facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Djoko Pekik Pamerkan Lukisan 'Berburu Celeng Merapi' ke Omah Petroek, Apa Maknanya?

Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana Jum'at, 19 November 2021 | 15:05 WIB

Djoko Pekik Pamerkan Lukisan 'Berburu Celeng Merapi' ke Omah Petroek, Apa Maknanya?
Penyerahan lukisan terbaru Djoko Pekik kepada Romo Sindhunata di Omah Petroek, Karangklethak, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Jumat (19/11/2021). [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

Djoko Pekik pamerkan karya bertajuk Berburu Celeng Merapi

SuaraJogja.id - Maestro seniman lukis, Djoko Pekik hadir dengan karya terbarunya yang masih erat dengan salah satu hewan yang tengah ramai diperbincangkan yakni celeng. Lukisan yang bertajuk Berburu Celeng Merapi itu menggambarkan akhir dari perburuan celeng.  

Terlihat dalam lukisan yang tertuang dalam kanvas berukuran besar itu ada seekor celeng berwarna hitam yang sudah tergeletak. Di belakangnya ada tiga orang sudah menggengam tombak berwarna merah.

Tiga orang yang dilukiskan memakai caping itu mencoba menusuk celeng hitam itu. Dua tombak yang digunakan gagal menembus tubuh si celeng hanya satu tombak yang berhasil tertancap.

Penyerahan lukisan terbaru Djoko Pekik kepada Romo Sindhunata di Omah Petroek, Karangklethak, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Jumat (19/11/2021). [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]
Penyerahan lukisan terbaru Djoko Pekik kepada Romo Sindhunata di Omah Petroek, Karangklethak, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Jumat (19/11/2021). [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

Ada pula ratusan orang yang melihat celeng tersebut tertusuk tombak dengan berlatar belakang juga pemandangan Gunung Merapi. 

Baca Juga: Babak Baru Barisan Celeng Berjuang, Cegah Ganjar Pranowo Dijegal

"Ya celeng itu sudah dibunuh. Tahu to celeng itu celaka, hidupnya doyan apa saja, tidak punya kenyang terus makan perusak. Celeng adalah perusak, membabi buta tidak bisa menggok (belok), lurus kemauannya sendiri," kata Djoko Pekik ditemui di Omah Petroek, Jumat (19/11/2021).

Pekik menjelaskan bahwa karya terbarunya ini mewujudkan gambaran sosok raja yang lalim. Sehingga perburuan sosok itu oleh para warga tidak terelakkan.

Sosok itu dipresentasikan secara konsisten menjadi sebagai pribadi yang jahat. Pekik sendiri tidak memungkiri bahwa karya ini sebagai gambaran dari para penguasa baik pada masa dulu atau sekarang.

"Celeng dulu dan sekarang ya sama. Keturunannya semua ya celeng sama itu semua raja jahat, penguasa jahat semua, itu artinya," tegasnya.

Diakui Pekik, karya ini adalah permintaan dari penulis dan wartawan senior Romo Sindhunata. Terkhusus untuk menghadirkan celeng yang berada di Gunung Merapi.

Baca Juga: Kisruh Celeng dan Banteng, Rudy: PDIP Solo Tetap Solid untuk Memenangkan Pemilu 2024

"(Lukisan) celeng baru ini permintaan Romo Sindhu, celeng Merapi mbok dibunuh. Jadi Merapi enggak ada celeng, enggak ada raja celeng, aman. Itu permintaan," ungkapnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait