Hingga bulan Desember, pemerintah baru bisa melakukan rapid antibody karena keterbatasan APBD. Sedangkan pada bulan Januari, pihaknya baru mulai melakukan rapid antigen. Dari situ diketahui ada 30 orang lebih yang terkonfirmasi positif Covid-19. Seperti dugaan awal, penyebab utamanya adalah pelaku perjalanan. Baik perantau yang pulang ke daerah dan orang-orang yang baru berkunjung ke luar daerah.
Ada dua tempat fasilitas kesehatan yang disediakan pemerintah sebagai tempat isolasi pasien. Ada sekitar 40 tempat tidur yang sudah dipersiapkan. Rencananya, pemerintah juga akan melakukan pengadaan 1000 alat Rapid Test Antigen untuk melakukan pengecekan di rumah sakit dan puskesmas. Terutama pasien rawat inap, sebelum menjalani perawatan bisa diketahui kondisinya.
"Membutuhkan kerjasama semua daerah, tidak mungkin Ngada bekerja seorang diri," terang Paulus.
Perlu ada satu regulasi yang bisa diterapkan secara bersama-sama. Penanganan Covid-19 ini juga perlu melihat kondisi setiap daerah. Sehingga peraturan perlu dibuat sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah. Namun, dari masing-masing itu bisa dicari satu regulasi yang bisa diterapkan oleh masing-masing pemangku wilayah dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Baca Juga:Pandemi Covid-19, Pemberian ASI Eksklusif Anak Indonesia Justru Meningkat
Ketua Tim Periset Pemberdayaan, Edukasi Dan Literasi Terkait Covid-19 Untuk Perubahan Perilaku Komunitas UI, Hadi Pratomo menjelaskan jika zona hijau adalah daerah paling bagus untuk mempersiapkan. Masyarakat yang tinggal di tempat tersebut seharusnya lebih siap menghadapi pandemi. Pendekatan yang dilakukan juga bukan hanya perintah namun digarap secara serius.
"Salah satu langkah yang akan kita lakukan adalah memvisualkan hal-hal yang tidak tampak," ujar Hadi.
Perubahan perilaku dinilai terjadi secara bertahap, untuk itu perlu dilakuka pendampingan oleh pihak berwajib. Masyarakat dinilai telah menerima informasi mengenai Covid-19 setiap hari dari berbagai media. Saat ini yang terjadi di tengah masyarakat justru dugaan keterkujatan budaya. Salah satunya karena virus yang menyerang tidak tampak langsung oleh mata.
Kedepannya, Hadi dan timnya tengah mengembangkan visualisasi virus untuk langkah edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Agar warga bisa menghadapinya sesuai dengan budaya yang berkembang di sekitarnya. Sebab ada norma-norma tertentu harus disesuaikan dengan penanganan Covid-19. Banyaknya musibah di berbagai daerah membuat Hadi prihatin karena dinilai bisa memperburuk situasi.
Baca Juga:Rocky Gerung Sebut Dungu Menko Airlangga Tak Jujur Pernah Positif Covid-19