alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Mengenang Bambang Purwoko, Pejuang Papua yang Sempat Jadi Wartawan Hingga Ditembak KKB

Galih Priatmojo Rabu, 14 Juli 2021 | 14:42 WIB

Mengenang Bambang Purwoko, Pejuang Papua yang Sempat Jadi Wartawan Hingga Ditembak KKB
Dosen UGM Bambang Purwoko ketika di Papua. [Kagama.co]

Bambang Purwoko dikenal punya dedikasi tinggi dalam pemerataan pendidikan di Papua.

SuaraJogja.id - Salah satu sosok yang punya perhatian tinggi terhadap masyarakat Papua, Bambang Purwoko wafat, Rabu (14/7/2021). Dosen Fisipol UGM tersebut mangkat setelah berjuang menghadapi paparan Covid-19 di RSUP Dr Sardjito.

Mengenang sosok Bambang Purwoko nyaris tak bisa dilepaskan dari hubungan intimnya dengan tanah Papua. Dedikasinya yang tinggi terutama di bidang pendidikan menjadikannya penghubung di kemudian hari bagi terciptanya program Guru Penggerak di daerah Terpencil kawasan Bumi Cendrawasih.

Dikutip dari Kagama.co, pria kelahiran Purwokerto 1961 silam tersebut merantau ke Jogja selepas lulus SMA. Mengendarai sepeda motor bersama kawannya dirinya mengikuti bimbingan belajar gratis dan bertekad kuliah di UGM atau IKIP Yogyakarta (sekarang UNY).

“Mengapa IKIP? Karena dari awal Saya bercita-cita jadi guru. Orang tua dan simbah guru semua. Dulu lulus SMP sudah ingin masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Tapi, orang tua menyarankan sekolah di SMA dulu, baru kuliah di IKIP,” ujar Bambang kala itu.

Baca Juga: Tambah Shelter Covid-19, UGM Ubah Wisma Kagama dan UC Hotel Jadi Tempat Isolasi

Kuliah dua jurusan

Begitu diterima di Jurusan Pendidikan Fisika IKIP pada 1980, dirinya semakin yakin bahwa menjadi guru sungguh menyenangkan. Namun, di saat yang sama Bambang mulai memiliki ketertarikan di bidang pemerintahan.

Dia kemudian mengikuti bimbingan belajar lagi, dan diterimalah Bambang di jurusan Ilmu Pemerintahan UGM pada tahun 1981.

Rasa senang sempat dirasakan Bambang kala itu, tetapi tidak bagi orang tuanya. Bambang kemudian bernegosiasi dengan orang tua dan akhirnya memutuskan untuk kuliah di dua jurusan.

”Yang berat itu kalau ujiannya bareng. Tapi untungnya bantuan dari teman-teman luar biasa. Sebelum ujian Saya dibriefing dulu sama mereka,” kenangnya.

Baca Juga: dr Lois Bilang Interaksi Obat Picu Kematian Pasien Covid-19, Ini Kata Pakar Farmasi UGM

Dosen Fisipol UGM Bambang Purwoko. [Kagama.co]
Dosen Fisipol UGM Bambang Purwoko. [Kagama.co]

Orang mungkin tak bisa membayangkan betapa beratnya mengikuti kuliah di dua jurusan.

Namun, tantangan ini berhasil dilalui Bambang, bahkan dia sempat aktif di organisasi mahasiswa.

Bambang aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps Mahasiswa Politik dan Pemerintahan (KOMAP).

Selain itu, di masa-masa terakhir kuliahnya di UGM, Bambang bekerja sebagai wartawan hingga menjadi redaktur di Koran Masa Kini tahun 1987.

Selepasnya menjadi redaktur, Bambang sempat mendapat tawaran untuk bekerja di BUMN.

Namun, karena salah seorang dosennya, Afan Gaffar memberinya amanah untuk mengabdi ke almamater, Bambang menolak tawaran tersebut dan memilih menjadi dosen UGM.

Menteri Sekretaris Negara Pratikno adalah salah satu senior Bambang yang juga ikut menyarankannya untuk mengemban amanah ini.

Menemukan cinta di Kampus Biru

Berkarier sebagai dosen menjadi kesempatan besar bagi Bambang untuk mewujudkan cita-citanya.

