alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Harga Minyak Goreng Melambung, Produsen Keripik Belut Tetap Pastikan Kualitas Terjaga

Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana Kamis, 13 Januari 2022 | 18:52 WIB

Harga Minyak Goreng Melambung, Produsen Keripik Belut Tetap Pastikan Kualitas Terjaga
Proses pembuatan keripik belut di Klaci II, Kalurahan Margoluwih, Seyegan, Sleman. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

Warti mengungkapkan pada saat kondisi normal, ia biasa membeli minyak goreng seharga Rp350.000 per jeriken dengan ukuran 18 liter.

SuaraJogja.id - Melambungnya harga minyak goreng di pasaran cukup dirasakan oleh masyarakat. Terlebih para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang bergerak di bidang kuliner harus memutar otak agar tetap bisa memperoleh keuntungan.

Seperti yang dilakukan produsen keripik belut di Klaci II, Kalurahan Margoluwih, Seyegan, Sleman, Wartiyem. Kenaikan harga minyak goreng ini membuatnya harus ekstra sabar dalam menjalankan usaha toko oleh-olehnya. 

Ia yang masih tertatih-tatih akibat pandemi Covid-19 yang belum usai. Harus rela usahanya diterpa kembali oleh kenaikan harga minyak goreng. Terpaksa, kata Wartiyem, ia menaikkan sedikit harga keripik belutnya agar tetap memperoleh untung.

"Ini sudah naik (harga keripiknya) tapi naiknya tidak begitu tinggi. Hanya sedikit saja, paling Rp. 3 ribu saja," kata perempuan yang akrab disapa Warti itu, Kamis (13/1/2022).

Baca Juga: Starting Line Up Arema FC Vs PSS Sleman, Teguh Amiruddin Gantikan Adilson Maringa

Warti mengaku memang tidak bisa lantas ikut menaikkan harga keripik belutnya lebih tinggi lagi. Mengingat kondisi saat ini yang dianggapnya masih dalam tahap merintis kembali di masa pandemi Covid-19. 

"Ini masih merintis kembali yang semula itu daya beli (masyarakat) memang hanya untuk yang penting-penting dulu. Sekarang sudah dibuka lah silaturohim, acara hajatan sudah ada itu lumayan ada kehidupan," ungkapnya. 

Warti mengungkapkan pada saat kondisi normal, ia biasa membeli minyak goreng seharga Rp350.000 per jeriken dengan ukuran 18 liter. Namun sekarang dalam beberapa waktu terakhir harga minyak dengan jenis yang biasa ia beli menjadi berkisar Rp480.000-Rp500.000 per jeriken.

"Kebetulan kami pakai minyak yang berkualitas minyaknya minyak kelapa apapun itu mereknya. Tergantung kita mau pakai yang mana. Tapi kualitas yang cocok itu kelapa," terangnya.

Pemilihan merek minyak goreng itu memang tidak sembarangan. Kualitas hasil akhir keripik belutnya yang membuat Warti tetap mempertahankan minyak goreng dengan merek yang sama meskipun harganya melambung.

Baca Juga: Penularan Minim dan Vaksinasi Tinggi, Mayoritas Kalurahan di Sleman Zona Hijau

Ditambah lagi, Warti juga sudah mulai memasarkan kembali produknya hingga keluar daerah. Termasuk dengan reseller-reseller yang ia miliki.

"Kenapa saya tetap milih minyak goreng merek ini (kelapa) karena saya banyak teman yang memasarkan di luar. Sehingga kualitas expirednya harus jauh lebih lama," jelasnya.

"Kan biasanya kalau minyak sawit yang kayak gitu maaf ya itu saya juga expired tidak terlalu lama. Kalau saya jualan mungkin langsung ke konsumen ya tapi kalau reseller kami kan pemasaran itu keluar sana," sambungnya.

Selain itu, kata Warti, pihaknya juga harus memperhatikan proses penggorengan belut itu sebelum akhirnya menjadi keripik. Setidaknya penggorengan harus dilakukan sebanyak 4 kali untuk hasil yang lebih maksimal dan kualitas terjaga.

"Di masa minyak mahal kayak gini saya juga nggak mau karena mahal terus ganti merek itu saya nggak suka. Artinya kita harus mulai dari awal lagi. Mending kita keuntungan sedikit tapi tetep kualitas kita terjaga, komitmen kita seperti itu," tegasnya.
 
Ditanya soal kebutuhan minyak goreng dalam produksi keripik belutnya ini, Warti menuturkan tetap menyesuaikan pasar. Sehingga ia tidak bisa memastikan kebutuhan minyak goreng per hari.

Namun, jika dihitung per satu bulan kebutuhan itu diperkirakan bisa mencapai 50 jeriken. Dengan juga memperhitungkan tanggal merah atau libur di kalender karena berpotensi ada peningkatan kebutuhan.

"Jadi kalau ditanya per hari habis berapa nggak bisa jawab. Mungkin kalau satu bulan itu habisnya 50 jeriken tapi ya naik turun di masa-masa ini ya," tuturnya. 

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait