"Sekitar dua tahun belakangan ini banyak yang pindah ke wilayah Dusun Cebongan yang juga ada pepohonannya," ungkapnya.
Haryono menjelaskan bahwa konon, burung-burung kuntul itu sudah berdatangan sejak 1997 silam. Tepatnya setelah peresmian jalan kampung atau sekarang yang digunakam sebagao Desa Wisata Ketingan.
"Setelah penandatanganan prasasti pembangunan jalan oleh Sultan Hamengku Buwono X, burung-burung itu mulai berdatangan. Tapi hingga kini burung itu dilindungi dan tetap dilestarikan untuk keseimbangan alam,” tandasnya.
Sementara itu seorang warga Dusun Ketingan Yanto (74) mengaku tidak mengetahui darimana burung-burung kuntul itu datang. Namun yang pasti saat musim penghujan tiba burung-burung itu membuat sarang di pepohonan warga.
Baca Juga:Sleman: Tak Disiplin Isolasi Mandiri, 1 Pasien COVID-19 Bisa Tulari 5 Orang
"Iya mas, tiap musim penghujan datang langsung ke pepohonan. Sesekali juga turun ke halaman rumah," ujar Yanto.
Kendati sudah terbiasa dengan migrasi burung-burung kuntul tersebut, warga tetap mengeluh terkait dengan bau tak sedap yang dihasilkan oleh kotoran ratusan burung itu. Namun warga juga tidak bisa berbuat banyak karena tidak bisa lantas mengusir burung-burung tersebut.
"Kadang memang baunya sampai masuk rumah. Itu loh kalau pas bareng sama dengan hujan lebat, baunya menyengat,” ungkapnya.
Yanto menyebut bahwa warga yang tinggal di Dusun Ketingan selalu menerima kedatangan burung-burung itu. Menurutnya hal itu menjadi keunikan sendiri yang ada di wilayahnya dan harus dijaga keberadaannya.
Baca Juga:Kebakaran Hotel di Sleman, Hujan Bantu Pemadaman Api