Kemudian, berkurangnya gairah dalam melakukan kegiatannya. Muncul juga perasaan tidak berdaya. Merasa tidak mampu untuk menyelesaikan tugasnya, dan merasa terperangkap. Terkuras secara emosi, sehingga orang itu merasa tidak sanggup menyelesaikan tugasnya. Perasaan negatif seperti cemas juga akan menggerogoti orang tersebut.
"Kemudian mudah putus asa," imbuh Putri.
Sikap sinis dan kecurigaan kepada orang lain, muncul sebagai dampak dari kelelahan mental. Cenderung melihat orang lain secara negatif dan bertingkah secara negatif juga. Ketika pendapatnya tidak didengar, ia menjadi lebih agresif dan tidak bisa menerima kritikan orang lain, bersikap masa bodoh dan menyakiti orang lain.
Ada beberapa penyebab seseorang yang mengalami burnout. Ketika seseorang memiliki keyakinan dan kegagalan itu disebabkan faktor dari luar dirinya, bukan karena dirinya sendiri. Ketika seseorang memiliki keyakinan ini, seseorang cenderung menjadi mudah menyerah ketika menghadapi situasi yang menekan karena merasa tidak memiliki kontrol terhadap suatu hal.
Baca Juga:Kesadaran Masyarakat Terhadap Kesehatan Mental di Indonesia
Orang dalam kurun usia 20 hingga 40 tahun cenderung mudah mengalami burnout. Seseorang ketika berada di usia yang matang cenderung memiliki emosi yang lebih matang juga. Namun jika berada di usia lebih muda, emosinya menjadi lebih tidak stabil dan kurangnya pengalaman memiliki kerentanan mengalami burnout.
Pada faktor eksternal, tidak jelasnya peran seseorang di tempat kerja dan adanya tumpang tindih tanggung jawab bisa memicu terjadinya burnout. Pekerjaan yang tertunda makin membuat seseorang mudah lelah dan mengalami burnout. Selain itu, lingkungan kerja juga memiliki peran penting.
"Kemudian terkait hubungan tidak harmonis, antara teman kerja," imbuh Putri.
Pola komunikasi berperan penting kepada kondisi seseorang yang mengalami burnout. Kemudian fasilitas penunjang dalam melakukan pekerjaan juga bisa menjadi faktor yang berpengaruh. Seseorang yang mengalami burnout akan menderita kelelahan fisik. Kesulitan tidur juga mungkin terjadi karena memikirkan pekerjaan.
Biasanya, seseorang yang mengalami stres cenderung mudah mengalami diare. Suasana hati juga menjadi lebih murung, lebih mudah sedih. Seseorang yang mengalami burnout tidak bisa mengenali apa yang dia rasakan. Secara kognitif, yang dipikirkan adalah perasaan tidak berdaya.
Baca Juga:Videografis: Manfaat Lari Bagi Kesehatan Mental di Masa Pandemi
Dampak dari burnout membuat seseorang menjadi lebih sering menghindar atau tidak masuk ke tempat kerja. Bahkan berganti-ganti pekerjaan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyadari terjadinya tanda-tanda yang disebutkan sebelumnya. Namun, Putri juga mengingatkan agar seseorang tidak mendiagnosa dirinya sendiri.