Semua orang terdekat Bambang mendukung, termasuk kekasihnya yang saat ini menjadi istrinya.

“Pacar Saya itu teman satu jurusan Saya di IKIP. Dia juga kuliah double bareng Saya, tapi di Fakultas Hukum. Kuliahnya sering bareng,” ujar Bapak tiga anak itu.

Singkat cerita tentang pertemuannya dengan sang istri.

Bambang bercerita, kekasihnya sudah beberapa kali menerima surat cinta dari pria lain, tetapi justru Bambang yang dipilih olehnya.

”Padahal waktu itu Saya dalam keadaan kurus, jerawatan, rambut gondrong. Nah, itu yang diketawain anak-anak Saya sampai sekarang,” ungkapnya.

Karena Bambang tahu banyak yang mengejar perempuan incarannya itu, dirinya langsung bergerak cepat.

Kala itu, Bambang langsung mendekati orang tuanya.

”Sampai di rumahnya diterima dengan baik sama orang tuanya. Orang tua Saya sendiri juga tahu, mereka mendukung dan langsung memberikan perhatian khusus kepada Bu Bambang,” jelasnya.

Selama kuliah di IKIP, kata Bambang, tidak satu hari pun Bambang tidak bersua dengan kekasihnya.

Bambang sengaja mengambil mata kuliah yang sama dengan kekasih, supaya lebih sering bertemu.

Jika jadwal kuliah berbeda, Bambang pun tak absen menunggunya di depan kelas.

Bambang dengan kekasihnya menjalin hubungan sejak tahun 1982 dan menikah pada tahun 1990.

Istrinya senantiasa menemani, bahkan ketika Bambang harus menempuh studi lanjut ke Australia, istrinya memilih untuk ikut bersama Bambang dan meninggalkan status PNS-nya.

Bagi Bambang ini pengorbanan istri yang luar biasa.

Jadi cleaning service

Kewajiban untuk menempuh studi lanjut pasca diangkat menjadi dosen ditunaikan oleh Bambang di Murdoch University, Australia tahun 1993.

Menempuh studi dan harus berpisah dengan keluarga berat bagi Bambang, sehingga dirinya memboyong keluarganya untuk ikut tinggal bersama.

Bagi Bambang, yang namanya keluarga harus selalu berkumpul.

“Ya berat saat itu, kuliah di sana dengan kemampuan bahasa inggris pas-pasan. Saya dan istri ambil kerja paruh waktu juga. Saya jadi cleaning service, istri kerja di restoran. Tapi, alhamdulillah Saya bertemu supervisor yang sangat baik. Akhirnya bisa selesai studi dengan segala dinamikanya dan memperoleh Graduate Diploma of Development Studies,” ungkap Bambang.

Sementara gelar masternya ia peroleh di University of Western Australia.

Tahun 1996 Bambang kembali lagi ke UGM untuk mengajar.

Diceritakan oleh Bambang, dirinya juga menjadi tenaga pendidik di Akademi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD) dan Universitas Muhammadiyah (UMY).

Di luar kesibukannya sebagai dosen, Bambang mendirikan full day school untuk Taman Kanak-kanak dan playgroup dengan konsep homey.

Bambang ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk lingkungan di sekitarnya dengan melakukan sesuatu mulai dari yang sederhana.

Interaksi pertama dengan Papua

Persinggungan Bambang dengan tanah Papua dimulai ketika melakukan penelitian mengenai Otonomi Daerah yang disponsori oleh pemerintah kala itu.

”Pada 1997 itu pertama kalinya Saya ke Sorong dan Jayapura dalam rangka penelitian proyek percontohan pelaksanaan otonomi daerah (otda), yang merupakan kerja sama Departemen dan Kemendagri untuk melihat sejauh mana implementasi otda di daerah percontohan itu bisa bekerja dengan baik,” ujarnya.

Pengalaman ini merupakan titik awal Bambang memulai interaksi dengan warga Papua hingga mempunyai program besar untuk Papua dengan membentuk Gugus Tugas Papua (GTP), dengan dibantu juga oleh Pusat Pengembang Kapasitas dan Kerja Sama (PPKK) FISIPOL UGM.

