"Kalau bisa budaya Yogyakarta juga bisa tertransfer ke wisatawan yang berkunjung. Logikanya pengunjung yang ke Malioboro itu kan 78 persen orang luar," tutur Herry.
Masalah penentuan lokasi PKL atau pertokoan, menurut dia, hanya sekadar berkaitan dengan manajemen. Paling penting, menurutnya, penataan harus berdasar pada konsep Malioboro untuk semua.
"Yang penting adalah konsep Malioboro untuk semua, bahkan tidak hanya bicara untuk perdagangan, tapi juga seni dan budaya bisa tampil di situ. Itulah fondasi dari semua penataan itu," kata dia.
Sebelumnya, Kepala Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM Prof Janianton Damanik berharap kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta pasca relokasi PKL tidak berubah wujud seperti kawasan jalur pedestrian di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat yang dihiasi gedung-gedung pencakar langit di sisi kanan dan kiri.
Baca Juga:PKL Malioboro Pindah ke Teras Malioboro
Ia juga meminta Pemda DIY tetap menjamin daya jual dagangan PKL Malioboro di Teras Malioboro 1 maupun Teras Malioboro 2 dengan mengoptimalkan strategi promosi.
Pemda DIY, menurut Janianton, bisa mencontoh penataan sentra pedagang burung di Belgia. Kendati direlokasi di tempat yang baru, wisatawan tetap berminat mencarinya lantaran narasi promosi yang dibangun dengan diksi yang tepat.