facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sejarah Idul Adha, Kisah Ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT

Pebriansyah Ariefana Senin, 13 Desember 2021 | 13:10 WIB

Sejarah Idul Adha, Kisah Ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT
Umat Islam melaksanakan shalat Idul Adha 1442 H di kawasan Pangkalan Pasir Kalibaru, Cilincing, Jakarta, Selasa (20/7/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Perayaan Idul Adha juga erat kaitannya sebagai bentuk peringatan saat Nabi Ibrahim AS merelakan putranya Ismail untuk dijadikan korban.

SuaraJogja.id - Idul Adha merupakan hari Raya umat Islam yang diperingati setiap tahun. Perayaan yang jatuh pada setiap tanggal 10 Bulan Dzulhijah ini diperingati dengan melakukan penyembelihan hewan ternak untuk dijadikan qurban, kemudian dibagikan kepada masyarakat yang kurang mampu. Berikut sejarah Idul Adha dan ketaatan Nabi Ibrahim ke Allah SWT.

Perayaan Idul Adha juga erat kaitannya sebagai bentuk peringatan saat Nabi Ibrahim AS merelakan putranya Ismail untuk dijadikan korban, yang kemudian Allah ganti dengan hewan domba.

Hari Raya Idul Fitri adalah moment terpenting bagi umat muslim, karena hari Idul Qurban tersebut memiliki makna bahwa pada hari itu Allah SWT memberikan kesempatan kepada umatnya untuk dapat mendekatkan diri kepadaNya dengan berqurban bagi yang mampu.

Lalu bagaimana sejarah dari Hari Raya yang disebut juga dengan Hari Raya Haji ini? Berikut kisahnya.

Baca Juga: Viral Daging Kurban Disimpan Berbulan-bulan, Alasannya Mengharukan

Ismail Sang Putra yang telah dinantikan 100 Tahun Lamanya

Pada saat usia Nabi Ibrahim AS memasuki 100 tahun, ia dan istrinya Siti Hajar akhirnya dikaruniai seorang putra yang telah mereka nantikan selama ini, ialah Ismail.

Nabi Ibrahim As begitu bahagia atas terkabulnya doa untuk meminta seorang putra.

Ismail tumbuh menjadi anak yang mulia dan penyabar.

Perintah Allah SWT melalui mimpi Nabi Ibrahim AS

Baca Juga: Ibu Simpan Daging Kurban Berbulan-Bulan, Alasannya Sukses Bikin Mewek

Ketika usia Ismail menginjak 14 tahun, pada suatu malam Nabi Ibrahim AS mendapatkan mimpi dalam tidurnya.

Allah SWT menguji keimanan dan keikhlasan Nabi Ibrahim melalui perintah di mimpi tersebut.

Ya, perintah untuk menyembelih putra kandungnya sendiri Ismail.

“ Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu”( Qur’an Surat Ash-Shaffat ayat 102 ).

Keikhlasan dari Ismail memantapkan hati Nabi Ibrahim AS

Mendengar penuturan mengenai isi dari mimpi beliau, Ismail justru berkata dengan tenang dan ikhlas bahwa dirinya menerima mimpi tersebut.

“Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kau akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar,”

Penetapan Hari Raya Idul Adha

Akhirnya pada tanggal 10 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS mulai melaksanakan perintah untuk menyembelih putranya tersebut. Ia pun membaringkan Ismail ke lantai.

Pada saat Nabi Ibrahim AS hendak akan menyembelih sang putra, sempat datang godaan dari setan agar ia mengurungkan niatnya.

Akan tetapi ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail lebih kuat kepada Allah SWT sehingga ia tak terpengaruh dengan bujuk rayu setan.

Nabi Ibrahim AS lalu melempar batu ke arah setan tersebut sembari mengucap “Bismillahi Allahu Akbar “.

Ini kemudian dikenal dengan istilah lempar jumrah dalam salah satu rangkaian ibadah Umrah.

Nabi Ibrahim AS beserta Ismail dan istrinya pun kemudian menuju ke tanah lapang dengan membawa sebilah pedang tajam yang diasah sangat tajam agar Ismail tak marasa kesakitan.

Nabi Ibrahim AS telah bersiap untuk menyembelih Ismail, saat itupula Allah SWT mengutus Malaikat Jibril untuk menukar Ismail dengan seekor hewan ternak untuk dijadikan Qurban.

“Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang orang yang berbuat baik,”(Surat Ash-Shaffat ayat 104 – 105).

Ismail pun ditukar dengan hewan ternak sebagai Qurban, dan peristiwa inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban.

Kini perayaan Hari Raya Idul Adha diperingati setiap tahun. Diawali dengan solat Idul Adha, kemudian dilanjutkan dengan penyembelihan hewan Qurban.

Berikut Tata Cara Pelaksanaan salat Idul Adha.

1. Membaca Niat

“Ushalli sunnata li ‘idil adha rak’ataini imaaman/makmuuman lillahi ta’ala”

Artinya :

“Aku berniat Shalat Sunnah Idul Adha dua rakaat ( menjadi imam/makmum ) karena Allah ta’ala.”

2. Takbiratul Ihram.

3. Membaca doa Iftitah.

4. Takbir sebanyak tujuh kali dan boleh mengangkat tangan ketika takbir.

5. Membaca Surat Al Fatihah.

6. Membaca Surat Pendek.

7. Ruku’ dengan tuma’ninah.

8. I’tidal dengan tuma’ninah.

9. Sujud dengan Tuma’ninah.

10. Duduk diantara dua sujud

11. Sujud kedua.

12. Bangkit dari sujud dan bertakbir.

13. Takbir sebanyak lima kali.

14. Membaca Surat Al Fatihah.

15. Membaca surat pendek.

16. Ruku’ dengan tuma’ninah.

17. I’tidal dengan tuma’ninah.

18. Sujud dengan Tuma’ninah.

19. Duduk diantara dua sujud.

20. Sujud kedua.

21. Duduk Tasyahud.

22. Salam.

Begitulah sejarah Idul Adha, semoga kita semua lebih bertakwa ke Allah SWT.

Kontributor : Jeffri Jeff

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait