"Yang bisa membuat itu saya dan satu bawahan ibu saya. Ketika kami tiada ya tidak jualan lagi. Cucu dari keluarga kami juga memilih kerja di kantor. Yang berjualan seperti ini belum ada," kata dia.
Retno masih ingin kudapan manis ini bertahan terus meski zaman berganti. Makanan ringan yang sudah menjadi khas di Kauman terutama Jogja itu harus tetap dilestarikan.
"Yang jelas kita semua berharap ini bisa diteruskan ke depan. Saat ini saya masih kuat dan terus berjualan dulu saja," katanya.
Dalam sehari, selama pandemi Covid-19 ini Retno hanya memproduksi sebanyak 6 kilogram. Jumlah itu menurun seiring sebaran Covid-19 yang marak terjadi dua tahun lalu.
Baca Juga:Masjid Kauman Semarang Dipadati Ratusan Jemaah Setiap Ramadhan yang Mengikuti Semaan Alquran
"Kalau sebelum pandemi kan bisa sampai 10 kilogram. Sekarang berkurang karena tidak dijual di Pasar Sore," kata wanita 63 tahun itu.
Meski tak ada Pasar Sore atau Pasar Tiban yang menjual takjil untuk berbuka puasa, dirinya tetap menerima pesanan. Biasanya pembeli adalah pelanggan yang sudah biasa membeli ketika ada Pasar Tiban.
Hasil penjualan Kicak saat ini tentu menurun. Namun bagi Retno kudapan yang sudah menjadi kekhasan Kauman ini akan tetap dia lestarikan.
"Ini terus kami jual karena banyak warga luar Kota Jogja yang biasa memesan. Bahkan kami juga mengirim ke Jakarta. Dijual saat Ramadhan memang sudah khas. Maka dari itu selama masih punya tenaga, saya tetap menjual," kata dia.
Baca Juga:Gelar Tarawih Pertama, Masjid Gedhe Kauman Buat Sekat Antara Warga dan Jemaah Luar