"Bentuk yang ada di masjid ini sebagai simbol untuk mengajarkan agama Islam tempo dulu. Karena dulu kalau mengajarkan Islam dengan dalil Qur'an dan hadist susah diterima tapi karena dengan simbol kaitannya animisme maka lebih mudah diterima," terangnya.
Kendati begitu berbagai macam simbol yang ada itu tetap diambil dari Qur'an dan hadist. Perkembangan zaman membuat bangunan masjid pun ikut berkembang.
Awalnya hanya bangunan sederhana lalu bertambah dengan keberadaan serambi hingga halaman masjid yang cukup luas. Sermabi masjid pun terus berkembang pesat termasuk pada tahun 1611 atau dalam era Sultan Agung.
Tidak hanya bagunan masjid atau gapura saja yang sudah berusia sangat tua. Namun bedug Masjid Gedhe Mataram Kotagede pun juga sudah berusia ratusan tahun.
Baca Juga:Kisah Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Sarat Nilai Sejarah dan Filosofis
Bedug itu dibuat oleh Sunan Kalijaga dengan memanfaatkan kayu dari pohon besar yang ditemuinya saat perjalanan melewati wilayah Kulon Progo.
Tertarik dengan kayu dari pohon tersebut Sunan Kalijaga akhirnya memutuskan untuk meminta untuk diantar guna membuat kerangka bedug.
"Kayunya [bedug] itu didapat saat Sunan Kalijaga mengembara dan lewat daerah Kulon Progo. Saat perjalanan lihat pohon besar yang diketahui milik Kyai Pringgit atau Nyai Brintik. Lalu akhirnya diminta untuk kayu tersebut diantar ke Mataram untuk dibuat kerangka bedug," tandasnya.
Bahkan kata Warisman, bedug tersebut lebih tua daripada serambi masjid itu sendiri. Selisih sedikit dengan usia pembangunan Masjid Gedhe Mataram Kotagede.
"Karena dulu tidak dicatat tahun-tahunnya sehingga usianya tidak jelas. Yang jelas setelah masjidnya ada baru tidak lama bedug itu ada. Ya sekitar 434 tahun," pungkasnya.
Baca Juga:Akun IG Gangster Jogja Resahkan Publik, Berhubungan dengan Klitih Kotagede?