alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kisah Ustaz Abu Dirikan Ponpes Tunarungu, Cetak Hafidz Pakai Bahasa Isyarat

Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana Rabu, 12 Mei 2021 | 08:46 WIB

Kisah Ustaz Abu Dirikan Ponpes Tunarungu, Cetak Hafidz Pakai Bahasa Isyarat
Ustaz Abu Kahfi bersama dengan beberapa santri yang masih berada di Pondok Pesantren Rumah Tahfidz Tunarungu Darul A’Shom yang berada di Dusun Kayen, Desa Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Selasa (11/5/2021). [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

Metode Ustaz Abu untuk mencetak hafidz Al-Quran bagi tunarungu menggunakan bahasa isyarat

"Memang awalnya saya bisa bahasa isyarat pun dari mereka [anak-anak tunarungu]. Akhirnya setelah sering berinteraksi kurang lebih sebulan kemudian sudah bisa bahasa isyarat. Bulan kedua saya sudah mengadakan pengajian rutin di rumah setiap minggu," ungkapnya.

Ustaz Abu mengatakan seiring berjalannya waktu ia mulai menyadari bahwa anak-anak tunarungu itu sudah masuk ke dalam usia dewasa. Sehingga muncul pemikiran, alangkah lebih baik jika anak-anak tunarungu di usia mudah sudah mendapat pendidikan agama itu lebih awal.

"Memang di sekolah-sekolah pun diajarkan kurikulum itu tapi tidak sampai ke mereka sebab bukan menggunakan bahasa isyarat. Terbatas sekali bisa dipahami," ujarnya.

Singkatnya, Ustaz Abu yang kebetulan sedang menghadiri banyak kegiatan di Yogyakarta dan Semarang mencetuskan ide untuk membuat pondok pesantren bagi anak-anak khusus tunarungu.

Baca Juga: Kisah Warga Lapas Cebongan Mencari Tuhan, 4 Bulan Mualaf Ingin Jadi Hafidz

Dengan mencari rumah kontrakan yang gunakan sebagai tempat ponpes tersebut, hingga akhirnya ada seorang teman yang meminjamkan rukonya di kawasan Bantul. Belum banyak memang saat itu santri yang tergabung dalam ponpes.

"Saya pakai [ruko itu] hingga enam bulan, dengan sudah ada 15 orang [yang tergabung dalam ponpes itu], dua orang perempuan dan 13 laki-laki," terangnya.

Disebutkan Ustaz Abu, semakin lama ternyata semakin banyak orang yang mengetahui tentang keberadaan ponpes tersebut. Hingga kemarin saat bulan ramadhan tiba banyak orang yang mencari tahu lebih lanjut.

"Alhamdulillah dari rentan waktu 1,5 tahun ini anak kami sudah 59 orang. Sekarang lagi liburan tersisa 9 orang yang masih di pondok. Ditambah masih ada 28 orang yang mendaftar baru. Sehingga jika dijumlahkan sudah sekitar 80an orang," jelasnya.

Semakin bertambahnya santri membuat tempat awal yang berada di Bantul juga semakin sesak. Maka dari itu diputuskan empat bulan yang lalu ponpes tersebut berpindah ke Sleman atau tempat yang sekarang ini ditempati.

Baca Juga: Disuntik Vaksin, Bupati Rembang Abdul Hafidz: Lebih Sakit Ditampar Istri

"Akhirnya ada kontrakan dua rumah di Sleman, dan berbuah dua rumah yang dihibahkan oleh sang pemilik rumah kontrakan untuk digunakan. Ada 3 rumah di sini [Depok] dan 1 di Kalasan itu untuk 13 tahun ke atas yang laki-laki," ucapnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait