alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Mirip Erupsi Tahun 2006, Data Pantauan Merapi Tunjukkan Pergerakan Magma

Galih Priatmojo | Mutiara Rizka Maulina Selasa, 27 Oktober 2020 | 15:59 WIB

Mirip Erupsi Tahun 2006, Data Pantauan Merapi Tunjukkan Pergerakan Magma
Pemaparan perbandingan data Merapi tahun 2010 dan 2020. - (YouTube/ Dasawarsa Merapi)

Sedangkan data pemantauan 2020 dilihat lebih mirip dengan pemantauan pada tahun 2006.

SuaraJogja.id - Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG,  Agus Budi Santoso memaparkan data pemantauan Gunung Merapi tahun 2010 dan 2020.  Dari catatan erupsi yang pernah terjadi sejak tahun 1768 sampai 2014, ada lima tipe erupsi yang terjadi di Gunung Merapi. Yakni erupsie freatik, vulkanian, tipe Merapi murni dan tipe Merapi disertai letusan eksplosif dan tipe Sub Plinian.

Erupsi pada tahun 2010 sendiri mengeluarkan material sebesar 130 juta meter kibik. Agus menyebutkan jika dilihat dari frekuensi letusannya, tipe erupsi yang paling sering terjadi yakni tipe Merapi disertai dengan letusan. Tipe Merapi sendiri merujuk pada definisi terbentuknya awan panas disebabkan oleh gugurnya kubah lava.

Sementara untuk letusan yang terjadi pada tahun 2010, merupakan tipe Sub Plinian. Tipe ini juga sempat terjadi seratus tahun sebelumnya pada tahun 1872. Dua kejadian letusan tersebut disebut Agus memiliki kemiripan.

Diantaranya, sama-sama memiliki skala VEI IV, dimana skala tersebut adalah angka letusan terbesar. Jangkauan awan panasnya juga cukup jauh, lebih dari 15 KM. Proses erupsi juga disertai dengan eksplosif yang besar. Sehingga berdampak membentuk kawah yang cukup dalam.

"Pada erupsi 2010, terbentuk kawah dengan lebar sekitar 350m x 400 m dan kedalaman 150 m. Pada letusan 1872 juga terjadi pembentukan kawah yang lebih dalam dari tahun 2010," terang Agus.

Setelah dibandingkan antara aktivitas pasca erupsi pada tahun 2010 dan 1872, ada kemiripan yang terjadi. Yakni letusan-letusan eksplosif yang tercatat dalam sejarah. Kemudian terjadi ekstrusi magma 11 tahun setelah erupsi 1872, yakni pada tahun 1883, dan ekstrusi magma terjadi 8 tahun setelah 2010, yakni pada 2018.

Berdasarkan pada persamaan kronologi yang terjadi tersebut. Agus menduga akan terjadi ekstrusi magma yang kedua seperti yang terjadi pasca erupsi tahun 1872. Hal ini disampaikan sebagai skenario aktivitas Gunung Merapi pasca tahun 2010.

Pada data pemantauan 2010 dan 2020, jaringan pemantauan sepuluh tahun lalu terdiri dari metode-metode standar pemantauan. Yakni seismik, geokimia dan visual. Perbedaan metode dulu dan sekarang hanya terletak pada metode GPS. Selain dilakukan survei regional dan periodik metode ini juga ada yang terpantau secara online.

"Ada beberapa gempa di Gunung Merapi, diantaranya yakni VTA dan VTB," imbuh Agus.

Selain itu, beberapa jenis gempa lainnya yang terjadi di Merapi antara lain gempa MP yang menunjukkan adanya gerakan magma yang terkendala. Selanjutnya yakni tipe gempa dengan frekuensi rendah, mencerminkan pergerakan fluida dan cenderung ke mekanisme fluetik, yakni gempa LF. Serta gempa RF yang menunjukkan terjadinya guguran batuan di wilayah Merapi.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait