itu diperkuat dengan pengamatan bahwa perburuan di Jogja masih terbilang belum marak. Setidaknya masih jauh jika dibandingkan dengan yang terjadi di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Dikatakan Aji, sebenarnya perburuan yang dimaksud itu untuk pesanan ular yang akan dikonsumsi. Seperti yang diketahui bahwa di Jogja sendiri juga terdapat beberapa restoran yang menyajikan menu ular.

Dari permintaan tempat makan itu saja, Aji dapat mengatakan bahwa mereka saat ini tidak lagi mengambil atau meminta stok dari Jogja. Justru permintaan atau pengambilan stok ular itu dari luar Jogja, seperti Ngawi, Kebumen dan Purwokerto.

Aji menyebut konsumsinya pun terbilang besar di masyarakat, bisa mencapai 2000-3000 ekor ular perbulan. Ularnya pun adalah Cobra yang dipercaya dalam pengobatan Cina khasiat empedunya lebih berasa.

"Secara hukum memang tidak ada larangan karena memang bukan hewan yang dilindungi. Cuma ya kita mikir juga kalau lama-lama akan habis juga," ucapnya.

Diakui Aji, kebiasaan orang Jogja saat bertemu dengan ular di tempat tertentu masih terbilang cukup baik. Artinya mereka tidak langsung membunuh ular itu tapi lebih membiarkannya dan berpindah tempat. Berbeda dengan perlakuan orang terhadap ular di Jawa Barat atau di Jakarta yang pasti akan dibunuh karena imagenya sudah negatif.

"Di sini kadang kalau pemancing ketemu ular weling ya milih untuk tidak jadi mancing. Mereka milih untuk pulang karena berpikir pasti akan ada apa-apa. Bagus sebenarnya jadi memang terjaga populasinya," katanya.

Sebenarnya kata Aji, memelihara ular sendiri diperbolehkan. Namun ada empat ular yang saat ini dilindungi di Indonesia dan tidak boleh untuk dipelihara yakni Sanca Bodo (Python bivittatus), Sanca Timor (Python Timorensis), Sanca Bulan (Morelia boeleni) dan Sanca Hijau (Morelia viridis).

Lebih lanjut untuk Sanca Bulan dan Sanca Hijau sendiri hanya ada di Papua. Sanca Timor ada di Pulau Timor, sedangkan Sanca Bodo masih cukup banyak di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Setiap orang yang kedapatan memelihara empat jenis ular ini akan terkena hukuman pidana. Namun untuk spesies ular lainnya masih diperbolehkan.

"Hal yang terpenting adalah paham untuk bagaimana memelihara ular tersebut, aman tidak boleh lepas dan mengganggu masyarakat," tegasnya.

Sudah Biasa Digigit Ular

Sementara itu anggota sekaligus penjaga shelter Sioux, Danny Prasetyo, mengungkapkan saat ini di shelter Sioux terdapat setidaknya 14 ular dengan beberapa spesies. Ia bertugas mengawasi ular-ular hasil rescue tersebut agar tetap dalam kondisi baik dan tidak stres.

"Perawatan paling dijemur selama 15 menit, makan paling satu minggu sekali tergantung ukuran ularnya. Gampang sebenarnya perawatannya," kata Danny.

Danny sendiri menganggap bahwa ular adalah hewan yang unik dan tidak merepotkan. Bapak tiga orang anak yang baru bergabung Sioux pada 2018 lalu ini tidak memungkiri ketertarikannya dengan ular sudah berlangsung sejak lama.

"Dulu sempet pelihara ular piton di rumah selama 6 tahun, dari baby sampai panjang 7 meter. Setelah itu dihibahkan dan akhirnya dilepas atau dirilis," ucapnya.

Menurutnya pengalaman digigit ular sudah menjadi hal yang biasa dialami. Dikatakan Danny, semua kesenangan pasti ada risikonya masing-masing. Namun dari pengalaman itu dia terus belajar hingga akhirnya pada titik sekarang ini yang sudah hafal betul pergerakan dan penanganan setiap ular tersebut.

Bahkan putri terakhirnya yang masih usia belia, juga sudah dibekali mengenai ular sejak menginjak pendidikan TK. Hal itu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi saat putrinya bermain di luar rumah dan sewaktu-waktu bertemu dengan ular.

Anggota Sioux lainnya, Muhammad Rifai Noor (31), mengaku dulunya ia tidak berani sama sekali berhadapan dengan ular. Padahal hobinya mulai dari naik gunung dan pergi ladang cukup berpotensi untuk bertemu dengan ular.

Melihat hal itu, teman Rifai, menyarankannya untuk bergabung dengan Sioux untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang ada. Sekaligus juga melakukan praktik dalam menangani ular yang ada di hadapannya.

"Beberapa bulan lalu, sekitar Juli atau Agustus baru gabung. Intinya ingin mencoba melawan dan menghilangkan rasa takut kepada ular dan akhirnya sedikit demi sedikit sudah mulai tidak takut lagi," kata pemuda asal Ngestiharjo, Kasihan, Bantul tersebut.

Meski belum pernah ikut turun langsung dalam penyelamatan ular yang masuk ke rumah warga, namun Rifai yakin suatu saat akan dapat ikut bergabung menyelamatkan ular-ular yang tersesat di dalam rumah warga.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait