alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kemendikbud Ristek Tetapkan Tiga Warisan Budaya Tak Benda di Bantul, Apa Saja?

Eleonora PEW | Rahmat jiwandono Kamis, 11 November 2021 | 16:30 WIB

Kemendikbud Ristek Tetapkan Tiga Warisan Budaya Tak Benda di Bantul, Apa Saja?
Kepala Disbud Bantul Nugroho Eko Setyanto - (SuaraJogja.id/Rahmat Jiwandono)

Ketiga WBTb itu merupakan usulan dari Disbud.

SuaraJogja.id - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) menetapkan lemper sanden, gudeg manggar, dan tradisi Nyadran Agung Pasarean Makam Sewu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda (WBTb) Indonesia pada tahun ini.

Sebagai informasi, sejarah lemper sanden sangat terikat dengan tradisi Majemukan yang sudah ada di Sanden sebelum Islam masuk. Tradisi ini berhubungan dengan penyembahan Dewi Sri itu kemudian menjadi media ucapan rasa syukur yang diselenggarakan di masjid.

Dalam Majemukan, lemper jadi simbol kerekatan persaudaraan sekaligus tuntunan ajaran Islam tentang baik dan buruk manusia yang tidak terlepas dari hukum rukun iman dan rukun Islam. Selain itu, lempar juga memiliki filosofi yakni yen dilem ojo memper atau jangan tinggi hati ketika mendapat pujian.

Gudeg Manggar sendiri biasa ditemui di Kapanewon Srandakan, Sanden, Bambanglipuro, Pandak, Bantul, dan Pajangan. Ini adalah makanan khas dari Bumi Projotamansari. Gudeg Manggar menggunakan bahan baku manggar atau bunga kelapa.

Baca Juga: Bupati Bantul Soal Tawuran Geng Pelajar: Perlu Pembinaan Nalar

Manggar yang diambil biasanya nomor dua atau tiga di bawah manggar yang paling muda. Satu pohon kelapa yang masih subur hanya bisa mengahasilkan 3-5 buah manggar yang belum mekar.

Biasanya Gudeg Manggar disajikan dengan ayam kampung, sambel krecek, dan telur kukus.

Tradisi Nyadran Agung Pasarean Makam Sewu ini sudah ada sejak Panembahan Bodo yang merupakan murid dari Sunan Kalijaga. Kirab dimulai dari Desa Wijirejo, Kapanewon Pandak menuju Dusun Pedak lokasi Makam Sewu berada. Tradisi itu digelar menjelang datangnya Bulan Ramadan.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul Nugroho Eko Setyanto menjelaskan, ketiga WBTb itu merupakan usulan dari Disbud. Usulan itu berdasarkan hasil kajian yang sudah dilakukan.

"Kemudian hasil usulan itu kami sampaikan ke Disbud DIY," ujar dia kepada SuaraJogja.id, Kamis (11/11/2021).

Baca Juga: Soroti Upaya Polres Bantul Petakan Geng Pelajar, JPW: Harusnya sejak Lama Sudah Selesai

Lantas Disbud DIY memverifikasi yang hasilnya dilaporkan ke Kemendikbud Ristek. Pada tahun ini, jajarannya hanya mengusulkan tiga hal tersebut.

"Ketiganya alhamdulillah lolos dan ditetapkan sebagai WBTb," paparnya.

Ke depannya akan dikembangkan dan memanfaatkan. Jadi masyarakat yang ada kaitannya dengan ketiga WBTb itu bisa melestarikan dan mencintai.

"Ujungnya akan dikembangkan bagaimana bisa meningkatkan perekonomian masyarakat," katanya.

Sejauh ini jumlah WBTb yang ada di Bantul ada 21. Untuk tahun 2022, dia masih mengkaji apakah ada yang bisa diusulkan menjadi WBTb.

"Masih akan kami kaji. Proses pengkajian yang dilakukan meliputi sejarahnya, makanan, dan pemanfaatan. Yang jelas harus berumur sudah lebih dari satu generasi," katanya.

Artinya satu generasi ialah sudah dikembangkan sejak dahulu.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait