"Untuk model Bargus bisa tujuh sampai delapan peci per harinya. Bahan baku yang kami gunakan adalah kain strimin impor dari Jepang. Selanjutnya benang nylon, pitrit, hingga tempurung kelapa yang dipasang sebagai hiasan di atas peci rajut aceh," ujarnya.
Husni memasarkan produknya ke sekitar DIY dan Jawa Tengah. Sementara untuk yang di luar Pulau Jawa yakni di Kalimantan serta Sumatra.
"Kalau penjualan kami pakai metode online dan offline dengan memanfaatkan jaringan pondok pesantren," katanya.
Sejauh ini, peminat peci rajut aceh paling banyak dari Jawa Tengah, Jambi, Kalimantan, bahkan sampai ke Thailand.
Baca Juga:Sempat Vakum Akibat Pandemi, Pengrajin Gerabah Kasongan Kembali Ekspor ke Mancanegara
Harga jual pecinya sendiri mulai Rp15.000 untuk tipe kopiah, Rp20.000 sampai Rp30.000 untuk peci rajut lipat. Untuk peci Aceh Rp35.000-Rp40.000.
"Peci Taliban yang juta termasuk peci lipat harganya Rp25.000-Rp30.000. Peci Bargus Rp60.000 ribu karena ini produk terbaru," ujarnya.