"Kenapa saya tetap milih minyak goreng merek ini (kelapa) karena saya banyak teman yang memasarkan di luar. Sehingga kualitas expirednya harus jauh lebih lama," jelasnya.
"Kan biasanya kalau minyak sawit yang kayak gitu maaf ya itu saya juga expired tidak terlalu lama. Kalau saya jualan mungkin langsung ke konsumen ya tapi kalau reseller kami kan pemasaran itu keluar sana," sambungnya.
Selain itu, kata Warti, pihaknya juga harus memperhatikan proses penggorengan belut itu sebelum akhirnya menjadi keripik. Setidaknya penggorengan harus dilakukan sebanyak 4 kali untuk hasil yang lebih maksimal dan kualitas terjaga.
"Di masa minyak mahal kayak gini saya juga nggak mau karena mahal terus ganti merek itu saya nggak suka. Artinya kita harus mulai dari awal lagi. Mending kita keuntungan sedikit tapi tetep kualitas kita terjaga, komitmen kita seperti itu," tegasnya.
Ditanya soal kebutuhan minyak goreng dalam produksi keripik belutnya ini, Warti menuturkan tetap menyesuaikan pasar. Sehingga ia tidak bisa memastikan kebutuhan minyak goreng per hari.
Baca Juga:Starting Line Up Arema FC Vs PSS Sleman, Teguh Amiruddin Gantikan Adilson Maringa
Namun, jika dihitung per satu bulan kebutuhan itu diperkirakan bisa mencapai 50 jeriken. Dengan juga memperhitungkan tanggal merah atau libur di kalender karena berpotensi ada peningkatan kebutuhan.
"Jadi kalau ditanya per hari habis berapa nggak bisa jawab. Mungkin kalau satu bulan itu habisnya 50 jeriken tapi ya naik turun di masa-masa ini ya," tuturnya.