Dosen UGM Bambang Purwoko bersama para anak didiknya asal Papua. [Kagama.co]
Dosen UGM Bambang Purwoko bersama para anak didiknya asal Papua. [Kagama.co]

Program yang rutin dia gelar meliputi seminar, lokakarya, dan pendampingan pemerintah daerah Papua dan Papua Barat.

Selain itu, GTP juga rutin mengirim Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT) ke beberapa daerah di Papua antara lain Kabupaten Mappi, Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Puncak.

Pengiriman guru tersebut dilakukan sejak tahun 2013, hingga 2019 terhitung 400 an guru lebih telah dikirim untuk mengajar sekolah-sekolah di Papua.

Bambang juga terlibat dalam Percepatan Pembangunan Kabupaten Mappi, Grand Design Kesehatan Kabupaten Intan Jaya, serta Grand Design Penanaman Modal Kabupaten Intan Jaya.

Saat ini, program tersebut masih terus dikembangkan.

“Melakukan penguatan kapasitas SDM Pemda, mengirimkan guru-guru ke Papua bersama Tim GTP UGM, dan mengasuh anak-anak Papua untuk bersekolah dan hidup serumah dengan kami di Jogja adalah bagian dari komitmen Saya untuk terus mendorong kemajuan pendidikan bagi saudara-saudara kita di dan dari Papua,” kata Bambang.

Di samping itu, Bambang kini juga sedang fokus menyelesaikan disertasinya.

Tertembak di Intan Jaya

Dengan pengalamannya yang kuat di Papua, belakangan Bambang Purwoko dipercaya untuk bergabung dalam sebuah tim pencari fakta yakni Tim Gabungan Pencari Fakta Intan Jaya.

Tim ini dibentuk untuk melakukan investigas pascaterjadi insiden kekerasan dan penembakan pada 17-19 September 2020 di Kabupaten Intan Jaya yang menewaskan dua aparat dan seorang pendeta bernama Yereima Zanambani.

Pada Jumat (9/10/2020), Bambang Purwoko dan satu anggota TNI ditembak oleh kelompok separatis bersenjata (KSB) pada saat melakukan serangkaian investigasi di Intan Jaya. 

Kepala Penerangan (Kapen) Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, Kolonel Czi IGN Suriastawa, mengatakan kejadian tersebut terjadi pukul 15.30 WIT, tepatnya di daerah Kampung Mamba Bawah, Distrik Hipadita, Kabupaten Intan Jaya.

Anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Intan Jaya Bambang Purwoko, dievakuasi ke Jakarta, Sabtu (10/10/2020). [Dok. Tim TGPF Kemenko Polhukam]
Anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Intan Jaya Bambang Purwoko, dievakuasi ke Jakarta, Sabtu (10/10/2020). [Dok. Tim TGPF Kemenko Polhukam]

"Di daerah Kampung Mamba Bawah, Distrik Hipadita telah terjadi penghadangan oleh KSB terhadap rombongan TGPF saat kembali dari Distrik Hitadipa menuju ke Sugapa," kata Suriastawa dalam keterangannya.

Bambang pun berhasil dievakuasi sehari kemudian menggunakan helikopter Caracal TNI AU dari Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya pukul 07.00 WIB ke Timika. Dari sana, Bambang dipindahkan ke pesawat Boeing TNI AU menuju Jakarta.

Samadya menjalani hidup

Pria yang hobi mengoleksi kayu etnik ini selalu menikmati hidup dan tak pernah ambisius.

Satu prinsip yang menggambarkan diri Bambang, samadya, “Secukupnya, ora ngaya, mensyukuri semua nikmat yang kita dapat. Dengan syukur itu, kita bisa mendapatkan nikmat yang lebih barokah,” ujarnya.

Selama mengarungi hidup, Bambang berusaha untuk tidak menyakiti orang lain.

Dikatakan olehnya, apa yang bisa dia beri kepada orang lain, dia pasti memberikan.

”Berikan sebanyak-banyaknya, karena kita pasti akan mendapatkan berlipat-lipat dari apa yang kita berikan. Itu Saya praktikkan dan Saya membuktikan betul bahwa itu memang benar,” pungkas Bambang.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait