facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Ternak Warga Pengungsi Lereng Merapi Dapatkan Terapi Anti Stres

Galih Priatmojo Selasa, 10 November 2020 | 13:17 WIB

Ternak Warga Pengungsi Lereng Merapi Dapatkan Terapi Anti Stres
Warga mengevakuasi hewan ternak ke hunian tetap di Pedukuhan Singular, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Senin (9/11/2020). - (SuaraJogja.id/Hiskia Andika)

Obat anti stress bagi sapi juga sudah diaplikasikan kepada pada ternak, sejak proses dievakuasi.

SuaraJogja.id - Ternak milik warga terdampak bencana erupsi Merapi yang telah dievakuasi, juga mendapatkan healing di pengungsian.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan (DP3) Sleman Heru Saptono menjelaskan, tidak menutup kemungkinan sapi yang berada di pengungsian juga rentan mengalami stress.

"Maka, kami sudah melibatkan dokter hewan untuk memberikan trauma healing sapi, multivitamin juga dikasih. Dan ada obatnya memang, supaya tidak stress," kata dia, Selasa (10/11/2020).

Obat anti stress bagi sapi juga sudah diaplikasikan kepada pada ternak, sejak proses dievakuasi.

Baca Juga: Duh, Tiga Pengungsi Merapi di Magelang Reaktif Covid-19

Bukan hanya upaya menjaga ternak dari stress, melainkan juga tenaga kesehatan ternak secara umum.

"Ada petugas kami dari Poskeswan Cangkringan dan ada juga relawan dari Persatuan Dokter Hewan Indonesia. Kami juga sudah menyiapkan obat-obatan untuk penyakit sapi, termasuk obat-obatan yang selama ini biasanya muncul, sudah kami siapkan," ucapnya.

Sembari itu, pihaknya juga mengajukan bantuan obat-obatan dari Kementerian Pertanian Dirjen Peternakan

Ditanyai soal penanganan sapi potong, DP3  juga sedang menyiapkan anggaran untuk dimasukkan dalam pos BPBD, untuk membuatkan kandang ternak.

"Kami sudah mengajukan RAB, nanti kalau itu sudah disetujui, kami langsung action kurang lebih 10 hari. Sejumlah 20 unit kandang ternak, untuk menampung 200 ekor ternak sapi potong," katq dia.

Baca Juga: Kisah Perjuangan Manda Belajar Online di Area Tambang Pasir Merapi

Sementara itu, bila pada Senin (9/11/2020) dari total 94 ekor sapi perah baru 36 ekor yang dievakuasi, maka kelanjutan evakuasi masih akan tetap dilanjutkan, sembari terus mengikuti  perkembangan situasi status kegunungapian.

"Menurut pemahaman saya masih ada waktu, apalagi status Merapi masih Siaga, belum Awas. Mudah-mudahan dalam waktu dekat segera bisa evakuasi, sehingga sebelum terjadi erupsi, semua ternak sudah bisa dievakuasi," terangnya.

Selain itu, pihaknya masih akan terus menyisir permukiman warga di sejumlah titik, untuk mengedukasi pentingnya upaya evakuasi ternak, agar 94 sapi bisa seluruhnya dievakuasi.

"Kalau kapasitas kandang yang ada, 120 cukup," terangnya.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Joko Supriyanto menyatakan, ternak produktif milik warga terdampak sudah dievakuasi ke Singlar sejak 9 November 2020.

Pertimbangan ternak produktif dievakuasi lebih dulu, karena kandang komunal yang sudah disiapkan di lokasi pengungsian ternak merupakan kandang yang sudah permanen, bagus dan dinilai laik untuk menampung ternak produktif.

"Karena kalau tidak laik, sapi tidak bisa menghasilkan susu. Sapi pedaging juga kami bangunkan kandang yang baik di lapangan," tandas Joko.

Kontributor : Uli Febriarni

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait