facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Soroti Perusakan Mobil di Bantul, Sosiolog UGM: Perilaku kolektif Ini Muncul Akibat Teresonansi dari Teriakan

Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana Sabtu, 29 Januari 2022 | 15:49 WIB

Soroti Perusakan Mobil di Bantul, Sosiolog UGM: Perilaku kolektif Ini Muncul Akibat Teresonansi dari Teriakan
Mobil Mercedes Benz yang rusak akibat diamuk massa di Tamantirto, Kasihan, Bantul pada Kamis (27/1/2022) sore. (SuaraJogja.id/HO-Polsek Kasihan)

aksi main hakim sendiri merujuk perisitiwa perusakan mobil di Bantul bukan merupakan hal baru di Indonesia

SuaraJogja.id -  Belum lama ini ramai di media sosial sebuah mobil merek Mercedes Benz tipe E260 yang dirusak oleh sejumlah orang pada Kamis (27/1/2022) sore. Peristiwa yang diketahui terjadi di Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul itu ditengarai berawal dari cekcok antara pengemudi mobil dan tukang parkir.

Fenomena main hakim sendiri oleh masyarakat di Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya juga ada kejadian di Jakarta, seorang kakek yang tewas akibat dikeroyok massa karena salah tuduh.

Menanggapi fenomena tersebut Sosiolog Kriminalitas UGM Suprapto menuturkan bahwa situasi yang kerap ditemui itu secara teori dinamakan sebagai collective behavior atau perilaku kolektif. Perilaku kolektif ini muncul biasanya akibat teresonansi dari teriakan.

"Dalam sebuah situasi di dalam kerumunan secara teoretik itu memang sangat sensitif untuk terjadi apa yang dikatakan collective behavior. Jadi satu perilaku kolektif yang muncul teresonansi karena teriakan," kata Suprapto saat dihubungi awak media, Sabtu (29/1/2022).

Baca Juga: Kriminolog UGM Beberkan 3 Faktor Generasi Muda Terjebak Dalam Pekerjaan Pinjol Ilegal

Sehingga memang, kata Suprapto teriakan maling atau semacamnya itu yang kemudian menjadi awal pemicu tindakan beringas massa tersebut terjadi. Bukan tidak mungkin jika teriakan itu tidak ada maka pengeroyokan atau perusakan itu juga tidak terjadi.

"Jadi teriakan maling, teriakan keroyokan misalnya orang kemudian secara spontan itu melakukan tindakan-tindakan itu. Sehingga sebetulnya yang menjadi awal-awal kemudian terjadi perusakan itu peneriak maling itu. Kalau misalnya tidak teriak maling mungkin masyarakat menjadi tidak beringas karena lalu dikiranya mobil yang dibawa itu mobil curian atau orang yang lari itu adalah pencuri," paparnya. 

Ia menyebut masyarakat dan pelaku juga perlu memahami bahwa segala tindakan dalam bentuk main hakim sendiri atau anarkis tidak dapat dibenarkan. Walaupun memang kemudian ada pihak yang melakukan kesalahan.

"Saya tidak dapat berita lengkap. Apakah pelakunya juga sempat dipukuli atau tidak tetapi merusak itupun juga sudah jelas merusak barang orang lain itu tidak dibenarkan," ucapnya.

Suprapto tidak memungkiri bahwa hingga saat ini tindakan main hakim sendiri oleh masyarakat di Indonesia masih sering terjadi. Pemicunya teriakan maling tadi dan orang cenderung untuk melakukan tindakan anarkis atau main hakim sendiri khususnya ketika mereka merasa dirinya kuat. 

Baca Juga: Keberadaan Pabrik Obat Terlarang di DIY Baru Terungkap, Ini Dugaan Kriminolog UGM

"Jadi di dalam sebuah kerumunan massa yang terkumpul secara spontan di tempat yang sama itu ada yang diteriakin maling. Maka kemudian secara spontan mungkin tadinya waktu itu niatnya nolong. Memang tadinya waktu itunya niatnya nolong," ujarnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait