Ari menyatakan candi-candi tersebut akan terlihat lebih indah saat nanti sudah selesai dipugar. Selain itu, hal itu juga akan menjadi kebanggan tersendiri bagi masyarakat setempat dan Indonesia dengan membuktikan bahwa nenek moyang bangsa sudah sangat maju dan tinggi nilai seninya sejak dahulu.
“Ini akan lebih bagus untuk promonya. Perlu dirutinkan nanti tentu saja setelah pandemi, berbagai festival yang latar belakangnya candi-candi ini, pasti sangat menarik dan bagus untuk promosi ke depan,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala BPCB DIY Zaimul Azzah menuturkan untuk cagar budaya yang terdapat di DIY memang secara umun terkonfirmasi di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Dua daerah itu notabene yang memang padat secara penduduk.
Zaimul mengakui bahwa memang terdapat kendala tersendiri dalam pengembangan dan pengelolaan cagar budaya yang ada atau baru ditemukan. Kendala itu perihal dengan pembebasan lahan warga di sekitar penemuan cagar budaya.
Baca Juga:Pulihkan Ekonomi, BNPB Dampingi UMKM Terdampak Bencana di DIY
"Biasanya sulit mencapai titik temu terkait harga tanah. Ketersediaan SDM khususnya juru pugar dan juru pelestari yang semakin hari semakin banyak yang memasuki usia pensiun juga jadi kendala lain. Ditambah lagi sementara belum bisa kita angkat lagi karena ada moratorium, tidak boleh juga angkat honorer atau profesional,” ujar Zaimul.